Citizen Reporter
Mengintip Geliat Industri Halal di Rusia
Rusia adalah negara besar yang terletak di sebelah timur Eropa dan sebelah utara Asia, memiliki populasi 147,1 juta jiwa dan mayoritas penduduknya ber
Prof. Dr. SYAHRIZAL ABBAS, M.A., Ketua Program Studi Doktor Fikih Modern UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Kazan, Rusia
Ekonomi syariah sebagai sistem ekonomi yang bersumber dari Al-Qur’an dan assunah telah memainkan peran strategis dalam percaturan ekonomi global. Ekonomi syariah tidak hanya dipandang sebagai instrumen ekonomi masyarakat di negara-negara muslim, tetapi juga sudah menjadi paradigma baru (new paradigm) dan gerakan komunitas ekonomi di Eropa, termasuk negara Federasi Rusia.
Rusia adalah negara besar yang terletak di sebelah timur Eropa dan sebelah utara Asia, memiliki populasi 147,1 juta jiwa dan mayoritas penduduknya beragama Kristen Ortodoks.
Namun, negara ini telah membuka ruang lebar bagi tumbuh-kembangnya ekonomi syariah, termasuk industri halal. Hal ini dibuktikan dengan diselenggarakannya Kazan Forum 2025 di Kota Kazan, Republik Tatarstan Federasi Rusia.
Kazan Forum 2025 yang dimulai 13-16 Mei 2025 dihadiri berbagai delegasi dunia. Tidak hanya dari negara-negara Islam (OKI), tetapi juga dari negara-negara yang tergabung dalam BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan, dan lain-lain).
Kazan Forum merupakan agenda rutin tahunan Pemerintah Republik Tatarstan, Federasi Rusia, yang didukung oleh OKI. Tahun ini Kazan Forum mengangkat tema “Penguatan Ekonomi Islam di Dunia” dalam rangka memperkuat hubungan kerja sama Rusia dengan Dunia Islam.
Kami berkesempatan berpatisasipasi dalam Kazan Forum 2025. Salah satu isu utama yang dibahas dalam Kazan Forum 2025 adalah industri halal, di samping topik ekonomi lainnya seperti: keuangan Islam dan investasi, wisata, ekonomi, pendidikan, budaya, logistik, transportasi, obat-obatan, olahraga, tantangan global, lembaga bisnis dunia, pembangunan properti, dan kerja sama internasional.
Industri halal merupakan tren baru dari sisi segmen ekonomi dan bisnis, terutama bagi negara-negara Eropa, mengingat industri halal yang menghasilkan produk dan jasa sudah menjadi kebutuhan sebagian besar masyarakat dunia. Kebutuhan masyarakat dunia, termasuk masyarakat Eropa, terhadap produk halal seperti makanan, minuman, obatan-obatan, kosmetik, dan lain-lain semakin hari makin meningkat. Hal yang sama juga dirasakan pada sektor jasa yang dihasilkan melalui industri halal seperti wisata, transportasi, perhotelan, keuangan, dan perbankan.
Kebutuhan masyarakat dunia—terutama masyarakat Eropa terhadap industri halal—tentu tidak bertumpu pada landasan ideologi dan keyakinan keagamaan. Akan tetapii, minat dan kebutuhan mereka terhadap industri halal seperti makanan, minuman, obata-obatan, dan kosmetika lebih didasari pada pertimbangan nilai kesehatan, kenyamanan, lingkungan, ‘hospitality’, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Industri halal merupakan industri yang menghasilkan produk yang menjamin kesehatan pengguna/pelanggan, baik secara fisik maupun mental kemanusiaan. Daging yang bersertifikat halal misalnya, dapat dipastikan bahwa diperoleh melalui penyembelihan sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an dan sunah, seperti: hewan yang disembelih mesti sehat, membaca basmalah, menggunakan pisau tajam, ketika penyembelihan tidak dilihat oleh hewan lain, dan berbagai prosedur penyembelihan dalam Islam yang telah menjadi standar prosedur (SOP) dalam mendapatkan daging halal.
Daging halal (halal meat) yang dikonsumsi sangat berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental manusia. Jadi, daging halal adalah daging yang dihasilkan dari hewan halal dan proses penyembelihannya juga halal, yang kemudian, ketika diolah menjadi makanan juga dilakukan melalui proses yang baik dan sehat (halalan thayyiban).
Oleh karena itu, diperlukan sertifikasi halal untuk menjamin dan memastikan bahwa produk yang dihasilkan melalui industri halal benar-benar memenuhi standar sebagaimana dikehendaki oleh Al-Qur’an dan sunah yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi modern.
Penerapan prinsip tata kelola yang baik dalam industri halal akan mencegah praktik ribawi, gharar, judi, dan tindakan manipulatif lain yang bertentangan dengan nilai-nilai universal kemanusiaan.
Produk halal sudah menjadi kebutuhan masyarakat dunia di mana pun mereka berada, tanpa mempersoalkan produk tersebut berasal dari negara-negara Islam, ataupun bukan negara Islam.
Core point-nya adalah produk dan jasa harus memiliki sertifikat halal yang diakui oleh berbagai negara di dunia. Di sinilah urgensi Kazan Forum 2025, untuk membangun komitmen bersama dari delegasi negara peserta forum, guna melahirkan flatform standardisasi sertifikasi halal yang diterima oleh pasar global.
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Penulis CR
Mengintip Geliat Industri Halal di Rusia
Prof Syahrizal Abbas
| Dari Sopir Truk Menjadi Pengusaha: Raja Khatami Berbagi Waktu untuk Bisnis Sambil Kuliah di UNIKI |
|
|---|
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SYAHRIZAL-ABBAS-for-Rusia.jpg)