Mahasiswa Arak ‘Jenazah’ di DPRA

Sekitar dua puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah melancarkan

Mahasiswa Arak ‘Jenazah’ di DPRA
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Seorang mahasiswa dikafani mirip seperti jenazah dalam aksi peringatan 20 tahun reformasi yang dilancarkan BEM Unsyiah di gedung DPRA, Senin (21/5/2018). 

* Peringati 20 Tahun Reformasi

BANDA ACEH - Sekitar dua puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah melancarkan aksi peringatan 20 tahun reformasi di gedung DPRA, Banda Aceh, Senin (21/5). Dalam aksi itu, seorang mahasiswa dikafani seperti jenazah, untuk mengenang para mahasiswa Indonesia yang gugur dalam memperjuangkan aspirasi rakyat 20 tahun silam ketika berhasil melengserkan Presiden Soeharto dan meruntuhkan rezim orde baru (orba) pada 21 Mei 1998.

Mahasiswa tersebut terlihat sangat mirip seperti jenazah, sekujur tubuhnya dibalut kain kafan yang dilumuri pewarna merah yang sekilas mirip dengan darah. “Jenazah mahasiswa” itu awalnya ditiduri di depan tiang bendera gedung DPRA. Lalu, beberapa mahasiswa mengangkat “jenazah” tersebut dan mengaraknya bersama-sama mengelilingi tiang bendera di pekarangan gedung DPRA seraya berteriak “inna lillahi wainna ilaihi rajiun”.

“Ini untuk mengenang para mahasiswa yang gugur 20 tahun lalu, saat mereka berjibaku memperjuangkan nasib rakyat. Ini juga sebagai tanda bahwa kami (mahasiswa) siap untuk mati dalam memperjuangkan aspirasi rakyat,” kata Ketua BEM Unsyiah, Muhammad Yasir.

Hingga aksi usai, mahasiswa yang berperan sebagai jenazah tampak berhasil memainkan perannya, bahkan dia selalu menutup mata saat aksi berlangsung di bawah terik matahari. Aksi para mahasiswa berakhir setelah mereka membacakan pernyataan sikap dan tuntutan yang didengar dan ditandatangani oleh anggota DPRA dari Fraksi PKS-Gerindra, Bardan Sahidi.

Pantauan Serambi, para mahasiswa tiba ke DPRA sekira pukul 11.00 WIB. Oleh aparat kepolisian, mahasiswa langsung diizinkan berorasi di depan teras utama gedung DPRA, namun mereka memilih di depan tiang bendera dalam pekarangan gedung wakil rakyat itu. Mahasiswa yang mengenakan almamater kampus juga mengusung sejumlah spanduk berisikan tulisan peringatan 20 tahun reformasi Indonesia.

Mahasiswa juga mengusung spanduk berisikan kritikan kepada pemerintah setelah 20 tahun reformasi berlalu. “Indonesia hari ini tidak baik-baik saja kawan-kawan, 20 tahun sudah reformasi Indonesia. Tapi hari ini kita masih sulit dalam segala hal kawan-kawan,” teriak salah satu orator aksi.

Ketua BEM Unsyiah, Muhammad Yasir dalam orasinya menyoal tentang berbagai hal terkait kondisi Indonesia hari ini yang, menurut mereka, semakin terpuruk. Dia mengeritik tentang tenaga kerja asing yang kian mudah masuk ke Indonesia, begitu juga dengan kindisi pendidikan, hingga persoalan kenaikan BBM yang dianggap cukup mencekik rakyat. “Belum lagi kita bicara pengangguran kawan-kawan, cukup banyak. Sudah 20 tahun reformasi tapi Indonesia masih jauh dari kesejahteraan,” teriak Muhammad Yasir.

Menurutnya, para elite negeri ini beserta pemimpin bangsa belum mampu menyelesaikan sekelumit permasalahan bangsa dan rakyat. Menurutnya, ekonomi rakyat Indonesia hari ini tidak dalam keadaan baik dan para pemimpin seperti tidak mau menyelesaikan permasalahan tersebut. “Rakyat melarat, seharusnya yang dipikirkan adalah ekonomi rakyat. Rakyat lapar, pemimpin juga harus lapar. Itu baru pemimpin bangsa ini,” kata Muhammad Yasir.

Dia juga menyentil persoalan tenaga kerja asing yang dinilai semakin mudah masuk ke Indonesia. Padahal, menurut Muhammad Yasir, di dalam negeri sendiri angka pengangguran saat ini terus saja meningkat, namun pemerintah seperti tutup mata melihat realita tersebut. Dia mengatakan, dua dekade sudah masa reformasi berlalu, namun apa yang terjadi di era pemerintah sekarang sangat mengecewakan rakyat.

“Silakan masuk tenaga asing, tapi lihat dulu apakah masih ada di sekeliling kita yang belum bekerja. Saat ini masih terdapat ketimpangan, keadilan yang tidak merata kepada rakyat golongan bawah serta kediktatoran rezim saat ini yang terkesan antikritik,” katanya.

Selain berorasi, mahasiswa juga menyatakan pernyataan sikap mereka. Ada enam hal yang mereka suarakan. Pertama, pemerintah diminta untuk menstabilkan keuangan negara dan berhenti menambah beban utang negara serta melakukan upaya pelunasan terhadap utang yang terus meninggi. Kedua, pemerintah diminta mempersempit ruang gerak tenaga kerja asing serta melakukan upaya menanggulangi tingkat pengangguran dengan membuka lapangan pekerjaan yang luas.

“Tiga, mewujudkan kebebasan berdemokrasi yang menjamin penuntasan kasus HAM masa lalu, ruang bersuara dan berserikat rakyat, pemberantasan KKN, dan kembalikan militer seperti amanat reformasi. Empat, menjamin setiap anak di Indonesia mendapatkan wajib pendidikan minimal 12 tahun, yang berkualitas dan terjangkau bagi seluruh kalangan,” kata Muhammad Yasir.

Poin kelima, mahasiswa mendesak pemerintah untuk menciptakan ketahanan nasional bidang energi dan pangan untuk Indonesia yang berkelanjutan. “Dan poin keenam, pihak DPRA berjanji akan menyampaikan semua aspirasi ini ke pihak DPR RI,” pungkas Muhammad Yasir. Anggota DPRA, Bardan Sahidi yang menerima para mahasiswa berjanji akan menyampaikan tuntutan mahasiswa ke DPR RI. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help