Senin, 11 Mei 2026

Citizen Reporter

Belajar dari Kampanye Lingkungan ala Mahasiswa Oberlin

Pengalaman ini membuat saya bersyukur terlahir dan besar dilingkungan yang mengajarkan tentang buruknya kesia-siaan (mubazir)

Tayang:
Editor: Amirullah
DOK.PRIBADI
Rizana Rosemary 

Hasil survey sungguh menarik. Beberapa mahasiswa mulai meminta porsi makanan yang lebih sedikit dikantin. Data dari CDS juga mendukung perubahan tersebut. CDS melaporkan telah terjadi pengurangan berat timbangan sisa makanan yang dibuang mahasiswa sejak kampanye diterapkan.

Kampanye ini memang tidak bisa disimpulkan telah berhasil 100%. Perlu kampanye lanjutan dan evaluasi menyeluruh akan hasil kampanye. Tapi bagi saya, proses kegiatan kampanye ini merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Bukan hanya karena metode pembelajaran partisipatif yang diterapkan, tapi lebih kepada isu dan substansi kampanye yang dipilih. Melakukan suatu inovasi kampanye dalam rangka merubah sikap dan perilaku seseorang, bukanlah perkara mudah. Apalagi melakukan upaya perubahan dan perbaikan terhadap perilaku yang dilakukan sebagai hal lumrah atau normal. Terutama perilaku yang didasarkan pada kurangnya pengetahuan. Seperti pengetahuan tentang bagaimana timbunan sisa/sampah makanan ternyata mempunyai dampak besar terhadap lingkungan, salah satunya efek rumah kaca. Maupun non-lingkungan seperti aspek ketidakadilan. Disaat 1/3 dari makanan di dunia terbuang sia-sia, maka sebenarnya masih ada 870 juta jiwa diberbagai belahan bumi yang hidup dalam kelaparan setiap harinya.

Pengalaman ini membuat saya bersyukur terlahir dan besar dilingkungan yang mengajarkan tentang buruknya kesia-siaan (mubazir). Islam dan budaya Aceh sangat jelas menekankan pentingnya menghindari kemubaziran. Namun sangat disayangkan, praktik dari tradisi dan budaya Aceh seperti meugang, iftar, kenduri maulid, kenduri pernikahan hingga kematian, terkadang tidak terlepas dari kegiatan pemubaziran.

Namun saya optimis perilaku tersebut akan berubah seiring bertambahnya pemahaman masyarakat Aceh tentang besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh buangan sisa makanan yang tidak terproses khususnya terhadap lingkungan. Gerakan ‘kurangi kemubaziran makanan’ perlu digalakkan. Selain itu, perlu ada solusi maksimal bagi pengelolaan sisa makanan masyarakat yang tidak terpakai.

Bukan sekadar dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA). Tapi dengan melibatkan potensi petani dan peternak dalam memanfaatkan sisa makanan tak terpakai tersebut. Contohnya secara sederhana memberdayakan mereka dalam mengolah sisa makanan menjadi kompos alami untuk kegiatan pertanian, atau mengolahnya menjadi pakan ternak untuk usaha peternakan. Semoga dapat menjadi wujud konkret bagaimana masyarakat Aceh berdamai dengan alam dan lingkungannya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved