Citizen Reporter

Bughsyan, Wisata Eksotis Bercadar di Hadhramaut

HADHRAMAUT adalah sebuah provinsi di Republik Yaman, tepatnya di Yaman Selatan

Bughsyan, Wisata Eksotis Bercadar di Hadhramaut
YUNALIS ABDUL GANI

OLEH YUNALIS ABDUL GANI BSc, Mahasiswa Pascasarjana asal Simpang Mamplam, Bireuen, alumnus Dayah Ummul Ayman, melaporkan dari Tarim, Yaman

HADHRAMAUT adalah sebuah provinsi di Republik Yaman, tepatnya di Yaman Selatan. Selain teritorialnya yang luas berpadang pasir, Hadhramaut juga memiliki pariwisata yang ajaib. Salah satunya adalah Bughsyan.

Bugsyan adalah salah satu ekowisata yang terletak di Distrik Haidul Jazil, puncak salah satu bukit di Lembah Dau’an, lembah yang terletak sekitar empat jam perjalanan dari Kota Tarim, kota saat ini saya berdomisili.

Beberapa pekan lalu saya bersama beberapa teman Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Wilayah Hadhramaut berkesempatan mengunjungi tempat yang penuh daya tarik itu.

Belakangan ini, wisata Bugsyan mulai dikenal masyarakat Yaman, bahkan pelancong mancanegara. Mengapa? Karena keindahan panaroma yang menghiasi alam Bughsyan sungguh menarik untuk dikunjungi.

Untuk menikmati indahnya alam Bugsyan, kami lebih dulu harus melewati serentetan gunung gundul yang melambung tinggi dan zig-zag dengan jalan aspal yang diapit oleh dua belahan gunung tandus.

Ketika memasuki kompleks losmen, kami disuguhi gerbang yang terbangun dari kayu berwarna cokelat dengan desain khas Yaman, layaknya gerbang kerajaan zaman dulu. Kemudian kami disapa oleh sebuah gedung raisi (pusat) sebagai tempat administrasi wisata.

Di area kompleks tersebut terdapat puluhan losmen yang bertaburan di sepanjang belahan kompleks. Yang ajaibnya, losmen tersebut terbuat dari tanah liat serta campuran seretan potongan kayu, melambangkan seni arsitektur zaman dahulu yang masih dijaga. Setiap bangunan losmen terdiri atas dua kamar atau lebih. Losmen ini memberi warna khas sebagai magnet yang menarik perhatian pelancong untuk menunjunginya.

Tempat wisata ini menyediakan beberapa fasilitas, di antaranya adalah ruang penginapan, ruang administrasi, museum kecil sebagai ruang penyimpanan barang sejarah, kios, kolam renang, taman mainan anak-anak, dan lain-lain.

Bugsyan dihiasi oleh sejuta keindahan, mulai dari bangunan-bangunannya yang ortodok dan konvensional, halamannya yang dilapisi batako khas Hadhramaut, swimming pool (kolam renang) yang berkonfigurasi kubus, dipagari oleh tembok besar layaknya tembok raksasa Cina, diapit oleh gunung, dan lembah dari semua arah. Berada di sana, pengunjung seperti sedang berada di dunia yang berbeda.

Di samping ruang administrasi terdapat satu museum kecil. Di dalamnya terdapat banyak benda sejarah Hadhramaut tempo dulu, seperti pedang dan perlengkapan perang lainnya, pernak-pernik perabotan rumah tangga masyarakat Hadhramaut zaman dulu beserta benda-benda bersejarah lainnya.

Tak jauh di arah belakang losmen, terdapat kolam renang yang berbentuk persegi empat dengan ukuran tidak terlalu luas. Di pinggir kolam dipagari dengan jerjak pagar berwarna cokelat kemerahan. Kolam renang ini disediakan khusus untuk pengunjung lelaki.

Meskipun tampangnya wisata, namun Bughsyan layaknya wisata yang berbusana religi. Pasalnya, ekowisata ini sunyi dari perbauran antara kaum lelaki dan perempuan. Memang, salah satu peraturan daerah wilayah Hadhramaut adalah tidak boleh berbaur antara lelaki dengan perempuan, baik di tempat-tempat wisata maupun tempat lainnya. Selain itu, para pengunjung dituntut untuk selalu menjaga norma-norma syariat Islam. Seperti halnya pengunjung perempuan yang berada di tempat ini harus menggunakan cadar layaknya perempuan di Hadhramaut.

Begitulah keindahan alam di wilayah Hadhramaut. Dengan alam yang berpadang pasir, namun Hadhramaut memiliki tempat wisata yang penuh daya Tarik. Tak hanya itu, pemerintah setempat juga “memagari” tempat-tempat tersebut dengan norma-norma syariat, sehingga syariat Islam tetap berjalan lancar di “Negeri Ssejuta Wali” ini.

Semoga tempat-tempat wisata di Aceh juga lebih terjaga dengan nilai-nilai islami, sehingga penerapan syariat di Tanoh Rencong tetap bertahan selamanya. Syariat kong, masyarakat seujahtera. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help