Opini

Menuju Peradaban Islam Masa Depan

PERTUMBUHAN kaum muslimin di dunia, hari ini cukup menggembirakan. Dirangkum dari data Pew Research Center

Menuju Peradaban Islam Masa Depan
masjid raya masa depan

Oleh Antoni Abdul Fattah

PERTUMBUHAN kaum muslimin di dunia, hari ini cukup menggembirakan. Dirangkum dari data Pew Research Center (Kamis, 2/4/2015), jumlah pemeluk agama Islam meningkat sangat cepat dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Bahkan, nyaris mengimbangi jumlah pemeluk agama Kristen. Menurut lembaga survei internasional ini, tren ini akan terus berlanjut hingga 2050. Dengan perkiraan mencapai 2,8 miliar muslim pada 2050 atau 30% dari penduduk dunia nantinya adalah orang Islam.

Meskipun data tersebut berasal dari populasi umat Islam di Eropa. Namun, tetap saja prediksi perkembangan jumlah kaum muslimin dari tahun ke tahun ini menjadi sebuah berita gembira. Bagaimana tidak, pascapropaganda 911 --yang ditandai dengan runtuhnya Menara Kembar WTC di Amerika Serikat pada 2001 silam-- banyak penduduk dunia yang tertarik mempelajari Islam.

Sebagai satu agama yang langsung diturunkan oleh Pencipta jagad raya, tentu saja Islam menjadi agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Di mana sang pencipta pasti mengetahui apa saja yang dibutuhkan ciptaannya. Allah Swt menurunkan Islam ke muka bumi dengan seperangkat sistem yang akan menyelesaikan setiap problematika kehidupan manusia. Dari tidur hingga bangun tidur. Dari lahir ke dunia hingga mati.

Semua itu tinggal dikaji dengan seperangkat alat menggali hukum (ijtihad). Allah Swt berfirman, “Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Alquran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.” (QS. Al-Hadid: 9).

Menjadi tren
Berbanding lurus dengan perkembangan jumlah kaum muslimin di dunia. Saat ini, syariat Islam juga telah menjadi tren di tengah peradaban dunia. Sebut saja, umat Islam saat ini mulai tertarik menghafal dan mengkaji Alquran kembali. Berbagai lembaga didirikan untuk mudah menghafal Alquran dan hadis. Begitu pula di meunasah-meunasah hingga di masjid di kota bertabur berbagai kajian-kajian Islam.

Lembaga-lembaga pendidikan bahasa Arab juga tak kalah banyaknya menyasar kampung-kampung dan ibu kota. Nabi Muhammad saw pun telah bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” Alquran menjadi bacaan sehari-hari umat karena Alquran dimudahkan oleh Allah Swt untuk dihafal. Kemudahan ini menyebabkan manusia semakin mencintai Alquran untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Alquran, hadis dan bahasa Arab adalah fondasi dalam menggali hukum-hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan ijtihad-lah, syariat Islam akan dapat dihidupkan kembali di bumi Allah ini. Syariat tidak akan bisa bertahan selama aktivitas ijtihad tidak hidup. Sebab berbagai faktor perkembangan kehidupan dan pentingnya penyebaran syariat Islam ke seluruh pelosok dunia membutuhkan ijtihad.

Dengan ijtihad setiap tantangan dan masalah baru yang mendera umat saat ini pasti dapat diselesaikan dengan mudah. Tanpa ijtihad, syariat Islam akan terbelenggu oleh taqlid buta yang akan membuat kehidupan manusia menjadi sempit dan dapat menimbulkan kekeliruan dalam beragama.

Satu faktor kemunduran umat Islam terdahulu adalah disebabkan oleh ditutupnya pintu ijtihad oleh para pemimpinnya, sehingga umat Islam tidak lagi dapat menjawab tantangan zaman pada masa itu. Umat tidak lagi dapat membedakan di mana hadharah (peradaban) dan madaniyah (hasil peradaban). Padahal, pintu ijtihad sendiri tidak akan pernah tertutup hingga hari kiamat kelak.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved