SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Menyoal Transparansi Pengelolaan Dana Desa

MENYIMAK polemik tentang dana desa yang berseliweran di media massa, baik yang mainstream maupun

Menyoal Transparansi Pengelolaan Dana Desa
SEJUMLAH pemuda dan warga Desa Pulo Ara Geudong Teungoh, Kecamatan Kota Juang, Bireuen, menyegel kantor keuchik desanya, Minggu (9/4). Mereka meminta keuchik mundur dari jabatannya, karena diduga tidak transparan dalam pengelolaan dana desa. 

Oleh Husaini

MENYIMAK polemik tentang dana desa yang berseliweran di media massa, baik yang mainstream maupun media sosial, saya merasa perlu menceritakan pengalaman saya mendampingi masyarakat memperjuangkan transparansi pengelolaan dana desa di Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Saya hendak menceritakan lika-liku yang dihadapi masyarakat ketika berusaha mendorong agar pengelolaan dana desa di desanya dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Meskipun secara konseptual dan didukung berbagai kebijakan menyatakan bahwa dana desa harus dikelola secara terbuka. Harus direncanakan penggunaannya secara partisipatif bersama masyarakat, pemerintah desa harus menyusun RPJMDes, RKPDes dan APBDes secara partisipatif, namun fakta di lapangan situasi itu masih menjadi mimpi di siang bolong.

Dari delapan desa yang saya dampingi, hanya satu desa yang mengusahakan proses perencanaan desa-nya secara partisipatif. Usaha membangun partisipasi masyarakat di desa, ternyata bukan soal mudah. Ada banyak hambatan yang menghalangi, baik di tingkat masyarakat maupun di tingkat birokrasi pemerintah.

Di tingkat masyarakat, ketidakbiasaan dalam menyuarakan pendapat di depan umum menghambat ide dan gagasan untuk disampaikan dalam rapat-rapat desa. Politik perwakilan yang didesain dalam rapat-rapat desa menghasilkan rencana pembangunan desa yang abai terhadap kepentingan kelompok marginal.

Sementara itu birokrasi desa yang tidak biasa mengembangkan semangat dan praktik partisipasi, malas berpikir dan bekerja, takut berdebat, tidak kritis dalam menganalisa sesuatu, mendesain rapat-rapat di desa dengan mengabaikan kelompok-kelompok kritis di desa. Cap sebagai oposisi, penentang pemerintahan desa dilekatkan pada mereka yang kritis dan kemudian secara sistematis mereka dipinggirkan. Tidak mendapatkan panggung dalam rapat-rapat perencanaan desa. Tindakan ini biasanya didukung pula oleh birokrasi di atasnya, seperti pihak kecamatan, Polsek, Koramil, Dinas/Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) dan para pejabat lainnya yang kemudian berperan menjadi beking aparatur desa.

Keterbukaan informasi
Dua situasi di atas, praktis membuat perencanaan desa hingga implementasi dan evaluasinya dilakukan sendiri oleh sebuah lingkaran; aparatur desa, aparatur kecamatan, Polsek, Koramil, pendamping desa, pejabat BPM, dan Inspektorat. Sebagian pihak yang saya sebut memang tidak memiliki hirarki dalam pengelolaan dana desa, namun nyatanya di lapangan mereka juga bergerak mengamankan dan mendukung praktik-praktik tercela dalam pengelolaan dana desa.

Bahkan, di luar para pihak tersebut, masih ada lagi para konsultan swasta-independen yang bisa menyulap berbagai perencanaan menjadi rapi, ada oknum-oknum dari LSM dan wartawan, serta tentu saja para kontraktor gadungan yang biasanya merupakan afiliasi dari birokrasi yang berperan mengumpulkan pundi-pundi untuk disetorkan ke para pihak.

Akibat dari situasi di atas adalah minimnya informasi yang sampai kepada masyarakat tentang pengelolaan dana desa. Masyarakat sering mendapatkan kejutan-kejutan dan kekecewaan-kekecewaan yang tidak diketahui ke mana situasi itu harus ditanyakan dan disalurkan. Misalnya, tiba-tiba di kampung ada pembukaan jalan baru. Alat berat berdatangan. Semua yang mengurus aparatur desa dan kontraktor. Lalu, nanti hasilnya tidak sesuai harapan.

Kasus seperti itu dialami oleh masyarakat di delapan desa yang saya dampingi. Pada saat masyarakat bergerak meminta informasi kepada pemerintah desa, justru di desa timbul gejolak. Para pendukung pemerintah desa bergerak mem-bully masyarakat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help