Opini

Reformasi ‘Aceh Carong’

DALAM visi dan misi Pemerintah Aceh, Gubernur Irwandi Yusuf mencanangkan tiga program utama terkait

Reformasi ‘Aceh Carong’

Oleh Hamdani

DALAM visi dan misi Pemerintah Aceh, Gubernur Irwandi Yusuf mencanangkan tiga program utama terkait pendidikan, yaitu Aceh Carong, Aceh Meuadab, dan Aceh Teuga. Program Aceh Carong menekankan kepada prestasi pendidikan Aceh di tingkat nasional, di mana strategi yang ditempuh untuk meningkatkan prestasi tersebut melalui perbaikan fasilitas pendidikan, kualitas guru, dan peningkatan sistem.

Secara kualitas pendidikan Aceh berada pada peringkat ke-3 terendah di Indonesia atau secara Nasional, Provinsi Aceh berada pada urutan 32 dari 34 provinsi. Padahal bila dibandingkan dengan jumlah anggaran yang dikucurkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) mencapai rasio maksimal yaitu 20% dari total anggaran (acehprov.go.id, 28/2/2018). Sebab itulah kemudian program Aceh Carong dimunculkan.

Saya sangat bisa memahami kegalauan Bapak Gubernur dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah agar rangking Aceh menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang. Bagaimana tidak, Aceh yang sejak dulu diberikan gelar istimewa di bidang pendidikan namun justru selalu gagal dalam rangking terbaik Nasional. Aceh yang dulu bahkan mengajarkan tenaga-tenaga pengajar dari negara lain namun justru sangat tertinggal dalam dunia pendidikan.

Sangat sepakat
Saya juga sangat sepakat dengan saudara Affan Ramli yang dalam opininya Tafsir Kuno ‘Aceh Carong’ (Serambi, 14/3/2018) yang menulis bahwa “pemaknaan Aceh Carong tidak boleh sempit, di mana indikator prestasi pendidikan program Aceh Carong hanya diukur dengan nilai Ujian Nasional (UN) para siswa”. Namun haruslah lebih luas, bahwa konsep program Aceh Carong mampu menggambarkan filosofi pendidikan Aceh secara menyeluruh dalam berbagai aspek.

Menuju penyiapan sumber daya manusia (SDM) Aceh yang mampu merespons perubahan zaman dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dunia saat ini bahkan puluhan tahun yang akan datang dengan tetap mempertahankan indentitas keacehan dan nilai-nilai Islam dan iman, hingga mereka sanggup mengembalikan keharuman Aceh di pentas internasional seperti Aceh di masa kejayaannya. Dalam hal ini, saya meyakini Pemerintah Aceh sudah menyiapkan cetak biru (blue print) pendidikan Aceh jangka panjang untuk mengakomodir keinginan dan cita-cita rakyat Aceh.

Program Aceh Carong haruslah dapat melahirkan siswa-siswi Aceh yang memiliki kualifikasi terbaik lahir batin, berkarakter, memiliki mental juang tinggi dengan semangat pantang menyerah alias beuheu tungang dan ber-akhlaqul karimah. Soft skill semacam ini sangat penting untuk dimiliki oleh generasi muda Aceh terkini, jiwa militan keacehan tidak boleh pudar karena pengaruh perubahan zaman. Selain penguatan bersifat soft skill, program Aceh Carong juga harus dapat mencetak siswa-siswi yang memiliki keahlian dan keterampilan baik keterampilan di bidang umum maupun bidang khusus. Dengan hard skill yang mereka dapatkan dari lembaga pendidikan, maka akan sangat bermanfaat untuk menunjang kehidupan mereka di masa depan. Dengan hard skill yang berkualitas akan memudahkan mereka untuk mengakses dunia kerja dan memperoleh pekerjaan. Apalagi pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi, di mana penduduk dengan usia produktif (mencapai 64%) lebih banyak dibandingkan dengan penduduk non produktif dari 297 juta jiwa penduduk Indonesia, maka persaingan hebat tidak dapat dihindari.

Untuk menjawab tantangan tersebut dan upaya mengantisipasi dampak negatif dari bonus demografi, maka selayaknya Pemerintah Aceh mulai membenahi sektor pendidikan vokasi. Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 15 disebutkan “pendidikan vokasi yaitu merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana”.

Melalui pendidikan vokasi, program Aceh Carong akan berfokus pada peningkatan kualitas keahlian SDM yang memiliki kompetensi baik berstandar nasional bahkan internasional. Apalagi Menteri PPN/Kepala Bappenas RI, Bambang Brodjonegoro, juga mengatakan bahwa pendidikan vokasi mulai 2018 ini menjadi program perioritas pemerintah bidang pendidikan (detik.com, 22/3/2018).

Langkah maju
Terobosan Gubernur Aceh membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan merupakan satu langkah maju dalam konteks paradigma baru pendidikan Aceh masa depan. Apalagi dengan mengirimkan sebanyak 10 orang siswa-siswanya untuk magang di perusahaan penerbangan Boeing Amerika Serikat (Serambi, 13/3/2018), tentu ini merupakan modal awal untuk mengembangkan lebih jauh sektor kedirgantaraan di Aceh suatu saat nanti.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help