Kupi Beungoh
Earth Day: Saatnya Pendidikan Menjawab Krisis Lingkungan
Hari Bumi Sedunia yang jatuh hari ini, 22 April, bukan sekadar tentang selebrasi tanggal di kalender, tetapi pengingat mendesaknya aksi...
Oleh:
Noraliyatun Jannah, Dosen Fakultas Keperawatan USK
SERAMBINEWS.COM - Hari Bumi Sedunia yang jatuh hari ini, 22 April, bukan sekadar tentang selebrasi tanggal di kalender, tetapi pengingat mendesaknya aksi untuk menjaga Bumi yang sehat sebagai “satu-satunya rumah kita bersama”.
Di Aceh, setiap hujan deras dan aliran sungai mengingatkan kita bahwa lingkungan yang rapuh memengaruhi kesehatan masyarakat secara nyata. Trauma banjir lima bulan lalu tentu masih membekas kuat pada kita semua. Hal ini menegaskan bahwa masyarakat saat ini hidup di tengah ketidakpastian air yang bisa datang kapan saja.
Banyak keluarga masih berjuang membersihkan rumah, menata kembali harta benda, dan menyesuaikan kehidupan sehari-hari setelah banjir dengan daya rusak yang bahkan terasa melampaui yang pernah kita bayangkan sejak tsunami 2004.
Sebagai relawan, saya turun ke lapangan dan menyaksikan secara langsung bagaimana warga cemas menghadapi hujan deras dan sungai yang tampak tenang tetapi bisa berubah menjadi berbahaya. Ibu-ibu mengawasi setiap kenaikan air, keluarga menyiapkan diri serta barang berharga saat hujan deras secepat mungkin, sementara anak-anak dipaksa belajar menyesuaikan diri dengan perubahan yang datang secara tiba-tiba.
Banyak warga yang masih tidur dengan kekhawatiran karena melihat langit atau sungai yang biasanya aman dapat menjadi ancaman saat hujan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan formal sering kali tidak cukup mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi realitas lingkungan yang berubah dengan cepat. Melihat kondisi ini, menjadi jelas bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya soal bencana, tetapi juga kesiapan pengetahuan untuk menghadapinya.
Pendidikan di sekolah dasar dan menengah memainkan peran penting. Anak-anak dapat belajar memahami hubungan manusia dan lingkungan, mengenali tanda-tanda banjir, dan mengikuti aksi sederhana seperti merawat pohon dan tanaman atau membersihkan selokan.
Aktivitas ini tidak hanya mengajarkan sains dan ekologi, tetapi juga membangun kesadaran, empati, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Sejak dini, mereka belajar menghadapi risiko secara proaktif, bukan hanya menunggu bencana terjadi.
Di perguruan tinggi, kurikulum kesehatan dan ilmu sosial dapat mengintegrasikan Planetary Health: menganalisis dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat, menilai risiko bencana, dan merancang intervensi berbasis komunitas. Mahasiswa dapat belajar dari pengalaman lapangan, melihat bagaimana trauma masa lalu dan kecemasan lingkungan membentuk perilaku masyarakat, serta mengembangkan strategi nyata untuk mendukung resiliensi komunitas.
Planetary Health adalah pendekatan ilmiah yang menegaskan bahwa kesehatan manusia bergantung pada keberlanjutan sistem alam Bumi.
Beberapa negara maju telah menjadi contoh nyata dalam mengintegrasikan Planetary Health ke dalam pendidikan formal perguruan tinggi: University of California, San Francisco (AS) mengajarkan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat dan intervensi berbasis komunitas; McGill University (Kanada) memasukkan praktik lapangan untuk menilai risiko lingkungan, serta berbagai contoh lainnya yang dapat dilihat di situs Planetary Health Report Card (PHRC), yang juga menginspirasi Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (USK) untuk melakukan asesmen, di mana hasil metrik PHRC USK diterbitkan pada 22 April 2026.
PHRC adalah ‘rapor’ yang mengukur sejauh mana suatu universitas mengintegrasikan kesehatan manusia dan lingkungan dalam Tridharma Perguruan Tinggi dengan tujuan mendorong transformasi pendidikan kesehatan agar responsif terhadap krisis iklim dan lingkungan.
Selanjutnya, contoh tersebut menunjukkan bahwa pendidikan formal dapat membekali generasi muda dengan pemahaman dan keterampilan nyata untuk menghadapi tantangan lingkungan dan kesehatan. Indonesia, dengan kerentanan Aceh terhadap banjir, longsor, dan degradasi hutan, bisa mencontoh model ini: mulai dari sekolah menengah yang mengajarkan dasar-dasar interaksi manusia-lingkungan, hingga perguruan tinggi yang menekankan integrasi teori dan praktik Planetary Health.
Langkah sederhana untuk melindungi komunitas dan bumi kita
Masyarakat juga dapat mulai melakukan tindakan nyata dan sederhana untuk menghadapi risiko banjir dan perubahan lingkungan.
1. Membersihkan selokan dan saluran air secara gotong-royong agar air hujan mengalir lancar dan mengurangi risiko genangan.
2. Menanam pohon di tepi sungai dan kawasan hijau untuk menahan erosi, menyerap air hujan, dan menjaga lingkungan tetap seimbang.
3. Menyiapkan cadangan air bersih dan sanitasi untuk kebutuhan rumah tangga saat genangan terjadi
4. Mengajarkan anak-anak pentingnya kebersihan tangan.
5. Merancang rencana evakuasi keluarga dan komunitas; menetapkan titik aman, strategi komunikasi, dan melatih semua anggota keluarga agar siap jika banjir datang.
6. Mendukung sosial dan kesehatan mental: membuka ruang untuk berbagi pengalaman, ketakutan, dan strategi menghadapi bencana, terutama pada anak-anak.
7. Mengedukasi anak-anak dan remaja tentang hubungan manusia-lingkungan, tanda-tanda banjir, dan aksi preventif yang dapat mereka lakukan.
Setiap langkah kecil yang dilakukan bersama tetangga, teman, dan keluarga tidak hanya melindungi rumah, tetapi juga memperkuat ketahanan komunitas dan menjaga Bumi kita tetap menjadi rumah yang layak huni.
Earth Day mengingatkan kita bahwa pendidikan harus berevolusi bersama planet ini. Aceh, dengan sungai yang semakin dangkal, tutupan hutan yang terus menyusut, dan keluarga yang masih berjuang pasca banjir, sedang menghadapi risiko nyata dari perubahan lingkungan yang tak lagi bisa diabaikan.
Di tengah kondisi ini, pendidikan yang menanamkan kesadaran sejak dini menjadi fondasi penting agar masyarakat lebih tangguh dalam merespons tantangan ekologis. Berinvestasi pada pendidikan jangka panjang bukan sekadar pilihan, melainkan langkah strategis untuk mengubah kekhawatiran kita menjadi aksi menjaga Planet Bumi ini—karena pada akhirnya, menjaga Bumi berarti menjaga diri kita sendiri. No healthy planet, no healthy people.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Noraliyatun-Jannah-Dosen-Fakultas-Keperawatan-USK.jpg)