Opini

Tsunami dan ‘Post-Traumatic Stress Disorder’

SEBELAS tahun yang lalu bencana maha dahsyat tsunami menggoncang bumi Aceh. Bencana yang namanya bermakna

Oleh Fazia

SEBELAS tahun yang lalu bencana maha dahsyat tsunami menggoncang bumi Aceh. Bencana yang namanya bermakna “ombak besar pelabuhan” ini rasanya sulit hilang dari ingatan kita. Betapa tidak, di sebuah hari libur yang tenang bersama keluarga, tiba-tiba terjadi gempa berkekuatan 8,9 skala Richter (SR). Yang terjadi berikutnya sungguh merupakan bukti kebesaran Allah Swt. Mendadak muncul gelombang air laut tinggi yang menghanyutkan rumah, mobil, dan benda apapun yang dilewatinya. Dalam keadaan kalut tersebut, banyak orang sibuk menyelamatkan diri sendiri, tidak bisa menolong orang lain bahkan keluarga.

Bencana tsunami menyisakan pengalaman traumatis bagi siapa pun yang mengalami. Kehilangan harta benda bahkan sanak saudara dalam waktu singkat memang tidak pernah mudah. Beruntunglah mereka yang mampu berlapang dada menerima cobaan tersebut sehingga bisa menatap masa depan dengan lebih baik. Namun ada yang kurang beruntung, yang terus menerus dihinggapi kecemasan berlebihan dan tidak bisa beradaptasi sehingga peristiwa itu terus membayang.

Ketika berada dalam suatu bencana seperti tsunami, secara natural seseorang akan merasa takut dan cemas diikuti oleh jantung berdetak kencang dan keluarnya keringat dingin. Respons fisiologis tubuh akibat adanya ancaman dan bahaya tersebut dikenal dengan istilah fight or flight. Normalnya, setelah bahaya dan ancaman selesai perasaan akan tenang dan tubuh merespon dengan mengembalikan fungsi tubuh ke keadaaan semula. Namun sayangnya pada sebagian orang seperti pada korban tsunami; rasa takut dan cemas tersebut terus berkembang dan meningkat. Ketika ingatan akan peristiwa tsunami terus menerus terbayang hingga menyebabkan hambatan dalam aktivitas sehari-hari, maka bisa jadi orang tersebut telah menderita PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stress pascatrauma.

 Menjadi saksi mata

Secara keilmuan gangguan stress pascatrauma didefiniskan sebagai suatu gangguan yang terjadi setelah seseorang mengalami atau menjadi saksi mata suatu peristiwa traumatik atau berbahaya seperti bencana tsunami. Peristiwa lain yang bisa mencetuskan gangguan ini seperti kecelakaan lalu lintas, peperangan, dan kekerasan fisik atau seksual. Selain menjadi korban atau saksi mata peristiwa traumatik, ada dua komponen penting lain yang bisa kita perhatikan dari penderita gangguan ini. Pertama adalah timbulnya pengalaman traumatik berulang dalam bentuk bayangan, mimpi buruk, dan ingatan. Dan, kedua, adanya penghindaran yang menetap terhadap segala hal yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Dalam kasus korban tsunami, penghindaran dapat berupa tidak mau pergi ke laut atau bahkan takut melihat air dalam jumlah yang banyak. Untuk dapat didiagnosa sebagai gangguan, semua gejala tersebut harus terjadi selama minimal enam bulan dan individu tersebut telah mengalami penurunan aktivitas sehari-hari.

Sekilas tentang prevalensinya, di Amerika misalnya, diperkirakan ada sekitar 1-14% dari populasinya yang mengalami gangguan stress pasca trauma. Data dari WHO menyebutkan ada 10-20% penderita gangguan ini. Di Indonesia sendiri, penelitian membuktikan didapatkan bahwa setiap individu akan mengalami peristiwa traumatik dan 25% dari individu tersebut mengalami gangguan ini. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bekerja sama dengan IOM (International Organization for Migration) dan Universitas Harvard pada 2006 didapatkan hasil bahwa 34% masyarakat Aceh mengalami gangguan stress pascatrauma (Ira Erlina, 2010). Pada 2007 juga dilakukan penelitian pada 14 kabupaten di Aceh dan hasilnya 10% masyarakat mengalami gangguan stress pasca trauma (Widyatmoko, 2008). Dari angka-angka di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya banyak penderita gangguan stress pascatrauma di sekitar kita.

Setiap korban tsunami memiliki resiko menderita gangguan stress pascatrauma, tidak terbatas oleh usia. Selain pernah mengalami bencana tsunami, faktor-faktor lain yang juga meningkatkan resiko adalah mempunyai keluarga penderita gangguan jiwa, mempunyai riwayat gangguan jiwa lain, pernah melihat orang dibunuh dan disakiti, pernah kehilangan anggota keluarga, pekerjaan, serta tidak adanya dukungan orang sekitar pasca peristiwa tsunami.

Membantu korban tsunami yang menderita gangguan stress pascatrauma

Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menolong korban tsunami yang menderita gangguan stress pascatrauma, di antaranya adalah pemberian obat-obatan, psikoterapi, edukasi, dan dukungan psikososial. Pemberian obat bertujuan untuk membantu penderita menghilangkan kecemasan akibat ingatan berulang tentang peristiwa tsunami. Namun pemberian obat saja tidak cukup, harus dibarengi dengan psikoterapi untuk mengembalikan pikiran-pikiran cemas penderita menjadi normal kembali.

Edukasi juga perlu dilakukan untuk membantu pasien memahami perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri pasien baik secara psikis maupun fisik. Yang terakhir dan yang paling penting adalah adanya dukungan psikososial dari masyarakat dan keluarga untuk menghilangkan stigma negatif yang mungkin akan muncul akibat diagnosis gangguan tersebut.

 Dukungan psikososial

Bentuk dukungan psikososial yang paling utama yang dapat diberikan keluarga untuk korban tsunami penderita gangguan stress pascatrauma adalah sikap sabar dan pengertian. Penderita akan cenderung bercerita pengalamannya secara berulang-ulang dan keluarga harus sabar mendengarkan sebagai bagian dari proses penyembuhan. Keluarga juga perlu berusaha untuk mengantipasi segala hal yang bisa mencetuskan ingatan tentang peristiwa tsunami, seperti tanggal kejadian, tempat kejadian, dan suara.

Jika kita selalu sadar dengan hal-hal tersebut maka kita bisa membantu penderita untuk bersikap lebih tenang. Jangan memaksa penderita untuk menceritakan pengalamannya. Pada sebagian penderita, sulit untuk menceritakan pengalaman traumatiknya, namun sebaiknya jangan memaksa penderita untuk bercerita, tunggulah sampai mereka siap dan mau menceritakannya sendiri.

Pada akhirnya perlu diyakini, tidak hanya oleh penderita gangguan stress pasca trauma namun oleh kita semua, bahwa setiap peristiwa yang menimpa kita adalah ujian dari Allah Swt. Baik peristiwa bahagia maupun peristiwa bencana, kita tidak bisa menghindarinya. Ketika mendapat bencana, yang bisa kita lakukan adalah menerima dengan lapang dada dan berusaha bangkit dari keterpurukan demi masa depan yang lebih baik. Kita bisa melihat setelah tsunami, bumi Aceh lebih banyak dikenal oleh masyarakat baik lokal maupun mancanegara. Perdamaian pascakonflik juga terjadi. Ini semua adalah beberapa hikmah dari tsunami yang tentunya tidak bisa dirinci satu-persatu.

Sebelas tahun sudah berlalu, kepada para korban tsunami, yakinlah, Allah Swt telah memilih kita untuk diangkat derajat di hadapan-Nya sebagai buah dari kesabaran kita. Apapun musibah yang menimpa, satu yang pasti Allah Swt tidak akan pernah menguji hamba-Nya di luar kemampuannya.

dr. Fazia, dokter umum, pemerhati kesehatan jiwa, pegiat komunitas peduli kesehatan jiwa Griya Skizofrenia. Email: fazia.mahdi@yahoo.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved