Opini

Wakaf Pesawat untuk Aceh

RENCANA Pemerintah Aceh membeli pesawat udara untuk melakukan patroli laut dan hutan di Aceh, sedang

Wakaf Pesawat untuk Aceh
Status Facebook Irwandi Yusuf soal menjaga kekayaan laut Aceh dan alasan membeli pesawat patroli 

Oleh Fahmi M. Nasir

RENCANA Pemerintah Aceh membeli pesawat udara untuk melakukan patroli laut dan hutan di Aceh, sedang hangat diberitakan oleh berbagai media dan menjadi bahan diskusi oleh berbagai lapisan masyarakat di provinsi paling barat Indonesia ini. Pro dan kontra pun terjadi, masing-masing pihak memiliki cara pandang yang berbeda dengan memberikan justifikasi yang berbeda pula. Artikel ini bertujuan untuk memberikan solusi alternatif dalam menyikapi dua kutub pandangan pro dan kontra itu.

Wacana pembelian pesawat tersebut sebenarnya dapat terus dilakukan tanpa perlu menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Lalu, dari mana sumber pendanaan untuk membeli pesawat itu? Bagaimana pula cara melakukan penggalangan dana untuk membeli pesawat? Di sini, penulis ingin menggagas supaya Pemerintah Aceh memanfaatkan wakaf, satu instrumen keuangan dalam Islam yang selama ini sudah tidak pernah dioptimalkan lagi.

Institusi keuangan
Pakar ekonomi syariah, Dr Mohd Daud Bakar baru-baru ini menegaskan bahwa ummat Islam perlu menyadari bahwa wakaf ini bukanlah semata-mata institusi agama saja. Wakaf sebenarnya adalah institusi keuangan yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk digunakan membiayai berbagai keperluan mulai dari proyek skala kecil hingga megaproyek.

Murat Cizakca (1997) memaparkan bahwa wakaf dapat dioptimalkan untuk menalangi anggaran belanja pemerintah. Sepanjang sejarah, wakaf telah terbukti mampu membiayai berbagai macam pelayanan masyarakat dalam bidang kesehatan, pendidikan, pengadaan infrastruktur dan lain-lain. Singkat kata, wakaf secara signifikan telah membantu mengurangi anggaran belanja pemerintah, sehingga pemerintah tidak perlu melakukan pinjaman dari luar negeri untuk membiayai berbagai program yang dijalankannya.

Mari kita lihat fakta sejarah yang sangat fenomenal mengenai kejayaan wakaf di Turki untuk membuka wawasan kita mengenai peranan besar institusi wakaf. Directorate General Foundations Publications Turki dalam buku terbitan mereka berjudul Marvelous Pious Foundations (Waqfs) Throughout History, memaparkan setidaknya ada 106 macam wakaf dalam berbagai sektor yang dilakukan oleh rakyat Turki, baik untuk kesejahteraan sosial maupun untuk pengembangan sosio-ekonomi mereka.

Di antaranya adalah wakaf perlindungan lingkungan dan hutan, wakaf rumah sakit, wakaf menggali sumur, wakaf membiayai anak laki-laki berkhitan, wakaf penyediaan alat-alat pertanian untuk petani, wakaf menjaga keindahan kota, wakaf menjaga anak yatim, wakaf beasiswa pelajar, wakaf biaya menikah pemuda miskin, wakaf memperbaiki jembatan yang rusak, wakaf gaji guru, wakaf membantu pedagang yang bangkrut, wakaf alat transportasi di sungai, wakaf jaminan sosial untuk orang miskin atau untuk orang yang tidak mampu bekerja, wakaf menyediakan kebutuhan logistik angkatan bersenjata dan beragam jenis wakaf lainnya.

Banyak sekali
Bagi orang Aceh sendiri, wakaf juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sendi kehidupan mereka. Snouck Hurgronje (1857-1936) mencatat bahwa banyak sekali rumah wakaf Aceh di Mekkah, Saudi Arabia. Satu di antaranya adalah apa yang sekarang kita kenal dengan Baitul Asyi.

Van Langen (1898-1983) secara lugas menyebutkan bahwa Blang Padang dan Blang Punge sebagai tanah wakaf milik Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Sementara Koesoema Atmaja (1922) mengatakan, di Aceh banyak sekali aset wakaf dalam berbagai bentuk seperti masjid, sawah, asrama pelajar, pohon dan tanah perkuburan untuk orang asing. Bahkan, menurut Suparman Usman (1999), Aceh ketika zaman Kerajaan Aceh Darussalam memiliki sebuah badan yang diberi nama Balai Meusara, lembaga yang khusus mengelola segala urusan yang berhubungan dengan wakaf.

Selanjutnya, dalam laporan khusus Majalah Tempo (Edisi 19-25 Agustus 2003) mengenai mengapa Aceh memberontak, ada sebuah narasi mengenai kisah pembelian pesawat oleh orang Aceh untuk Indonesia. Bung Karno datang ke Aceh pada 16 Juni 1948 meminta bantuan membeli sebuah pesawat untuk menguatkan pertahanan udara dan mendukung transportasi antarpulau.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved