Citizen Reporter

Rindu Masakan Aceh Saat di Changchun

SUDAH hampir enam bulan sejak September lalu saya berani menginjakkan kaki ke negeri ini, Korea Utara

Rindu Masakan Aceh Saat di Changchun
DESI YULIANA

OLEH DESI YULIANA, Mahasiswi Northeast Normal University, melaporkan dari Changchun, Taiwan

SUDAH hampir enam bulan sejak September lalu saya berani menginjakkan kaki ke negeri ini, Korea Utara. Sejak itu pula saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda, bahkan dari udara yang saya hirup.

Tidak hanya faktor cuaca yang berbeda, tetapi juga jenis makanan yang tersedia pun membuat selera makan saya berkurang. Hal ini sering saya rasakan saat tinggal di negeri orang. Sering kali saya rindu pada masakan khas Indonesia, khususnya masakan khas Aceh.

Namun, di negara-negara tertentu, restoran Indonesia yang halal pun tak selalu mudah dicari, apalagi di daerah ini sangat sulit menemukan tempat makan atau restoran Indonesia. Boleh dikata, makanan yang sesuai dengan lidah Aceh ini pun sangat sulit ditemukan di “Negeri Ginseng” ini. Kata rindu itu bermakna seperti “sesuatu yang pernah dirasakan/dilakukan, namun ingin terulang dan dirasakan kembali.”

Nah, saat ini saya sedang rindu. Rindu pada masakan Aceh seperti asam keueung, kuah pliek-u, eungkot keumamah, dan kuah leumak eungkot kerling.

Meskipun sudah berkali-kali saya coba memasak makanan khas Aceh, tapi tetap saja tidak selezat dan sesempurna masakan yang ada di Aceh. Wajar saja saya kira, karena tidak semua bahan baku untuk memasak kuliner khas Aceh yang kita inginkan ada di negeri ini. Contohnya bawang merah yang biasa digunakan sebagai bahan baku dasar memasak, ternyata berbeda dengan bawang merah yang tersedia di Aceh. Begitu pula dengan cabai. Di sini tidak tersedia cabai rawit, apalagi asam sunti yang merupakan bumbu masakan khas Aceh.

Jika, kalau ditanya apa bumbu penyedap khas orang Aceh? Tentu asam sunti-lah jawabannya. Asam sunti ini terbuat dari belimbing wuluh yang dijemur dan diberi garam. Asam ini sifatnya tahan lama, biasa bertahan lebih dari setahun.

Asam sunti ini merupakan bumbu dasar masakan orang Aceh. Jadi, wajar saja ketika saya tinggal di negeri ini dan merasakan jenis makanan yang disediakan jauh bertolak belakang dengan selera khas lidah saya.

Meskipun ibu saya orang Jawa, namun tetap saja masakan selera lidah Acehlah yang diutamakan karena ayah saya orang Aceh.

Meskipun banyak orang menganggap anak rantau itu identik dengan pribadi yang berkarakter kuat, namun tetap saja tembang rindu terhadap masakan tak terlepas dari mereka.

Meskipun sudah membiasakan dengan makanan-makanan di Cina, namun tetap saja makanan khas Aceh yang kaya rempah dan pedas yang justru begitu menggigit, mengalahkan semua jenis makanan yang ada di sini.

Jadi, berada di negeri orang tidaklah seenak yang dibayangkan. Begitu banyak perjuangan dan tantangan yang harus dihadapi. Bukan hanya fokus belajar untuk bisa menyelesaikan studi dengan cepat, tetapi kata rindu terhadap keluarga dan makanan pun menjadi tantangan dan ujian.

Terkadang, tingkat konsentrasi untuk belajar juga dipengaruhi oleh selera makanan ataua apa yang dimakan.

Libur musim dingin tahun ini saya tidak pulang ke Aceh karena ingin menikmati musim winter untuk pertama kalinya. Namun, saya tetap berharap libur musim panas ini saya dapat pulang dan merasakan sepuas-puasnya masakan Aceh yang sudah lama saya rindu-rindukan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved