Kupi Beungoh
Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi
Perjalanan ke Manado penuh cerita: dari isu global Iran hingga hangatnya toleransi di kota tepi laut. Kisah nyata yang membuka sudut pandang baru.
Oleh : Yunidar Z.A
SETELAH tertundanya perdamaian dalam dialog dalam pertemuan strategis di Islamabad, Pakistan.
Masyarakat Internasional tetap berharap perundingan dilanjutkan, dan kembali untuk menurunkan tensi kekerasan.
Namun gencatan senjata sebagai jeda kemanusiaan masih tetap berlanjut dan aktivitas di Iran saat ini 90 persen berjalan Kembali.
Kota Teheran mulai macet, untuk sekolah juga perkuliahan di Universitas masih dilakukan secara daring online, ada beberapa kampus dikabarkan hingga akhir semester online termasuk kampus yang telah terjadi serangan, demikian laporan diaspora Aceh, Laini Lukman, yang sedang menempuh melanjutkan studi di Ahlulbayt University Jurusan Hukum Pidana dan Kriminologi dari Iran, melalui pesan singkat WhatsApp, pekan lalu pada waktu saya di Kota Manado..
Waktu menunjukkan pukul 06.23 WIB ketika saya memesan layanan transportasi daring menuju Stasiun Manggarai.
Lalu lintas Jakarta yang biasanya padat tampak lebih bersahabat, sehingga hanya dalam waktu sekitar 17 menit saya telah tiba di stasiun keberangkatan kereta bandara. Senin 13 April 2026.
Di Stasiun Manggarai Jakarta Selatan, di sini saya melakukan proses pembelian tiket yang berlangsung cepat dan efisien. Mesin tiket mandiri memudahkan penumpang memilih tujuan, sementara sistem pembayaran yang terintegrasi, mulai dari QRIS hingga kartu ATM, menjadi cerminan kemajuan layanan transportasi publik di Jakarta.
Dengan tarif Rp 85.000, sekali jalan dari Manggarai ke Airport Soeta di Tangerang Banten. Saya mendapatkan akses ke salah satu moda transportasi paling tepat waktu di Jakarta, Kereta Bandara Soekarno-Hatta.
Baca juga: Perang dan Damai
Kereta berangkat tepat pukul 07.00 WIB. Ketepatan waktu ini menjadi keunggulan utama yang sulit ditandingi moda transportasi lain di tengah dinamika ibu kota.
Dalam perjalanan sekitar 47 menit, kereta melaju stabil, berhenti di beberapa titik yang telah ditentukan sebelum akhirnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 07.49 WIB.
Bagi pelaku perjalanan dengan jadwal ketat, kereta bandara adalah pilihan rasional efisien, bebas hambatan, dan relatif terjangkau. Saya sendiri selalu memilih tiba lebih awal di bandara.
Waktu tunggu bukanlah waktu yang terbuang, melainkan ruang produktif untuk membaca, menyusun jadwal dan catatan pekerjaan, serta mengonfirmasi agenda pertemuan yang akan dijalankan.
Penerbangan menuju Manado dijadwalkan pukul 09.30 WIB. Sambil menunggu, saya menata kembali rencana perjalanan, memastikan setiap agenda tersusun rapi.
Dalam setiap perjalanan, kesiapan bukan hanya soal waktu, tetapi juga kesiapan mental untuk menyerap pengalaman baru dalam setiap perjalanan, menikmati makanan lokal, dan kehidupan Masyarakat, juga mendalami terkait perdamaian, politik, hukum, dan keamanan.
kupi beungoh
Opini Kupi Beungoh
Manado
perang dan damai
Yunidar ZA
Serambi Indonesia
Kota Toleransi
Iran
Amerika Serikat
Israel
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-Anggota-Asosiasi-Analis-Kebijakan-Indonesia-AAKI-18.jpg)