Kamis, 16 April 2026

Pojok Humam Hamid

MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu?

Di bawah kembalinya Donald Trump dan arah kebijakan luar negeri Amerika yang makin tidak terduga, langkah ini jelas bukan rutinitas

Editor: Subur Dani
for serambinews
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin ke Pentagon pada 13 April 2026 bukan sekadar agenda diplomatik biasa. 

Pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth berujung pada penandatanganan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) - kerja sama pertahanan utama - yang langsung mengirim sinyal kuat ke kawasan Indo-Pasifik: Indonesia sedang mengatur ulang posisinya.

Di bawah kembalinya Donald Trump dan arah kebijakan luar negeri Amerika yang makin tidak terduga, langkah ini jelas bukan rutinitas. 

Baca juga: Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD

Ini adalah manuver strategis di saat dunia sedang bergeser dari satu pusat kekuatan menuju banyak pusat kekuatan yang saling bersaing.

MDCP pada dasarnya adalah peningkatan kerja sama pertahanan. 

Indonesia dan Amerika Serikat tidak membentuk aliansi militer resmi, tetapi memperkuat hubungan melalui latihan bersama, kerja sama teknologi militer, dan peningkatan kemampuan pertahanan. 

Ini menjadi sinyal bahwa kedua negara ingin tetap dekat tanpa terikat secara kaku.

Hal ini penting karena menyangkut posisi Indonesia di dunia. Dalam persaingan antara Amerika Serikat dan Cina, Indonesia tidak lagi berada di pinggir. 

Baca juga: Skenario Akhir Trump: Tumpulnya Strategi Bisnis Dalam Perang Iran

Letaknya strategis di kawasan Indo-Pasifik dan jalur perdagangan global. MDCP membuat Indonesia menjadi simpul penting (strategic node), bukan sekadar pengamat.

Ketidakstabilan Global

Dunia saat ini juga sedang tidak stabil. Konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, menunjukkan bahwa sistem global sedang berubah dan belum menemukan bentuk tetap. 

Aliansi lama seperti NATO mulai terlihat terbatas dalam menghadapi konflik lintas kawasan. Banyak negara kini tidak lagi bergantung pada satu kekuatan saja.

Di sisi lain, Cina terus memperluas pengaruh melalui ekonomi, teknologi, dan pembangunan infrastruktur. 

Pendekatannya berjalan jangka panjang, menggabungkan tekanan dan pendekatan politik secara bersamaan. 

Baca juga: Strategi Leher Botol - Choke Point: Thermopylae, Gallipoli, Ukraina, dan Hormuz

Namun, ini tidak berarti Amerika Serikat melemah sepenuhnya. Amerika masih sangat kuat, tetapi fokusnya terbagi ke banyak kawasan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved