Citizen Reporter

Brunei, Negara Ahlussunnah wal Jamaah

KUNJUNGAN ke Brunei pekan ini merupakan kunjungan saya yang ketujuh. Dalam perjalanan kali ini saya

Brunei, Negara Ahlussunnah wal Jamaah
TGK ABDUL RAZAQ RIDHWAN

OLEH TGK ABDUL RAZAQ RIDHWAN, Pembina Majelis Zikir Kota Langsa (Mazka) dan Pimpinan Dayah Raudhtun Najah 2 Al Aziziah, melaporkan dari Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam

KUNJUNGAN ke Brunei pekan ini merupakan kunjungan saya yang ketujuh. Dalam perjalanan kali ini saya membawa beberapa rombongan dari Majelis Zikir Kota Langsa (Mazka) dan beberapa orang jamaah dari Almaidah Kota Langsa.

Kami berada di Brunei tiga hari dalam agenda Tour Shalwat dan Ziarah ke tiga negara: Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia yang total perjalanannya tujuh hari.

Brunei yang berpenduduk sekitar 800.000 jiwa dan memiliki tujuh suku (Iban, Bisayak, Mured, Duson, Melayu Bleut, Melayu Kadayan, dan Melayu Tutoeng). Mayoritas beragama Islam, bermazhab Syafi’i, dan berakidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Saat kita tiba di Brunei Darussalam, maka kita akan melihat masjid-masjid indah dan megah. Di antaranya Masjid Omar Ali, didirikan oleh Sultan Omar Ali yang merupakan ayah dari sultan Brunei yang sekarang, yaitu Sultan Hasanal Bolqiah.

Negara makmur oleh penghasilan minyak tersebut memiliki satu keistimewaan, yakni keindahan masjid yang ada di Brunei menjadi perhatian dan daya tarik tersendiri bagi para pengunjung wisata asing di seluruh dunia.

Dalam kunjungan ini kami mendapat sambutan hangat dari Pusat Dakwah Brunei Darussalam. Di pusat dakwah ini kami mendapat banyak ilmu dan pengetahuan tentang perkembangan Islam di Brunei Darussalam. Kami dibawa melihat pameran yang ada di pusat dakwah tersebut.

Satu hal yang menarik perhatian kami, di pusat dakwah ini dipamerkan barang-barang yang dapat merusak akidah umat Islam, misalnya, logo salib yang terdapat di baju, jilbab, sajadah, dan lain-lain. Semua itu dilarang beredar di Brunei karena akan merusak akidah Islam.

Bukan hanya itu, barang-barang berlafaz Allah dengan bentuk yang sudah diukir di sandal, di ban mobil, bola, dan lain-lain juga dilarang keras beredar di negara ini.

Selain barang, ada juga buku-buku yang dilarang beredar di negara ini karena dapat merusak akidah Aswaja. Buku-buku yang di luar Aswaja dilarang beredar di Brunei Darussalam. Bahkan para pendakwah tak boleh sembarangan menyebarkan dakwahnya di sini. Mereka yang datang harus mendapat izin resmi dari kerajaan untuk berdakwah. Apabila ada penyampaian yang menyimpang dan keluar dari akidah Aswaja, maka mereka dikeluarkan dari Brunei bahkan dilarang masuk ke negara ini untuk selamanya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help