Citizen Reporter

Pengajian Tastafi Awak Aceh di Denmark

JAK beut [bahasa Aceh] yang artinya “pergi mencari ilmu” adalah kewajiban setiap hamba Allah, seperti sabda Rasulullah saw

Pengajian Tastafi Awak Aceh di Denmark
ABDUL RAZAQ RIDHWAN

OLEH ABDUL RAZAQ RIDHWAN, Pembina Majelis Zikir Kota Langsa (Mazka), alumnus Mudi Mesra Samalanga, melaporkan dari Kota Hojiring, Denmark

JAK beut [bahasa Aceh] yang artinya “pergi mencari ilmu” adalah kewajiban setiap hamba Allah, seperti sabda Rasulullah saw, “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.” Jadi, di mana pun kita berada, kewajiban menuntut ilmu itu tak akan pernah lekang dari setiap muslim. Warga Aceh di Denmark pun melakukan hal serupa.

Sejauh yang saya amati, warga Aceh di Denmark saat ini terkonsentrasi di dua tempat, satu di Kota Hojiring dan satu tempat lagi di Kota Ars. Jarak tempuh antara Kota Hojiring dan Ars satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat.

Mumpung masih berada di Denmark dalam kunjungan satu bulan, saya juga menghidupkan program guru yang mulia Abu MUDI Samalanga, yaitu pengajian Tastafi (Tasawuf, Tauhid, dan Fikih) di Denmark, bahkan di Norwegia dan Swedia.

Dalam perjalanan safari dakwah di Hojiring, saya bersilaturahmi ke rumah-rumah warga Aceh di kota ini. Hampir 20 rumah kami kunjungi dalam silaturahmi ini. Pada hari Jumat malam Sabtu saya mengadakan dan membuka pengajian Tastafi Cabang Denmark di Kota Hojiring bersama warga Aceh.

Pengajian dimulai setelah shalat Isya sampai selesai. Pengajian dilanjutkan lagi pada hari Sabtu setelah shalat Zuhur. Pengajian pada hari Sabtu diikuti juga oleh anak-anak Aceh.

Pengajian diawali dengan latihan selawat dan zikir bersama, kemudian dilanjutkan dengan pengajian dan tanya jawab seputar masalah agama.

Tinggal di negara yang berbeda kultur dengan Aceh, ternyata tak menjadi hambatan bagi perantau-perantau (diaspora) Aceh untuk mendalami ilmu agama maupun saat merayakan hari-hari besar Islam. Itu karena negara seperti Denmark, Swedia, dan Norwegia memberikan kebebasan kepada setiap warganya menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya.

Pengajian Tastafi bagi warga Aceh yang berdomisili di Hojiring diadakan di salah satu masjid di Hojiring. Masjid tersebut merupakan masjid yang disewa oleh umat Islam di kota tersebut. Masyarakat Aceh termasuk pegiat utama di masjid ini. Masjid yang dijadikan tempat shalat Jumat bagi umat Islam di Hojiring ini berada di tengah kota. Masjid tersebut hanyalah sebuah gedung kecil yang disewa dan mampu menampung 200 jamaah.

Masyarakat Aceh menjadikan masjid tersebut sebagai tempat pengajian setiap hari Sabtu dan Minggu.

Walaupan di tengah kesibukan dan hidup di Eropa, tapi semangat warga Aceh untuk menuntut ilmu agama tetap menonjol. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama satu bulan berada di negara-negara Semenanjung Skandinavia ini.

Semoga semangat perantau Aceh untuk berjihad dalam menuntut ilmu di tanah Eropa ini tidak pernah pudar, meskipun mereka disibukkan oleh upaya mencari nafkah. (*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help