Nek Ramlah, 12 Tahun tanpa Daging Meugang

NEK Ramlah (65), atau yang lebih dikenal Mak Inop, sudah 12 tahun hidup sebatang kara di sebuah rumahnya di Dusun Rubek

Nek Ramlah, 12 Tahun tanpa Daging Meugang
NEK Ramlah (65), atau yang lebih dikenal Mak Inop, sudah 12 tahun hidup sebatang kara di sebuah rumahnya di Dusun Rubek 

NEK Ramlah (65), atau yang lebih dikenal Mak Inop, sudah 12 tahun hidup sebatang kara di sebuah rumahnya di Dusun Rubek, Desa Padang Rubek, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya.

Hidup dengan penuh kekurangan tidak membuat Mak Inop putus asa atau mengeluh kepada orang lain. Walau usianya sudah senja, namun kegigihannya dalam mencari makan untuk sehari-hari tetap ia tekuni, meskipun terkadang kaki tuanya tak sanggup untuk melangkah.

Ditemui di rumahnya yang hanya berdindingkan papan, Mak Inop tampak tegar, walau sesekali ia menyapu pipi lesunya yang berlinang air mata mengingat akan takdir hidup yang ia jalani. “Bersyukur masih diberikan umur sehat dan tempat tinggal dan berdekatan dengan tetangga yang mau memperhatikan saya,” tuturnya kepada Serambi, Senin (15/5).

Ia menceritakan kehidupannya sejak 12 tahun lalu setelah berpisah dari suaminya, hanya dijalani sendiri tanpa ada seorang pun anak. “Saya memang gak punya anak, cuma ada anak tiri, ya namanya juga anak tiri setelah berpisah dengan ayahnya saya tidak ada yang peduli,” ceritanya.

Kesedihan Mak Inop kembali ditambah dengan kondisi rumah yang ia tempati tidak memiliki sumur untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. “Kalau untuk minum dan wudhu saya hanya mengandalkan air hujan yang ditampung dalam timba-timba kecil di depan rumah,” ungkapnya.

Dalam gelapnya malam, Mak Inop hanya ditemani penerangan yang dihasilkan lilin pemberian tetangganya. Kondisi itu dikarenakan tidak adanya aliran listrik yang menerangi rumah lansia itu. Menceritakan hidupnya, Mak Inop tak berhenti mengeluarkan air mata yang membuat semua yang mendengar ikut terbawa suasana sedih.

“Kalau meugang kayak gini ya, cuma makan daging yang dibagikan oleh tetangga, saya sendiri sudah 12 tahun tidak pernah beli daging, hampir selama di sini,” imbuhnya.

Mak Inop mengungkapkan, tidak ada perhatian pemerintah yang ia dapatkan selain beras sejahtera (rastra). “Saya gak pernah dapat apa-apa, sedih juga melihat yang lain ada tapi saya tidak” pungkasnya.

Dalam cerita yang diutarakan Mak Inop kepada Serambi, hanya ada satu keinginannya. “Saya cuma berharap dibantu listrik, sama sumur saja sudah sangat cukup. Kalau mau dibantu memperbaiki rumah yang sudah sangat bocor atapnya alhamdulillah,” ujarnya.(riski bintang)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help