Senin, 18 Mei 2026

Citizen Reporter

Sederhananya Teknologi di Mesir

MESIR adalah sebuah negeri eksotis untuk dikunjungi, negeri yang terbentang di sepanjang Sungai Nil

Tayang:
Editor: bakri
MUHAMMAD RIZKI AZMI 

OLEH MUHAMMAD RIZKI AZMI, putra Keumala, Pidie, mahasiswa STIS Ummul Aayman Meureudu, Pidie Jaya, sedang mengikuti Darul Lughah di Mesir, melaporkan dari Nars City, Kairo

MESIR adalah sebuah negeri eksotis untuk dikunjungi, negeri yang terbentang di sepanjang Sungai Nil, saksi sejarah peradaban umat manusia dari zaman kuno hingga zaman modern memiliki nama asli Republik Arab Mesir. Orang Barat menyebutnya Egypt.

Kekayaan dan keberagaman sejarah membuatnya menjadi negara maju di Afrika, negeri di mana Nabi Yusuf dan Musa pernah diutus Allah untuk berdakwah.

Di negeri itu pula Fir’aun pernah berjaya dengan meningalkan piramid (Ahram) sebagai bukti kejayaannya. Lalu bersambung dengan abad kejayaan Islam ditandai dengan adanya bangunan masjid kuno, Benteng Salahudin, dan universitas tertua dunia, Al-Azhar Asy Syarief. Itu pula yang membuatnya mendapat banyak julukan, di antaranya Bumi Para Ambiya, Bumi Kinanah, Negeri Seribu Menara, Ardh al Hadharat (Bumi Peradaban), Negeri Pergerakan, bukan ungkapan yang berlebihan sepertinya dikarenakan Mesir telah mencetak banyak ulama terkemuka di dunia, namun jangan membayangkan Mesir dengan bangunan yang supermodern seperti di film-film ataupun seperti negara maju lainya di dunia karena yang akan kita temukan.

Sebaliknya justru hampir semua bangunan di Mesir adalah bangunan kuno yang kumuh dengan dinding bercatkan debu, dan hampir remuk dimakan masa, layaknya seperti pemandangan tempo doeloe. Itulah yang akan menjadi pemandangan kita sehari-hari, ke mana pun kita pergi, kecuali hanya di beberapa tempat elite seperti pinggiran Sungai Nil, Ma’adi, Helios, dan lainya yang suasananya mungkin terlihat sedikit lebih mewah.

Kesederhanaan teknologi di Mesir dapat kita jumpai di Al Azhar Asy Syarief sebagai contohnya. Mereka menerapkan sistem pengajaran dan tata usaha yang konvensional. Alasannya, ratusan tenaga kerja mungkin akan kehilangan pekerjaannya jika Al-Azhar mengganti dengan sistem komputer. Hal ini pun berimbas baik bagi seluruh rakyat Mesir dengan berkurangnya angka pengangguran dan dapat mengurangi tingkat kriminalitas.

Mesir bukan berarti terbelakang dalam hal teknologi, bahkan pengawasan teknologi untuk warganya begitu besar mendapat perhatian dari Pemerintah Mesir. Ini dibuktikan dengan adanya progam komputer per rumah dan harga internet yang lumayan murah.

Kesederhanaan penduduk Mesir juga akan kita temui di jalan-jalan di mana mereka masih mengenakan mobil-mobil butut tua yang berdebu yang jauh dari kata-kata mengilat, tapi jangan salah mobil tua tersebut cukup bermerek lho. Hanya saja mereka tidak peduli dengan keadaan body-nya yang lecet ataupun lampu kacanya yang sudah pecah. Sepertinya tidak ada kata gengsi pada mereka. Hal itu di tandai dengan banyaknya mobil mengunakan plaster atau lakban jika ada body atau lampu sign-nya yang hampir copot atau lampu kacanya sudah pecah. Ssepertinya mereka lebih suka mengunakan lakban sebagai penggantinya daripada mengantinya dengan yang baru. Jika kendaraan mereka tak sengaja ditabrak, maka mereka tak segan-segan beradu mulut. Tapi semua itu akan berakhir damai ketika terdegar kata-kata Shalli’ ‘alan nabi (berselawat kepada manusia, maka urusan seberat apa pun akan di terima dengan lapang dada.

Suasana religius di sini sangat terasa karena 90 persen penduduknya adalah muslim dan selebihnya adalah Kristen Koptik dan Yahudi sehinga kalimat zikir seperti masya Allah, la quwwata illa billah, tawakal alallah ada di mana hampir di semua area bahkan di dalam bus angkutan umum pun tak luput dari kalimat agung tersebut. Mereka menjadikanya sebagai pegangan hidup mereka, bacaan Alquran mengunakan pengeras suara terdengar di sana-sini. Bahkan anak muda Mesir juga memasang loudspeaker di motor mereka, lalu menghidupkannya dengan volume yang sangat tinggi. Mungkin hal itu akan terlihat lucu di mata orang Indonesia.

Pada dasarnya orang Mesir adalah pribadi yang suka menolong dan berkasih sayang, menebar salam, dan saling mendoakan saat bertemu adalah ciri khas mereka tidak hanya sesama Mesir, bahkan untuk wafidin (pelajar Al Azhar yang berasal luar negeri) mereka sangat suka menolong selama kita tidak melanggar kode etik negara mereka. Akan tetapi, masalah administrasi di negeri ini masih amburadul, pegawainya suka menunda-nunda dengan ucapan bukrah (besok). Begitulah sekilas tentang kemesiran, semoga bermanfaat.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved