KUPI BEUNGOH
Catatan Kritis Pendidikan Indonesia pada Hardiknas 2026
Pendidikan bukan proyek lima tahunan, melainkan investasi peradaban yang dampaknya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang lintas generasi
Oleh: Dr. Iswadi, M.Pd*)
Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 kembali menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan Indonesia.
Namun, di tengah berbagai seremoni, slogan optimisme, dan capaian yang kerap dipublikasikan, terdapat kebutuhan mendesak untuk melihat sisi lain yang lebih jujur dan kritis.
Pendidikan Indonesia tidak hanya membutuhkan perayaan, tetapi juga keberanian untuk mengakui berbagai persoalan mendasar yang hingga kini belum terselesaikan secara tuntas.
Salah satu persoalan utama yang masih terlihat jelas adalah kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.
Hingga tahun 2026, akses terhadap pendidikan yang layak masih belum merata. Di banyak wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), sekolah masih menghadapi keterbatasan serius, mulai dari kekurangan guru berkualitas, minimnya fasilitas belajar, hingga terbatasnya akses terhadap teknologi pendidikan.
Ironisnya, di saat sekolah sekolah di kota besar mulai membicarakan kecerdasan buatan, pembelajaran berbasis digital, dan transformasi teknologi, sebagian siswa di pelosok masih berjuang dengan keterbatasan buku dan infrastruktur dasar.
Kesenjangan ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menunjukkan adanya ketimpangan struktural yang perlu ditangani secara serius dan berkelanjutan.
Selain masalah pemerataan, dunia pendidikan Indonesia juga masih dihadapkan pada persoalan ketidakstabilan kebijakan.
Perubahan kurikulum yang terjadi secara berulang setiap kali pergantian menteri atau kebijakan baru menunjukkan lemahnya konsistensi arah pendidikan nasional.
Guru dan sekolah sering kali dipaksa untuk beradaptasi dengan sistem baru sebelum sempat memahami dan menguasai sistem yang lama secara mendalam.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian di lapangan. Pendidikan seharusnya memiliki arah jangka panjang yang konsisten, bukan menjadi ruang eksperimen kebijakan yang terus berubah tanpa evaluasi yang matang.
Pendidikan bukan proyek lima tahunan, melainkan investasi peradaban yang dampaknya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang lintas generasi.
Baca juga: Wamendikdasmen Pastikan Revitalisasi Tingkatkan Mutu Pendidikan
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kualitas dan kesejahteraan guru. Meskipun berbagai program pelatihan dan peningkatan kompetensi telah dilaksanakan, dampaknya belum sepenuhnya menyentuh aspek substansial di lapangan.
Banyak guru masih terbebani oleh pekerjaan administratif yang berlebihan, sehingga waktu dan energi untuk melakukan inovasi pembelajaran menjadi terbatas.
| Kepemimpinan Perempuan dalam Pendidikan: Substansi atau Sekadar Simbol? |
|
|---|
| May Day 2026 Menjadi Momentum Refleksi Bagi Dunia Ketenagakerjaan Indonesia |
|
|---|
| JKA, Politik Anggaran, dan Soliditas PA Sebagai Partai Penguasa di Aceh |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 14, Perjuangan Membangun Perdamaian |
|
|---|
| PR untuk Rektor dan MPA: Menyoal Peringkat Pendidikan Aceh 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta_20260424.jpg)