Home »

Opini

Kupi Beungoh

Menyambut Ramadhan Ala Anak Rantau, Balada di Hari Meugang

Keinginan merayakan meugang bersama keluarga, pupus karena jadwal perkuliahan belum selesai dengan hari libur yang begitu singkat diberikan.

Menyambut Ramadhan Ala Anak Rantau, Balada di Hari Meugang
IST
Riski Fajar, Mahasiswa Jurusan KPI, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Oleh: Fajar Riski*)

Setelah sebelas bulan berlalu, bulan suci Ramadhan kembali menyapa umat muslim selama 29 hari.

Waktu ini terhitung sejak tanggal 17 Mei sampai dengan 14 Juni mendatang.

Kehadiran bulan suci Ramadhan disambut bahagia oleh seluruh umat Islam di dunia.

Karena pada bulan mulia ini Allah SWT akan melipatgandakan segala amal ibadah yang akan dikerjakan.

Bahkan ada satu malam bagi yang mendapatkan pahalanya setara dengan 83 tahun beribadah secara terus menerus, yaitu malam lailatul qadar.

Memasuki bulan Ramadhan ada suatu tradisi turun temurun yang telah menjadi budaya di Aceh. Yaitu, meugang.

Meugang adalah tradisi memasak daging (sapi atau kerbua) dan menikmatinya bersama keluarga.

(Baca: Komunitas Wartawan di Aceh Bagikan Daging Meugang untuk Puluhan Yatim dan Duafa)

Tradisi ini berlangsung tiga kali dalam setahun, yaitu meugang puasa, meugang uroe raya puasa (menjelang hari raya Idul Fitri), dan meugang uroe raya haji (menjelang hari raya Idul Adha).

Pada saat meugang, seluruh keluarga akan berkumpul. Khususnya pada saat meugang menjelang puasa, akan hambar rasanya jika tidak pulang kampung untuk meugang bersama keluarga.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help