Senin, 11 Mei 2026

Opini

Muslim Itu Bersaudara

CERITA penderitaan muslim Rohingya bukanlah perkara baru, hal ini telah terjadi sejak puluhan tahun silam

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Amiruddin

CERITA penderitaan muslim Rohingya bukanlah perkara baru, hal ini telah terjadi sejak puluhan tahun silam. Etnis Rohingya adalah penduduk Muslim yang berjumlah sekitar 1,3 juta jiwa berdomisili di provinsi Rakhine, Myanmar (Burma), yang tidak diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah setempat. Junta militer Myanmar dan organisasi ekstremis nasionalis Buddhis dilaporkan telah membumi-hanguskan pemukiman warga Rohingya. Mereka dikejar, diusir dan dibunuh serta harta-benda miliknya dirampas oleh kelompok Buddhis yang dikomandoi oleh para biksu ekstrem itu.

Akibatnya, warga Rohingya yang masih tertinggal kini hidupnya dalam ketakutan. Mereka terpaksa mengungsi, meninggalkan tanah kelahirannya melalui jalur laut, menuju negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Indonesia. Namun tak jarang setelah tiba di pantai negara tetangga tersebut, mereka ditolak masuk dengan mengusirnya kembali ke laut lepas. Kehidupan mereka di laut dengan kekurangan makanan, minuman membuat tubuh mereka kekurangan gizi menjadi bukti bahwa mereka butuh belas-kasihan sesama muslim.

Kini harapan mereka hanya pada saudaranya yang Muslim, sebagaimana sejarah hijrah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw di awal permulaan Islam dulu, di jazirah Arab. Ketika kaum Muslimin di Mekkah mendapat berbagai ancaman dari kaum Musyrikin, Nabi Muhammad mendorong orang-orang yang baru masuk Islam untuk menjalin persaudaraan dan bersatu. Di Madinah, Rasulullah juga mempersatukan kaum Muslimin Muhajirin dan Ansar dalam sebuah ikatan persaudaraan. Beliau sebagai panutan bagi masyarakat, memposisikan Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya. Perilaku beliau itu kemudian diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar.

Sejak permulaan Islam, menjaga persatuan telah menumbuhkan integrasi dan kekompakan di antara kaum Muslimin dan mereka mampu mencapai kemenangan dalam menghadapi musuh yang jumlahnya sangat banyak. Dalam al-Quran surat Al-i-Imran ayat 103, Allah Swt berfirman, “Berpegang teguhlah kamu dengan tali Allah kesemuanya dan janganlah kamu berpecah-belah, serta ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu bermusuh-musuhan, maka dirukunkan-Nya di antara hatimu, lalu jadilah kamu berkat nikmat-Nya bersaudara, padahal kamu telah berada di pinggir jurang neraka, lalu diselamatkan-Nya kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya supaya kamu memperoleh petunjuk”.

Pentingnya bersaudara
Pentingnya persaudaraan tercermin dalam sabda Nabi Muhammad saw: “Tidak ada perbuatan yang aku sukai selain tiga perkara: mengenyangkan Muslim yang lapar dan membayar hutang-hutangnya serta menghilangkan kesedihan yang tampak di wajahnya; barang siapa menghilangkan kesedihan seorang mukmin, Allah SWT akan menghapus kesedihannya di hari kebangkitan, dan Allah Swt akan membantu hambanya selama ia membantu saudaranya.”

Umat Islam yang berilmu selalu berusaha menemukan solusi untuk saling menguatkan persaudaraan. Penguatan iman adalah satu faktor penting untuk menciptakan persaudaraan di antara umat Islam. Iman adalah cahaya yang menerangi jalan dan tujuan manusia, sementara tidak beriman adalah sebuah kegelapan. Orang yang berada di kegelapan tidak akan pernah melihat jalan dan juga tidak mengetahui tujuannya. Alquran menjelaskan hakikat bahwa iman adalah sumber persatuan, sementara tidak beriman merupakan sumber perpecahan.

Persahabatan umat Islam dan saling membantu di antara mereka adalah faktor lain untuk menumbuhkan persaudaraan. Allah Swt berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29). Dengan demikian, persahabatan adalah satu karakter orang-orang yang beriman.

Imam Jafar Shadiq berkata: “Di antara hak mukmin atas mukmin yang lain adalah membangun persahabatan internal dan memberikan bantuan finansial.” Beliau menegaskan pentingnya persahabatan dan bantuan finansial di antara kaum Muslimin. Terkadang beliau menganggap bantuan finansial sebagai tanda kesempurnaan iman dan mengabaikannya sebagai tanda keluar dari wilayah Tuhan dan berkhianat kepada-Nya, Rasul-Nya dan masyarakat mukmin. Rasulullah bersabda: “Tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara saudara seimannya dalam kondisi kelaparan.”

Manusia adalah makhluk sosial. Namun sifat sosial itu tentunya bukan berarti manusia hanya hidup bersama di sebuah wilayah dan memanfaatkan lingkungan secara bersama-sama serta tidak ada hubungan pemikiran dan spiritual. Sebab, jika kehidupan sosial dan pembentukan masyarakat dimaknai seperti itu, maka pepohonan yang tumbuh di dalam satu kebun dan hewan yang hidup dalam satu padang pasir, termasuk ke dalam definisi kehidupan sosial seperti manusia.

Untuk kelangsungan kehidupan sosialnya, sebuah komunitas terpaksa menjalin hubungan bilateral dan multilateral dengan masyarakat lainnya. Dalam kehidupan sosial, setiap orang akan menerima imbalan atas pelayanan yang telah ia berikan kepada orang lain dan sebaliknya. Konsep pemikiran Islam tentang persaudaraan dan saudara seiman teraktualisasi dengan sempurna di tengah masyarakat dan kehidupan sosial. Semua anggota masyarakat dianggap sebagai satu tubuh; jika salah satunya terkena musibah maka anggota masyarakat lainnya tidak berdiam diri dan membiarkannya.

Sangat memprihatinkan
Hari ini kondisi Muslim Rohingya sangat memprihatinkan, mereka butuh bantuan walau sesuap nasi dan seteguk air. Penyakit pun kini mulai menyerang mereka. Mereka butuh pakaian untuk menutup aurtanya dan masih banyak lagi yang mereka dambakan dari saudara Muslimnya. Seorang nelayan yang miskin saja berani membatu ratusan Muslim Rohingya mendarat di tanah Serambi Mekkah, ia tak khawatir harus memberi apa kepada pengungsi Internasional ini.

Harapan kita terhadap pemerintah Indonesia, pemerintah Aceh khususnya, anda ini punya power, punya sejuta kebijakan yang dapat dilakukan, jangan sampai berkata kami kekurangan sumber makanan sehingga tak dapat membantu mereka, jangan berkata kami banyak pengangguran sehingga khawatir mereka akan mencuri mata pencarian rakyat sebagaimana dilontarkan pemerintah Thailand. Tapi katakanlah, atas dasar Tauhid yang sama, berlandaskan syariat Islam kaffah di Aceh, maka bantulah mereka semampumu.

Yakinlah, Allah telah menjamin rezeki seorang hamba. Burung yang kaluar sarang dengan keadaan lapar pun akan kembali dengan perut kenyang. Allah tak akan inkar janji, hari ini Aceh membantu mereka, maka Allah akan membantu Aceh dalam berbagai usahanya. Bisa jadi Allah memuluskan persoalan negosiasi Aceh dengan Jakarta. Maka tanamkanlah keyakinan kepada Allah, suburkanlah semangat membantu sesama Muslim dan tingkatkan spirit bersedekah. Amin ya Rabbal’alamin.

* Amiruddin, S.HI., Ketua Umum Dayah Darul ‘Ulum Abu Lueng Ie, dan staf TPQ Al-Usrah MIN Merduati, Banda Aceh. Email: abu.teuming01@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved