Belajar Syukur dari Anak Berkebutuhan Khusus

KAKI-KAKI kecil milik para bocah itu berlari-lari di pekarangan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Aceh

Belajar Syukur dari Anak Berkebutuhan Khusus
Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Hj Niazah A Hamid saat berkunjung ke YPAC Aceh di Meunasah Manyang, Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (6/5). SERAMBI/ NURUL HAYATI 

KAKI-KAKI kecil milik para bocah itu berlari-lari di pekarangan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Aceh. Seorang guru dengan sigap menertibkan para bocah berseragam sekolah dengan menggunakan bahasa isyarat.

Hari itu Rabu (6/5) menjadi hari tak biasa bagi 100-an penghuni yayasan tersebut. Pasalnya tempat yang resmi beroperasi sejak 1991 itu kedatangan Ketua Penggerak PKK Aceh yang juga istri dari orang nomor satu di provinsi ini, Hj Niazah A Hamid. Kedatangannya yang membawa serta bantuan berupa perangkat shalat, sembako, hingga alat peraga disambut hangat.

Penyandang disabilitas itu memang mempunyai dunianya sendiri. Hal ini menjadikan kesabaran sebagai harga mati yang tak bisa ditawar. Maka tak heran tatkala acara serah terima bantuan yang turut dihadiri Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Aceh, Alhudri, berlangsung celotehan dan tingkah polah para Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) itu tak pelak membuat kewalahan.

Namun bukan guru SLB namanya kalau mereka tak bisa mengakrabi dunia ABK. Para guru dan pengurus yayasan juga patut berbangga hati karena bisa memberikan cinderamata hasil keterampilan tangan anak didiknya. Ya, kekurangan selalu datang satu paket dengan kelebihan. “Saya siap membantu apa-apa yang diperlukan,” janji Niazah di hadapan murid dan para pengurus yayasan.

Senyum ceria membayang di wajah para bocah yang duduk di bangku SD, SMP, dan SMA yang dinaungi YPAC Aceh saat sesi foto bersama. Mereka mungkin tak sepenuhnya paham apa yang sedang berlangsung, namun keceriaan khas anak-anak telah mengalirkan energi baru bagi siapa saja yang hadir. Keterbatasan fisik tak membuat mereka hilang semangat dan menjadi alasan kuat bagi manusia yang dianugerahi fisik normal untuk belajar bersyukur. Di tempat ini, di tengah-tengah anak anak yang tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, tuna grahita hingga autis menyadarkan bahwa kita sungguh tak punya alasan untuk mengeluh.

Didampingi Ketua YPAC Aceh, Drs Bachtiar MM serta para pembina yayasan, berkeliling Umi, panggilan akrab Niazah mendatangi kelas untuk melihat langsung proses belajar mengajar. Saat ini tercatat 130 murid yang belajar di tempat itu. Ruang kelas berukuran kecil saja dan dihuni oleh 3-7 murid, sesuai dengan cacat fisik yang mereka derita. Mereka tidak hanya berasal dari Aceh Besar dan Banda Aceh, tapi juga dari berbagai pelosok Aceh. Tak heran mengingat tempat ini menjadi satu-satunya yayasan yang mendedikasikan diri bagi ABK. 18 murid perempuan dari luar Banda Aceh dan Aceh besar ditampung di asrama yang terletak satu atap dengan ruang kelas. Sementara ‘adik’ mereka yang masih TK masih menghuni gedung sekolah lama di Kampung Keuramat, Banda Aceh. Kini para alumni YPAC Aceh yang memang dibekali keterampilan telah banyak yang menjadi montir, pekerja tata boga, tata busana, pekerja salon, hingga atlit catur berkelas nasional.

“Pengalaman paling mengesankan yaitu ketika tsunami di Aceh tujuh murid kami yang notabenenya ABK berlari spontan menyelamatkan diri ke lantai 2. Sebagian dari mereka malah menggendong kawannya yang menderita tuna daksa,” ujar Bachtiar mengenang.

Angin segar kepedulian terhadap ABK sampai juga gemanya ke Aceh melalui sepucuk surat YPAC pusat pada 1976 silam. Bertempat di Lampineung, pembukaan Sekolah Luar Biasa (SLB) lantas dilakukan pada 1981 melalui kerjasama dengan Kanwil Depdikbud dan Dinas PK Banda Aceh dengan jumlah murid perdana 19 orang. Kemudian YPAC mendapat tanah hibah di Lamjabat, namun itu tak berlangsung lama dan akhirnya 1991 akhirnya karena sengketa lahan YPAC pindah ke Gampong Keuramat. Saat ini tercatat 42 guru yang bernaung di bawah YAPC Aceh.

Sa’adah (49) guru jebolan Sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa (SPGLB) Surakarta (sekarang bernama Solo) mengaku sabar menjadi modal utama menghadapi ABK. Guru kelas 1 jurusan B (tuna rungu dan tuna wicara) yang mempunyai tujuh murid ini mengaku memang pecinta anak-anak. Bahkan perempuan separuh baya yang sudah menjadi guru selama 24 tahun ini mengaku ogah jika dipindahkan ke sekolah regular. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, anak berkebutuhan khusus tersebut telah memikat hatinya.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved