Ramadhan 1439 H

Seorang Perempuan yang Sudah Suci Haid Tapi Belum Mandi Wajib, Sahkah Puasanya?

Jika kaum pria yang sehat jasmani rohani wajib hukumnya berpuasa selama sebulan penuh, tidak dengan perempuan.

Seorang Perempuan yang Sudah Suci Haid Tapi Belum Mandi Wajib, Sahkah Puasanya?
SebelumTidur.Com
Ilustrasi Haid 

TRIBUNNEWS.COM - Sesuai kodratnya, seorang perempuan mengalami menstruasi.

Siklus tubuh pada kaum hawa ini tentu juga memengaruhi saat berpuasa.

Jika kaum pria yang sehat jasmani rohani  wajib hukumnya berpuasa selama sebulan penuh, tidak dengan perempuan.

Karena siklus haid inilah mereka tidak diwajibkan berpuasa saat datangnya tamu bulanan ini dan Islam mengajarkan untuk mengqada (menggantinya di hari lain).

Lantas, bagaimana jika ada  yang sampai malam masih mengalami haid, tapi saat menjelang subuh, ketika waktu sahur mendapati sudah suci namun belum mandi sampai masuk waktu Subuh, apakah boleh berpuasa?

Baca: Setelah Berhubungan Suami Istri, Mandi Junub Dahulu atau Langsung Santap Sahur? Simak Penjelasannya

Baca: Jika Keluar Mani Siang Hari, Masih Sahkah Berpuasa? Simak Penjelasannya

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata, jika saja ada wanita yang yakin suci dari haid dan sudah berniat puasa sebelum subuh, walaupun tinggal semenit lagi akan masuk subuh, puasanya tetap sah walau ia belum sempat mandi besar (mandi wajib) kecuali setelah masuk subuh ketika ingin melaksanakan salat subuh.

Namun kalau sucinya masih dalam keadaan ragu-ragu lalu berniat puasa, maka puasanya tidak sah karena puasa harus dengan niat yang yakin, tidak boleh ada ragu-ragu.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang seorang wanita yang berpuasa dalam keadaan ragu-ragu sudah suci ataukah belum dari haidh.

Bagaimana jika di pagi hari ia mendapati dirinya suci, apakah puasanya dianggap sah padahal sebelumnya tidak yakin sudah suci?

Baca: 9 Hal yang Membuat Puasa Ramadan Batal, Apa Saja?

Baca: Viral! Oknum TNI Tabrak Polantas saat Ditilang, Ini Foto dan Videonya

Syaikh rahimahullah menjawab, “Puasanya tidak dianggap. Puasa ketika itu wajib diqadha’ (diganti). Karena asalnya haidnya masih ada dan ketika itu masuk puasa dalam keadaan tidak yakin sudah suci. Padahal untuk masuk puasa harus dalam keadaan yakin suci. Itulah yang menyebabkan puasanya tidak dianggap.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 19: 107)

Halaman
12
Editor: Amirullah
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved