Opini

Overdiagnosis Difteri?

SEJAK awal 2017 lalu, penyakit difteri kembali mewabah. Sepanjang tahun tersebut ditemukan hampir 100 kasus di Aceh

Overdiagnosis Difteri?
SERAMBI /NUR NIHAYATI
MURID SD 1 Lampoh Saka, Kecamatan Peukan Baro, Pidie disuntik Imunisasi difteri di sekolah itu, Selasa (14/11). 

Oleh Aslinar

SEJAK awal 2017 lalu, penyakit difteri kembali mewabah. Sepanjang tahun tersebut ditemukan hampir 100 kasus di Aceh dan masih terus terjadi sampai sekarang. Pada Januari 2018 ini saja, sudah ditemukan 31 kasus difteri. Tentu ini merupakan hal yang sangat mengerikan bagi kita semua, karena berkaitan dengan sifat penularan difteri yang sangat cepat juga pengobatan yang lama butuh isolasi, serta komplikasi yang disebabkannya bahkan bisa berakhir dengan kematian.

Selama ini, Dinas Kesehatan, para dokter umum, dokter spesialis anak juga berbagai organisasi terkait, baik itu Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) maupun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) turut aktif berperan memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang penyakit difteri tersebut. Bahkan sosialisasi di berbagai media sosial juga berlanjut.

Hampir sebagian besar masyarakat menjadi tahu apa itu difteri, bagaimana mencegahnya dan apa saja tanda serta gejalanya. Kepanikan juga mulai terasa (terjadi). Yang sebelumnya banyak para orang tua yang tidak mengimunisasi anaknya, karena ragu (akibat berbagai isu yang tidak bertanggung jawab) atau tidak sempat karena kesibukan, akhirnya membawa anaknya untuk imunisasi.

Kondisi ini tentu menjadi kabar baik bagi dunia kesehatan dengan bertambahnya angka cakupan imunisasi khususnya DPT. Akan tetapi tetap saja (lagi-lagi) ada kelompok yang tetap menolak dengan ngotot untuk mengimunisasi anaknya dengan membawa alasan bahwa sakit itu sudah takdir. Jadi, tidak perlu pencegahan dengan vaksin cukup berikan ASI, madu, herbal atau air nenas saja. Atau tetap dengan menghembuskan isu haramnya kandungan vaksin walaupun para ahli sudah dengan berbuih membeberkan isi kandungan vaksin yang bersih dari yang dituduhkan.

Dan, yang lebih parah lagi, ada antivaks yang menyebarkan isu tentang “proyek vaksin”. Bahwa penyakit difteri tersebut sengaja dihembuskan isunya, supaya vaksin laku keras. Sungguh tuduhan yang penuh fitnah. Mau bukti apalagi kalau difteri itu memang terjadi, sudah banyak korban yang berjatuhan karena penyakit difteri ini. Apa harus mengenai keluarga kita sendiri, baru kemudian kita akan sadar tentang pentingnya vaksin tersebut?

Sangat berat memang berhadapan dengan mereka ini, istilahnya kalau sudah kadung benci, apapun alasan tidak akan diterima, selalu mencari pembenaran diri. Kehadiran para antivaksin tersebut tidak pernah menyurutkan langkah kami para praktisi kesehatan untuk terus mengedukasi. Karena sejatinya edukasi adalah tugas kita semua.

Sangat menular
Penyakit difteri sangat menular, disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Penyakit ini sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan kematian yang disebabkan oleh obstruksi (sumbatan) laring atau karena miokarditis (komplikasi pada jantung). Bakteri penyebab penyakit ini mengeluarkan toksin (racun) yang bisa menyebabkan pembengkakan tonsil (amandel), hingga menutup jalan nafas. Toksin yang dihasilkan tersebut juga bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung (miokarditis), sistem saraf (neuritis), dan ginjal (glomerulonefritis).

Difteria ditularkan melalui kontak dengan pasien atau melalui droplet (percikan) ketika batuk, bersin atau saat berbicara. Muntahan atau debu juga bisa merupakan media penularannya. Kuman yang terpercik akan masuk ke mukosa di sekitar mulut, kemudian akan melekat serta berkembang biak di bagian permukaan mukosa saluran pernafasan bagian atas, dan mulai menghasilkan toksin yang akan disebarkan ke sekelilingnya. Selanjutnya akan dibawa ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Berat ringannya gejala yang timbul sangat bervariasi dari tanpa gejala sampai yang berat bahkan fatal akibatnya. Faktor yang berperan adalah sistem imunitas orang yang diserang, virulensi dan kemampuan kuman membentuk toksin. Faktor lain adalah usia, penyakit yang sedang diderita, dan penyakit yang ada di lokasi saluran nafas atas yang sudah ada sebelumnya. Masa tunas difteria (masa dimulai dari saat infeksi sampai timbul gejala) berkisar 2-6 hari.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved