Jurnalisme Warga
Saat Para Kepala SMK Bireuen Menjemput Inspirasi dari Tanah Jawa
Perjalanan panjang dari Tanah Rencong menuju Pulau Jawa bukan sekadar mobilitas antarpulau, melainkan sebuah ikhtiar kolektif
FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMKN 1 Peusangan, Sekjen APMI, dan Pengurus MKKS SMK Bireuen, melaporkan dari Bandung, Jawa Barat
Perjalanan panjang dari Tanah Rencong menuju Pulau Jawa bukan sekadar mobilitas antarpulau, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjemput inspirasi dan menimba pengalaman. Semangat itulah yang mengiringi rombongan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Bireuen dalam kegiatan studi banding yang berlangsung sejak 7 hingga 10 April 2026.
Perjalanan para kepala SMK ini dimulai dari Kabupaten Bireuen menuju Bandara Kualanamu, Medan, dengan waktu tempuh mencapai delapan hingga sembilan jam. Rombongan pertama terdiri atas lima kepala sekolah bersama Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Bapak Murthalamuddin bertolak dari Banda Aceh dan bergabung di Pulau Jawa.
Meski menempuh perjalanan panjang yang cukup menguras energi, suasana kebersamaan tetap terasa hangat. Di sepanjang perjalanan, sesekali percakapan ringan muncul, diselingi diskusi kecil tentang harapan terhadap hasil studi banding ini.
Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 11.15 WIB, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju kawasan Pangjugjugan di Jawa Barat. Dalam perjalanan, rombongan singgah di Rest Area Km 57 untuk makan siang.
Sate maranggi yang disajikan dengan potongan tomat, cabai rawit, bawang merah, dan kecap memberikan sensasi rasa yang berbeda dibandingkan satai khas Aceh, misalnya satai Matang.
Kesederhanaan penyajiannya justru memperkaya cita rasa. “Lage nyoe sate jih, bak tanyoe eungkot bakar ta lheuk,” celetuk salah seorang peserta, disambut tawa ringan yang mencairkan suasana.
Perjalanan berlanjut menuju Pangjugjugan, sebuah kawasan yang menawarkan kesejukan dan panorama hijau yang menenangkan. Kawasan ini merupakan hasil pengembangan seorang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Kang Djadjat, bersama rekan-rekannya kelas tiga bio dua (GABEA) SMAN 3 Surabaya. Mereka membangun kawasan tersebut secara bertahap sejak tahun 2019.
Menurut Kang Anam, salah satu pengelola, kawasan itu dulunya merupakan lahan milik masyarakat. “Dulu ini mah punya masyarakat, kemudian dibeli dan dikembangkan. Awalnya ditanami pinus untuk menjaga sumber air,” ujarnya.
Kini, kawasan tersebut telah berubah menjadi ekosistem produktif dengan berbagai tanaman seperti durian, manggis, jambu, hingga pinang, serta terintegrasi dengan peternakan.
Pada malam hari, kegiatan diisi dengan ramah tamah dan diskusi santai. Dalam suasana hangat tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Aceh berbagi pengalaman tentang pengelolaan sumber daya lokal, khususnya dalam bidang peternakan.
“Dulu saya mengumpulkan sampah organik dari rumah tangga seperti air cucian beras, kulit ubi, hingga batang jagung untuk difermentasi menjadi pakan sapi,” ungkapnya. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi tentang pentingnya inovasi sederhana yang berdampak besar.
Keesokan paginya, rombongan melakukan pengamatan lebih lanjut di kawasan tersebut, termasuk melihat langsung aktivitas peternakan sapi perah.
Dari hasil wawancara dengan warga, diketahui bahwa satu ekor sapi mampu menghasilkan 14 hingga 15 liter susu setiap kali pemerahan.
“Kami memerah susu dua kali sehari, pagi dan sore. Hasilnya langsung diambil oleh koperasi desa,” ujar Sukinem, salah satu peternak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/FAisal-BANDUNG.jpg)