Kupi Beungoh
Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate
Tahun 2026, Kampus Jantong Hate telah berusia 67 tahun. Ini adalah sangat matang. Namun, harapan rakyat Aceh belum mampu diwujudkan.
Oleh: Radja Fadlul Arabi, S.Hum
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Dayah Manyang Pante Kulu merupakan tiga serangkai lembaga pendidikan tinggi yang didirikan sebagai resolusi konflik panjang antara Aceh – Jakarta (DI/TII 1953-1962).
Sebagai bagian dari penyelesaian konflik, pendirian Kampus Darussalam pada tahun 1959 diharapkan mampu melahirkan generasi baru Aceh untuk mengisi kemerdekaan dan tak lagi mengedepankan senjata dalam perjuangan.
Jargon yang dimunculkan: Dari Darul Harbi (Daerah Perang) menuju Darussalam (Daerah Damai dan Makmur). Rakyat Aceh menggantung harapan besar akan kemajuan pada Kampus Darussalam, dengan julukan Jantong Hate.
Baca juga: Ngeri! Buya Yahya Sebut Judi Online Bisa Picu Dosa Besar dan Hancurkan Rumah Tangga
67 Tahun Jantong Hate
Tahun 2026, Kampus Jantong Hate telah berusia 67 tahun. Ini adalah sangat matang. Namun, harapan rakyat Aceh belum mampu diwujudkan.
Adalah fakta, lulusan kampus, terutama lulusan UIN Ar-Raniry, masih kalah dalam persaingan kerja setelah tamat. Mereka sangat banyak kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai background pendidikan.
Angka serapan tenaga kerja dari alumni sangat rendah. Para pemimpin, terutama rektor, sepertinya cuek alias tidak mau tahu dalam masalah ini.
Tak pernah ada representasi elite kampus yang menelepon kami dan bertanya: Peu kana keureuja gata? Padahal pihak kampus telah menyedot banyak dana UKT dari kami.
Selama ini ada kesan, rektor dan para wakil rektor tak peduli pada alumni yang telah mereka wisuda. Inilah tantangan bagi UIN Ar-Raniry ke depan yaitu didambakan kelahiran rektor baru yang mampu mengembalikan hakikat Jantong Hate.
Rindu Rektor Kompeten
Saat ini UIN Ar-Raniry sedang dalam proses pergantian kepemimpinan. Empat nama kandidat rektor telah mendaftar sebagai calon suksesor.
Mereka adalah Prof Muhammad Siddiq Armia PhD, Prof Dr Saifullah MAg, Prof Dr Inayatillah MAg dan Prof Dr Mujiburrahman MAg.
Siddiq Armia adalah tamatan S2 UI Jakarta, S3 dari Cambridge Inggris dan alumni Lemhanas RI. Saifullah tamat S2/S3 dari UIN Yogyakarta. Inayatillah tamat S2 UIN Ar-Raniry dan S3 UM Malaysia. Sementara Mujiburrahman tamat S2 UIN Bandung Jawa Barat dan S3 UUM Malaysia. (Serambi Indonesia 3 April 2026, Ini Sosok 4 Guru Besar yang Daftar Bakal Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030).
Baca juga: Jangan Panik! JKA Tetap Jalan & Akan Kembali Tanggung Semua, Begini Penegasan Mualem
Harapan pada Nakhoda Baru
Banyak pihak mengharapkan terjadi perubahan pada kepemimpinan UIN Ar-Raniry ke depan, termasuk kerinduan munculnya sosok Rektor UIN Ar-Raniry yang bervisi internasional (Serambi Indonesia, 08/04/2026).
Akademisi UIN Ar-Raniry Prof Azharsyah Ibrahim dalam tulisannya di Serambi Indonesia (13/04/2026) berpandangan bahwa pemimpin kampus agar tidak sekadar “menjalankan tugas” administrasi akademik.
Sebaliknya Rektor mesti mempunyai kepemimpinan moral, berupa disiplin, jujur dan menjadi contoh teladan (lead by example). Kata “teladan” yang digunakan oleh Prof Azharsyah menarik untuk dikupas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Radja-Fadlul-Arabi-SHum-Alumni-Fakultas-Adab-dan-Humaniora-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)