Opini

Blok Migas Aceh

MINYAK dan gas bumi (migas) sudah dikenal masyarakat Aceh sejak abad ke-16, ketika rembesan minyak bumi

Blok Migas Aceh
blok migas

Namun, kenyataannya hingga kini eksistensi organisasi dimaksud belum terwujud sebagaimana mestinya. Padahal menurut Pasal 93 PP No.23 Tahun 2015 menyatakan bahwa sejak diundangkan pemerintah dan Pemerintah Aceh harus sudah menyelesaikan penataan organisasi BPMA dalam jangka waktu paling lambat satu tahun. Jadi kalau PP tersebut diundangkan pada 5 Mei 2015, maka seharusnya pada 5 Mei 2016 baik dejure maupun defacto organisasi BPMA sudah lengkap.

Berdasarkan fakta status blok migas yang berada di wilayah Aceh sebagian besar masih dalam fase eksplorasi dan studi, seharusnya bobot organisasi BPMA pun perlu disesuaikan dengan sifat tantangan yang dihadapi, yakni lebih menitikberatkan pada kegiatan eksplorasi. Namun, hal tersebut sepertinya akan menjauh ketika diacu pada persyaratan yang diumumkan oleh Panitia Seleksi Calon Kepala BPMA baru yang akan menggantikan pejabat sekarang, karena terkendala usia sudah lebih dari 60 tahun. Pada persyaratan urutan No.7 pengumuman seleksi dimaksud yang diiklankan oleh Sekretariat Daerah Pemerintah Aceh melalui koran Serambi Indonesia, edisi Senin, 19 Juni 2017, halaman 5 terbaca bahwa syarat pendidikan calon minimum jenjang Strata-1 (S1) dalam bidang Perminyakan, Hukum, dan Ekonomi.

Sebab, fakta lapangan di industri hulu migas ketiga jurusan tersebut secara langsung tidak banyak terlibat dalam tugas-tugas pokok fungsi (tupoksi) Bidang Eksplorasi migas yang banyak digeluti oleh sarjana-sarjana S-1 dari jurusan Geologi dan Geofisika. Harapan satu-satunya adalah para sarjana jenjang S-1 tersebut menempuh jenjang S-2 dalam bidang Geologi atau Geofisika, sehingga persyaratan No.7 di atas terakomodir dalam persyaratan No.9, yakni memiliki pengalaman minimal 10 tahun dalam industri hulu migas, khususnya dalam fungsi eksplorasi.

Pekerjaan-pekerjaan pembukaan dan pemeringkatan wilayah kerja baru agar menarik investor sangat ditunjang oleh hasil-hasil studi dan evaluasi cekungan migas yang sehari-hari digeluti oleh para ahli Geologi dan Geofisika lewat data seismik (2 Dimensi dan 3 Dimensi), pemetaan geologi, korelasi regional, data geokimia, urut-urutan stratigrafi cekungan, data struktur geologi, korelasi dan penyebaran batuan induk dan reservoir, kelengkapan petroleum system (meliputi: batuan induk, batuan resevoir, pola migrasi, dan lapisan penutup) merupakan bidang keahlian khusus para ahli Geologi dan Geofisika. Setelah semua hal tersebut dievaluasi secara detail baru ditentukan sumur eksplorasi atau sumur taruhan (wildcat), biasanya satu sampai tiga sumur.

Dari perspektif dimaksud, kiranya kredibilitas Tim Seleksi, terutama para person yang akan melakukan uji kelayakan kandidat Kepala BPMA baru, hendaknya betul-betul yang memiliki wawasan eksplorasi migas. Bila tidak demikian, maka dapat disimpulkan bahwa upaya perekrutan calon Kepala BPMA baru akan melahirkan person yang tidak kompetibel dengan sifat dan format tentangan pengembangan industri hulu migas Aceh dalam satu dekade ke depan. Jangan sampai yang terjaring justru person the wrong man in the wrong place and the wrong time. Manakala hal ini yang terjadi, maka harapan pemerintah dan rakyat Aceh agar industri hulu migas di Aceh cepat berkembang, serta berperan sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di Serambi Mekkah akan semakin jauh. Semoga, tak!

* Dr. Ridwan Nyak Baik, pakar migas dan perencanaan wilayah. Email: baiknsatu@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved