SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

AR Ramli dalam Kenangan (1927-2017)

ABDUL Rachman Ramly, seorang sahabat bagi Kamar Dagang Indonesia Amerika (AICC) dan Amerika Serikat

AR Ramli dalam Kenangan (1927-2017)
SERAMBI/FIKAR W.EDA
Suasana di rumah almarhum H Abdul Rahman Ramly di Jalan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (29/7/2017). 

Oleh Wayne Forrest

ABDUL Rachman Ramly, seorang sahabat bagi Kamar Dagang Indonesia Amerika (AICC) dan Amerika Serikat, meninggal dunia di Jakarta pada Sabtu, 29 Juli 2017. Sederhana, dengan selera humor yang unik, Ram --panggilan akrab AR Ramli-- memiliki hubungan dekat dengan anggota kami semasa di AS saat menjabat sebagai Konsul Jenderal di New York, lalu saat menduduki posisi sebagai Dirut Pertamina, dan kemudian menjadi Duta Besar RI di Washington DC (1988-1993).

Ramly yang lahir pada 7 April 1927 di Langsa, Aceh, juga merupakan seorang mantan jenderal yang dilatih di Fort Benning. Sebagai bagian dari kontingen Aceh, termasuk Bustanil Arifin, yang bekerja sama dengan Presiden Soeharto dalam menjalankan perusahaan negara. Namun tidak selalu setuju dengan kebijakannya. Ramly pada dasarnya adalah orang yang idealis dan sering meneruskan banyak rekomendasi kepada presidennya yang mana dia tidak selalu ingin dengar.

Saya tidak pernah berpikir ada Duta Besar (Dubes) untuk AS memiliki kasih sayang yang lebih besar dari Ram. Terakhir kali saya melihatnya dua tahun lalu di Jakarta. Dia masih memiliki raut wajah yang tegas seperti biasa, namun tetap dengan sorot mata yang memancarkan kebahagiaan.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi ketika saya pertama kali bertemu dengannya, setelah McCormick Spice memberi tahu saya bahwa ada usaha untuk menyudutkan pasar Kayu Manis (Cinnamon) pada 1989. Dia baru saja menjabat sebagai Dubes Indonesia untuk AS. Pada saat pemerintah Indonesia melakukan deregulasi dan menghapus monopoli, McCormick telah menerima teleks dari sebuah perusahaan yang mengklaim sebagai satu-satunya eksportir rempah-rempah tersebut.

McCormick tidak mengenal perusahaan tersebut, diduga perusahaan besar dari Belanda adalah otak di balik hal itu, dan tahu mereka akan memiliki masalah besar terkait izin dari FDA. Dengan gugup, saya menghubungi Dubes Ramly terkait potensi masalah, namun selalu seperti gaya AICC yang menyarankan agar hal ini harus diselesaikan secara behind the scenes (di balik layar).

Ramly setuju dan menawarkan diri untuk datang ke New York. Sebuah pertemuan dengan cepat diatur di bawah naungan kami dengan McCormick dan American Spice Trade Association (Asosiasi Pedagang Rempah Amerika).

Ramly duduk dan menunjukkan teleks asli yang mengumumkan satu-satunya eksportir dan berkata kepada mereka yang berkumpul, “Ini tidak baik dan mungkin dilakukan tanpa pengetahuan pemerintah pusat, tidak sesuai dengan kebijakan saat ini. Saya akan mengatakan kepada Presiden Soeharto ini tidak bisa dilanjutkan”. Selanjutnya, segalanya berjalan normal. Ram memang memiliki pengaruh.

Menawarkan solusi efisien
Di lain waktu, Ralph Lauren memberi tahu AICC bahwa sebuah perusahaan Indonesia menggunakan merek dagang Polo tanpa sepengetahuan mereka. Dengan cara khas Ramly, dia menyarankan agar dari pada meminta ganti rugi melalui proses pengadilan yang mahal, solusi yang lebih efisien bagi Lauren yaitu membeli perusahaan Indonesia tersebut dengan biaya yang jauh lebih rendah dan itulah yang mereka lakukan.

Kisah favorit saya tentang Ramly melibatkan Majalah Sports Illustrated. Suatu pagi pada 1990, saya mendapat telepon dari Julie Campbell, editor majalah dari edisi baju renang (swimsuit) mereka yang terkenal. Dia mengalami kesulitan mendapatkan surat izin syuting dan keringanan bea cukai untuk beberapa ratus pakaian renang yang akan dibawa SI ke Bali untuk pemotretan tahun depan. Jika ini tidak bisa didapat dalam sebulan, Julie terpaksa harus syuting di lokasi yang berbeda.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help