Kamis, 23 April 2026

Opini

Pengkhianat, ‘Pungo’ dan Sesat

BEBERAPA hari terakhir, hampir di semua sudut Aceh diramaikan dengan kata “pengkhianat”

Editor: bakri

Oleh Nyak Arief Fadhillah Syah

BEBERAPA hari terakhir, hampir di semua sudut Aceh diramaikan dengan kata “pengkhianat”, “pungo” dan “sesat”. Beragam komentar tidak hanya menghangatkan media sosial, melainkan menjadi perbincangan dan candaan dalam banyak pertemuan, percakapan di kantor dan warung kopi. Mengapa satu kata-kata begitu bisa menjadi magis dan menyedot perhatian banyak orang? Kata “pengkhianat”, “pungo” dan “sesat” kini pun begitu sensitif, penuh balutan politik dan memicu respons emosional banyak orang.

Kata “pengkhianat”, “pungo” (gila), dan “sesat” dari segi bahasa menunjukkan arti yang negatif. Maka sangat logis bila pada umumnya semua orang tidak ingin dicap ataupun dihubungkan dengan kata itu. Namun dalam praktik “rasa berbahasa” dalam konteks tertentu, kata itu bisa dirasakan sebagai ungkapan bangga dan pujian, meskipun hal tersebut tidak lazim dalam kaidah berbahasa yang benar. Contoh komentar Ahmad Dhani: “Kamu kurang ajar” atau “bangsat”. Komentar Anang Hermansyah: “Ini pertunjukan lebih gila lagi”. Ataupun Bebi Romeo mengatakan “rampok” untuk peserta Indonesia Idol atau X-Factor Indonesia. Tentu kata “pengkhianat”, “pungo” dan “sesat” yang heboh itu bukan sebagai pujian ataupun ungkapan yang membanggakan, tapi sebaliknya.

Orang boleh saja menilai bahwa “APBA-P pungo” yang distempelkan terhadap hasil Sidang Paripurna DPRA sebagai ungkapan kritik terhadap APBA-P. Namun di sisi lain sulit untuk menafikan kata “APBA-P pungo” itu memberi efek negatif, “mencela” atau mengesankan sebagai bentuk apresiasi yang miring terhadap kinerja DPRA. Situasi ini hanya mempertajam anggapan hubungan yang kurang harmonis antara eksekutif dan legislatif serta memperkuat kesan tidak adanya political will mereka untuk duduk sebahu dan senada dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Tidak sehat
Masyarakat melihat “dagelan politik” yang tidak sehat yang dipertontonkan para pemimpinnya. Tidak adanya edukasi politik dan keteladanan dalam merespons perbedaan, pada akhirnya memperkuat stigma negatif terhadap semua hal yang berbau politik.

Kata “pengkhianat” itu labelisasi bagi sekelompok orang yang bermaksud melakukan perubahan terhadap UUPA, ataupun kata “sesat” cap stempel terhadap kelompok aktivis yang bermaksud menggugat Pasal 205 UUPA. Katakanlah orang yang menyampaikannya bermaksud baik dan tegas, hanya saja taste kata pengkhianat, pungo dan sesat secara bahasa, sangat sulit untuk men-deliver maksud baik si pengungkap.

Masih banyak kata yang lebih baik, santun, argumentatif, komunikatif dan inspiratif yang dapat digunakan untuk menyampaikan suatu ide dan pemikiran. Apalagi terhadap hal yang berkaitan dengan terma penting dalam masyarakat yang disampaikan oleh tokoh-tokoh penting.

Memang komunikasi nagasi dalam bentuk “men-tidak-kan” atau memilih kata berlawanan, bahkan kata “bombastis” merupakan cara mudah, ringkas dan praktis untuk menjelaskan sesuatu atau untuk “menarik perhatian”, tetapi sering kali mengorbankan sesuatu yang lebih substansial dan paradigmatik. Dalam konteks ini, kata pengkhianat, pungo dan sesat adalah contoh komunikasi nagasi yang hanya memicu aspek ketegangan psikologis yang tidak perlu.

Hal yang lebih substansial dan paradigmatik pada akhirnya tergeser, seperti: “Bagaimana APBA yang baik dan responsif terhadap problem dan kebutuhan Aceh saat ini?” Atau, “apa saja hal yang lebih konstruktif yang harus ada dan luput dalam perumusan APBA-P saat ini?”

Pada hakikatnya bahasa adalah media manusia berpikir yang mempunyai dua fungsi utama, yakni, sebagai sarana komunikasi antar manusia dan sarana budaya yang mempersatukan. Fungsi yang pertama dapat kita sebutkan sebagai fungsi komunikatif dan fungsi yang kedua sebagai fungsi kohesif atau integratif.

Dalam Islam dikenal istilah ‘adabul bahs (etika debat). Jika diperhatikan akar dari mu’anazarah (bertukar pikiran) dalam Islam terdapat dalam Alquran. Inti dari mu’anazarah itu adalah dialog dan tanya jawab, yang merupakan salah satu struktur dan gaya yang sering dipakai Alquran. Misalnya surat Al-Baqaarah ayat 30 yang memuat tentang dialog Allah dengan malaikat dan iblis sehubungan dengan penciptaan Adam as sebagai khalifah. Al-Ankabut ayat 61 dan 63, Az-Zukhruf ayat 87 memuat tentang metode dialog dalam menjelaskan masalah penciptaan alam semesta.

Islam sangat menganjurkan manusia untuk mempraktikkan dialog dalam menyampaiakan pesan dan menyikapi perbedaan. Maksud baik saja tidak cukup dalam menyampaikan pandangan, dibutuhkan cara yang baik dan pilihan kata yang “menggugah”. Sehingga apa yang diinginkan dari suatu ide menjadi sesuatu yang mengandung kebaikan, bukan memicu masalah atau bahkan terjebak dalam ujaran kebencian.

Akan lebih banyak kebaikan yang mungkin diraih apabila suatu ide dikomunikasikan dengan kata yang tepat, inspiratif dan menggugah. Kata “sesat” mungkin saja telah menggeser pesan penting dan diskursus tentang “bagaimana strategi gerakan aktivis dan generasi muda itu dilaksanakan agar lebih konkret keberpihakannya terhadap kepentingan rakyat?” Atau, apa saja isu sosial yang menjadi prioritas gerakan aktivis Aceh?”

Berbeda dalam ide dan pemikiran sah-sah saja, yang terpenting kita selalu punya kesempatan untuk memilih kata yang lugas, tegas, menghindari kata nagasi, dan mengedepankan kata yang inspiratif, kecuali kita tidak ingin melakukannya. Inilah makna al-muslimu man salima muslimin min lisanihi wa yadihi, yaitu bagaimana kita mewujudkan rasa damai dan keselamatan bagi orang lain disebabkan tutur kata dan kekuasaan yang ada.

Orang hebat
Ide dan pemikiran yang didialogkan dapat bermakna mendiskusikan dan mentautkan hal-hal yang sama dan sebangun, atau pun memperkecil perbedaan dengan tetap menghargai ragam perspektif. Orang hebat itu bukan mereka yang memenangkan sebuah diskusi, debat atau pun dialog, melainkan mereka yang mampu mengalahkan keinginannya untuk menindas atau mencela ide pemikiran orang lain. Sikap bijak itu akan tampak bagaimana seseorang menyampaikan pemikirannya dengan tajam, tetapi tidak menyayat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved