Opini
Overdiagnosis Difteri?
SEJAK awal 2017 lalu, penyakit difteri kembali mewabah. Sepanjang tahun tersebut ditemukan hampir 100 kasus di Aceh
Jadi apabila pasien datang dengan curiga ke arah difteri (suspected), maka harus dirawat di RS dan diperlakukan sebagai pasien difteri. Pengobatan tanpa dan tidak boleh menunggu hasil kultur swab tenggoroknya. Penatalaksanaan yang diberikan bisa hanya berdasarkan kecurigaan klinis dan pemeriksaan fisik, dikarenakan pertimbangan waktu yang lama menunggu hasil kultur dan besarnya risiko bila tidak langsung diobati. Sekalipun nantinya hasil kultur yang keluar adalah negatif, tata laksana tetap dilakukan asalkan kondisi klinis sesuai mengarah ke penyakit difteri.
Perawatan pasien difteri dilakukan di ruang isolasi, dirawat selama 10-14 hari dengan pemberian ADS (Anti Difteria Serum), obat yang sangat mahal dengan harga jutaan per botol (vial) akan tetapi sekarang bisa didapatkan gratis oleh pasien. Kemudian pemberian suntikan antibiotika Penisilin Prokain selama 10 hari yang disuntikkan di paha/bokong, pengobatan suportif dan terapi terhadap komplikasi yang ditemukan. Dilanjutkan dengan pemberian pengobatan terhadap keluarga atau siapapun yang kontak dengan pasien difteri ini.
Jadi beginilah cara seorang dokter anak mendiagnosis suatu penyakit difteri bukan dengan asal diagnosis akan tetapi berdasarkan ilmu yang berbasis bukti ilmiah. Jadi tidak ada yang namanya overdiagnosis difteri, walaupun nanti hasil kultur apusan tenggoroknya keluar hasil negatif. Ini yang perlu dipahami oleh kita semua, sehingga tidak ada anggota keluarga yang merasa dikecewakan dengan tindakan pengobatan yang sudah diambil oleh dokter.
Saat pasien dibolehkan pulang, artinya sudah bersih dari kuman yang ada di tenggorokannya dan tidak akan menularkan lagi kepada siapapun di sekitar. Jadi kepada masyarakat supaya tidak menjauhi pasien difteri yang sudah pulang ke rumah, termasuk jangan mengucilkan pasien dan keluarganya. Karena bila kita berada di posisi tersebut, tentu kita juga tidak mau diperlakukan demikian. Nah!
dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed., Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama (Unaya), pengurus IDAI Aceh, dan IDI Aceh Besar. Email: ummihirzi@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/imunisasi-murid-sd_20171114_162044.jpg)