Hasil Panen Padi di Pidie Menurun
Petani di Kabupaten Pidie, khususnya di Kecamatan Simpang Tiga, mengeluhkan hasil panen
SIGLI - Petani di Kabupaten Pidie, khususnya di Kecamatan Simpang Tiga, mengeluhkan hasil panen padi tahun ini yang menurun drastis dibanding tahun lalu. Penyebabnya, musim kering dan irigasi yang berrmasalah, serta persoalan kurang tersedianya pupuk. Sehingga mempengaruhi pertumbuhan padi.
M Hasan (50), petani di Simpang Tiga, Selasa (20/2) mengaku, hasil panen kali ini hanya 4 sampai 5 ton per hektare. Sedangkan tahun lalu, hasil panen mencapai tujuh hingga delapan ton per hektare.
Menurut menurut M Hasan, penyebabnya adalah pasokan air dari irigasi tak mencukupi, ditambah lagi kurang curah hujan. Beberapa petani bahkan harus menyemai ulang benih padi, karena benih sebelumnya mati kekeringan.
M Amin (50), petani lainnya di kawaasn itu juga mengungkapkan, biasanya dalam satu hektare sawah, ia mendapat hasil panen padi sebanyak enam ton sampai delapan ton. Namun pada musim panen kali ini, ia hanya memperoleh empat sampai lima ton per hektare. Berarti terjadi penurunan sekitar dua ton per hektare.
Selain faktor irigasi, kurangnya hasil panen juga disebabkan tanaman padi kekurangan pupuk jenis NPK Ponska. Selain itu juga banyak tanaman padi terkena hama wereng. “Program pupuk subsidi tidak memberi manfaat kepada petani, karena banyak yang disalahgunakan. Sementara, petani tetap harus membeli pupuk nonsubsidi pada setiap musim tanam. Selain itu, persoalan irigasi juga tidak mampu diatasi oleh pemerintah. Sehingga petani selalu dirugikan,” kata M Amin.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Ir Ainul Mardyiah, Selasa (20/2) sore mengaku, menurunnya hasil panen padi terjadi hampir di semua di kecamatan di Pidie. “Saat padi di masa pengisian bulir (premordia) terjadi kekurangan air, sehingga berdampak buruk terhadap hasil panen,” katanya.
Dampak kemarau di sejumlah wilayah di Aceh ternyata belum terlalu mempengaruhi hasil panen padi di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay). “Alhamdulillah, tanaman padi di Pijay masih normal,” kata Kepala Dinas Pertanian Pangan (Kadistanpang) Pijay, drh Muzakkir Muhammad, Selasa (20/1).
Muzakkir menyebutkan, dalam dua hari terakhir, pihaknya sudah melakukan pemantauan ke semua kecamatan. Hasilnya, secara umum pertumbuhan tanaman padi masih normal dengan kondisi lahan masih basah.
Ia mengakui dalam beberapa pekan terakhir, debit air sungai yang memasok air ke irigasi, cenderung menurun. Seperti di Krueng Jeulanga dan Irigasi Lhok Gob Bandardua, dan Krueng Ulim. “Terbatasnya ketersediaan air perlu disikapi dengan memanfaatkannya sehemat mungkin. Bila perlu, pengairan sawah dilakukan secara bergilir,” saran Muzakkir.(ag)