Sabtu, 25 April 2026

KUPI BEUNGOH

Sebelum Kampus Sempat Bicara!

Proses itu tidak terjadi dalam satu semester, tidak terjadi dalam satu kurikulum yang dirancang di atas meja rapat

Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Moritza Thaher, musisi Aceh yang juga pendiri Sekolah Musik Moritza 

Oleh: Moritza Thaher*)

Pendidikan seni di Aceh punya kebiasaan aneh: selalu memulai percakapan tentang siapa yang berwenang berbicara, dan hampir selalu menyimpulkan bahwa yang berwenang adalah mereka yang punya gelar dan gedung.

Padahal jauh sebelum ada jurusan, sebelum ada kurikulum semester — sudah ada orang yang setiap hari datang, duduk, dan mengajarkan. 

Baca juga: Saat Seudati Kalah dari ‘Dance Challenge’ TikTok, Masa Depan Seni Aceh Berangsur Punah?

Bukan karena ada SK pengangkatan. Tapi karena ada murid yang datang, dan ada yang perlu dipindahkan dari satu kepala ke kepala lain. 

Pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang sudah lebih dulu hadir?

Ketika Mengajar Tidak Butuh Akreditasi

"Hadir" dalam pendidikan seni bukan soal dokumen. 

Hadir adalah ketika ada hubungan yang hidup antara yang mengajar dan yang belajar — relasi yang tidak putus hanya karena semester berganti atau anggaran habis.

Di sanggar-sanggar yang tersebar dari Banda Aceh hingga kabupaten-kabupaten, proses seperti ini berlangsung setiap hari. 

Murid datang tidak tahu cara memegang alat, lalu bertahun kemudian tampil di panggung dan mengajar adik-adiknya sendiri. 

Baca juga: Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA

Proses itu tidak terjadi dalam satu semester, tidak terjadi dalam satu kurikulum yang dirancang di atas meja rapat. 

Ia terjadi karena ada konsistensi dan tanggung jawab yang tidak pernah menunggu hibah untuk bisa dijalankan.

Ekosistem seni yang sesungguhnya tidak tumbuh dari atas ke bawah. 

Ia tumbuh dari dalam ke luar — dari sanggar kecil, dari komunitas yang bertemu setiap minggu tanpa insentif finansial, dari lembaga yang bertahan bukan karena ada jaminan kelembagaan, tapi karena ada komitmen yang lebih tua dari semua regulasi yang mengatur mereka.

Baca juga: Aktor Film "Noeh", Jejak Djamal Sharief  di Dunia Seni Peran

Di tahun-tahun setelah konflik dan tsunami, ketika ruang publik Aceh sedang dibangun ulang, lembaga-lembaga seni non-formal inilah yang menjaga agar seni rapai, didong, dan musik tradisional Aceh tidak ikut terkubur dalam puing. 

Tanpa gelar sebagai syarat, tanpa anggaran negara sebagai penopang — mereka mengerjakan fungsi inti pendidikan: transmisi pengetahuan, pembentukan praktisi, pembangunan selera.

Siapa yang Menguasai Ruang Bicara

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved