SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Jangan Robohkan ‘Tiang’ Islam

MIRIS dan sepatutnya menjadi keresahan kita bersama saat ini. Banyak muslim yang melalaikan tugas utamanya

Jangan Robohkan ‘Tiang’ Islam
Algojo melakukan eksekusi cambuk terhadap pelanggar Syariat Islam di halaman Masjid Syuhada Lamgugob, Banda Aceh. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Teuku Zulkhairi

MIRIS dan sepatutnya menjadi keresahan kita bersama saat ini. Banyak muslim yang melalaikan tugas utamanya untuk melaksanakan shalat sehari semalam lima waktu. Jika kita amati lebih dekat, sesungguhnya fenomena ini adalah nyata. Sebagai contoh, perhatikan di warung kopi atau tempat-tempat lainnya, kita akan menemukan bahwa fenomena ini adalah nyata dan fakta. Atau perhatikan saja jumlah jamaah rutin di masjid, dan bandingkan pula dengan jumlah orang-orang di warung kopi. Perhatikan pula bahwa saat azan berkumandang, hanya sedikit yang mau bergegas ke masjid.

Banyak muda-mudi lebih memilih untuk sibuk dengan game Online sampai waktu shalat habis ketimbang bergegas ke masjid atau mushalla terdekat untuk melaksanakan kewajiban shalat. Bukankah ini masalah besar saat ini? Bagaimana masa depan Aceh jika generasi mudanya banyak yang abai dari kewajiban shalat? Bagaimana masa depan Islam jika shalat kita masing bolong? Sungguh ini adalah awal bencana maha dahsyat yang akan menimpa. Rasulullah saw bersabda bahwa “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).

Seorang ulama sufi Turki, Badi’uzzaman Said Nursi saat menjelaskan alasan jatuhnya kekuasaan Khilafah Usmaniyah pada Perang Dunia I (1914-1918) dan dominasi Barat di seluruh dunia Islam, antara lain mengatakan, “Alasan mengapa takdir mendatangkan bencana ini kepada kita adalah karena kita lalai dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Sang Pencipta yang Maha Kuasa menghendaki kita mendirikan shalat lima waktu, sebagaimana yang diwajibkan, yang hanya perlu satu jam dari dua puluh empat jam waktu kita sehari, tetapi kita ingkar...” (Risalah An-Nur, 2003).

Demikianlah Said Nursi menjelaskan satu alasan keterhinaan umat Islam sepanjang sejarah, di mana akibat melalaikan kewajiban shalat turut mendorong kekalahan Khilafah Utsmaniyah dalam Perang Dunia I, yang kemudian merajelalanya penjajahan bangsa Barat di hampir seluruh dunia Islam. Penjelasan Said Nursi ini juga menunjukkan bahwa dahulu umat Islam maju peradabannya dan tinggi kepatuhannya pada kebenaran Islam; yakni mereka bertindak sesuai dengan ajaran Islam. Sejarah juga menunjukkan bahwa umat Islam mengalami kemunduran, bencana dan kekalahan saat kepatuhan mereka pada kebenaran Islam melemah.

Tiang agama
Islam juga mengumpamakan shalat sebagai tiang agama. Jika Islam diibaratkan seperti sebuah bangunan, shalat adalah tiang terbesarnya. Artinya, sebuah bangunan tidak akan bisa didirikan tanpa tiangnya. Dan jika tiang sebuah bangunan keropos, maka bangunan tersebut pasti akan terancam roboh. Begitu juga Islam, Tanpa shalat, bangunan Islam pada diri seorang muslim niscaya akan roboh dan ambruk. Atau jika shalatnya bolong-bolong, maka bangunan Islam pada seseorang akan mudah untuk roboh.

Hal ini sebagaimana dipahami dari hadis Rasulullah Saw,”Shalat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) itu, dan barangsiapa merobohkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu. Hadis riwayat Baihaqi ini diperkuat oleh hadis lainnya, seperti hadis yang berbunyi: “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi dll).

Meskipun seorang muslim membayar zakat dan lain-lain, tapi jika shalat ditinggalkan, maka bagaimana mungkin bangunan Islam bisa ditegakkan? Apalagi, pada hadis lainnya disebutkan, “Islam dibangun atas lima perkara, yaitu: Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan naik haji ke Baitullah bagi yang mampu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima perkara ini adalah rukun Islam, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw. Apa yang kita pahami dari ‘rukun’? Rukun adalah syarat wajib, yaitu syarat yang wajib dilakukan oleh seorang muslim saat ia mengaku dirinya sebagai muslim. Sebagai contoh, dalam ibadah haji terdapat rukun-rukunnya, yang jika satu rukun tidak dikerjakan, maka hajinya tidak sah. Begitu juga dalam shalat terdapat terdapat rukun-rukunnya, bukankah satu saja rukun shalat ditinggalkan, maka shalatnya tidak sah? Rukun Islam adalah syarat-syarat wajib dan mendasar yang mesti dilakukan seseorang muslim yang dengan amalan itu ia disebut sebagai muslim. Lalu bagaimana kita memahami rukun Islam seseorang jika kewajiban shalat ia abaikan?

Sungguh ini perkara yang berat dan jangan sekali-kali disepelaikan wahai kaum muslimin. Apalagi, “Amalan seorang yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalannya. Namun jika buruk shalatnya maka buruk pula seluruh amalannya.” (HR. Thabrani). Tidakkah kita mengingat hari-hari yang akan kita jalani setelah kematian? Bagaimanakah kita akan menjawab kelak di hari perhitungan (yaumil hisab) saat ditanyai amalan shalat kita? Semua ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat adalah dosa besar yang melebihi dosa-dosa besar lainnya. Tidakkah kita merenungkannya?

Perhatian serius
Oleh sebab itu, di hadapan realitas banyaknya muslim yang abai atas kewajiban shalat sehari semalam lima waktu, serta ancaman kepada orang-orang yang meninggalkannya, maka sudah saatnya fenomena ini menjadi perhatian serius semua pihak di Aceh. Kita berharap para khatib terus menyeru masyarakat untuk konsisten mengerjakan shalat, kepada para orang tua agar terus mendidik dan memantau anak-anaknya untuk mengerjakan shalat.

Demikian pula semua institusi pendidikan, sekolah, kampus dan sebagainya agar betul-betul melakukan upaya ekstra untuk mengajak para pelajarnya mengerjakan shalat wajib. Kepada para da’i dan instansi yang menangani dakwah islamiyah, untuk saatnya memfokuskan dakwah ke warung kopi. Kepada setiap pimpinan dan atasan agar mengingatkan bawahannya akan kewajiban shalat dan mengevaluasi mereka.

Begitu juga, kepada para pengurus masjid untuk melakukan program-program kerja yang bisa mengundang masyarakat ke masjid, dan bukan hanya menunggu jamaah. Jika di sebuah masjid jamaah minim, maka sesungguhnya pengurus masjid dan segenap remajanya juga mesti berpikir apa yang harus dilakukan agar manusia tertarik ke masjid.

Dan terakhir, kepada setiap muslim untuk terus mengingatkan orang-orang di sampingnya, agar mengerjakan kewajiban shalat. Jangan sampai semakin banyak orang-orang yang secara tidak langsung ikut merobohkan tiang Islam di Aceh. Semoga Allah Swt senantiasa memberkati kita dan negeri ini. Amin ya Rabb. Wallahu a’lam bish-shawab.

* Teuku Zulkhairi, MA., Sekjen Pengurus Wilayah Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (PW Bakomubin) Aceh. Bekerja bidang Humas di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: abu.erbakan@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help