SerambiIndonesia/

Haji Uma Minta BNN Klarifikasi Pernyataan Menyudutkan Aceh

"BNN tidak asal memberi pernyataan tanpa didukung data dan hasil pembuktian yang didasari proses penelitian ilmiah,"

Haji Uma Minta BNN Klarifikasi Pernyataan Menyudutkan Aceh
Dokumen Serambi Indonesia
Anggota DPD asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma. 

Laporan Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON - Senator asal Aceh H Sudirman Alias Haji Uma meminta Kasubdit I Masyarakat Pedesaan BNN Pusat Hendrajid Putut Wigdado untuk mengklarifikasi pernyataan yang dinilai menyudutkan masyarakat Aceh.

Pejabat BNN pusat tersebut menyebutkan, 90 persen masyarakat Aceh tidak bisa dipisahkan oleh ganja karena terkait akar budaya yang seperti akar ganja, sebagaimana diberitakan media online pada Sabtu, 14/20/2017).

(Baca: Mengamuk di Kantor BNN karena Pengaruh Narkoba, Seorang Pemuda Ditembak)

"BNN tidak asal memberi pernyataan tanpa didukung data dan hasil pembuktian yang didasari proses penelitian ilmiah terpercaya secara metode dan objektif," ujar anggota komite II DPD RI asal Aceh tersebut kepada Serambinews.com.

Haji Uma menilai pernyataan BNN menyesatkan jika tidak dapat dibuktikan dengan menunjukkan data, variable dan indikatornya.

Perlu diingat kata Haji Uma, dampak dari pernyataan ini sangat serius karena akan membentuk opini negatif dan destruktif terhadap citra masyarakat Aceh.

Untuk itu, Haji Uma meminta BNN untuk memberi klarifikasi dan menjelaskan dengan detail dasar lahirnya pernyataan tersebut kepada publik nasional.

(Baca: Pencabulan Pasien, Haji Uma: RSUZA tak Cukup Minta Maaf, Harus Ada Sanksi untuk Tenaga Medis)

"Komposisi masyarakat Aceh berdasarkan data BPS 2016 yaitu 2.545.113 jiwa laki-laki dan 2.551.135 perempuan. Sementara itu, 31,30 persen adalah kelompok usia 0-14 tahun. Jadi apakah logis pernyataan 90 persen masyarakat Aceh tidak dapat dipisahkan dari ganja," ujar Haji Uma.

Lebih lanjut, Haji Uma mengingatkan BNN agar tidak melakukan pembunuhan karakter orang Aceh melalui pernyataan tersebut, hanya demi kepentingan untuk rasionalisasi dan justifikasi program Grand Design Alternative Development (GDAD) yang sedang digalakkan.

Kemudian sebagai orang Aceh dan anggota DPD RI asal Aceh, Haji Uma sangat tersingung dan mengecam keras pernyataan BNN yang menyebut akar budaya Aceh seperti akar ganja, makan berobat dari sumber ganja.

Menurut Haji Uma, itu pernyataan bodoh dari sebuah lembaga negara dan telah menghina budaya dan merendahkan derajat masyarakat Aceh. (*)

Penulis: Jafaruddin
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help