Opini
Air dan Janji ‘Wali Kota Gemilang’
PIDATO perdana Aminullah Usman sebagai Wali Kota Banda Aceh sangat menggugah hati masyarakat Kota Banda Aceh
Oleh Herman RN
PIDATO perdana Aminullah Usman sebagai Wali Kota Banda Aceh sangat menggugah hati masyarakat Kota Banda Aceh. Ketika itu, Pak Amin --sapaan Aminullah Usman-- mengatakan bahwa satu prioritas utamanya sebagai walikota adalah memperbaiki sistem penyaluran air bersih di Kota Banda Aceh agar kota ini benar-benar menjadi “Kota Gemilang”.
Bulan-bulan pertama menjalani tugas sebagai Wali Kota Banda Aceh, Pak Amin sendiri langsung turun ke got-got pipa Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Daroy. Beberapa mulut sempat mencibir melihat tingkah wali kota baru. Namun, banyak mulut memberikan pujian kerja nyata Pak Amin sebagai “Wali Kota Gemilang” yang turun langsung ke lokasi pipa PDAM. Ia mulai membuktikan janjinya bahwa air bersih adalah prioritas.
Saya masih ingat pula janji Pak Amin tatkala kampanye bahwa ia menganggarkan Rp 30 miliar untuk PDAM Tirta Daroy agar penyaluran air bersih di seluruh Kota Banda Aceh berjalan lancar. Hal ini harusnya masih diingat pula oleh Tim Sukses Pasangan Calon Wali Kota Nomor Urut 2 itu. Janji tersebut diucapkan Pak Amin saat coffee morning bersama jurnalis di Warung Kopi Tower Premium, pada 20 Januari 2017.
Singkatnya, perkara air bersih untuk Kota Banda Aceh merupakan “senjata emas” dalam kampanye Aminullah-Zainal, sehingga terpilih sebagai wali kota dan wakil wali kota. Tentunya, setelah terpilih, warga kota ingin melihat kenyataan dari janji-janji masa kampanye tersebut. Kata orang bijak, setiap janji butuh bukti, setiap kata butuh fakta.
Bukti dan fakta tersebut ternyata hanya membuat hati sebagian warga Kota Banda Aceh kecewa. Sepekan menjelang masuk bulan Ramadhan, beberapa lokasi sudah mulai merasakan ketiadaaan air PDAM. Beberapa status di media sosial pun berdiwana untuk menyampaikan keluhan kematian air PDAM.
Hal yang paling menyakitkan bagi ureueng Aceh tatkala air masih mati di hari meugang, sedangkan daging sudah dibeli, bumbu sudah diracik. Adakah kepedihan yang lebih dalam dirasakan orang Aceh di hari meugang ketika daging sudah dibawa pulang dari pasar tetapi ternyata air mati? Pak Amin tentu tidak merasakan hal ini.
Warga kota masih tetap berpikir positif bahwa matinya air beberapa hari sebelum Ramadhan hingga hari meugang adalah bagian dari persiapan agar di bulan Ramadhan tidak lagi mati air. Ternyata pikiran positif tersebut salah. Sampai hari kelima puasa, beberapa daerah masih juga mengalami ketiadaan air bersih, antara lain di Jalan Chik Dipineung, Jalan Prof Ali Hasjmy, dan Jalan T Iskandar. Setidaknya, warga yang tinggal di lokasi-lokasi ini senantiasa terus menulis status di media sosial mereka tentang matinya air PDAM.
Memang, tidak semua rumah di lokasi tersebut mati total. Beberapa rumah hanya mengalami mati air di siang hari. Mereka masih bisa menampung air di malam hari. Tentu saja karena tekanan air pada malam hari tidak seberat siang hari. Namun, bukan berarti kondisi ini sudah baik bagi mereka yang merasakan mati air pada waktu tidak menentu. Kadang mati malam, kadang mati siang.
Hal tersebut membuat warga kesulitan mengantisipasi ketiadaan air. Karenanya, diperlukan tindakan nyata dari pihak PDAM dan ketegasan konkret dari “Wali Kota Gemilang”. Belum lagi soal debit air yang terkesan dibatasi oleh PDAIM, misalnya, daerah tertentu selalu kehabisan air setiap hari Sabtu dan Ahad, tetapi kembali ada air di hari Senin-Kamis.
Sumur, solusikah?
Beberapa orang menyarankan agar setiap warga kota menggali sumur di rumahnya. Saran ini biasa datang dari tim sukses Aminullah kepada para netizen yang suka membuat status mati air di media sosial. Bagi tim Pak Amin, sumur seakan menjadi solusi terbaik masa kini. Hal inilah yang membuat warga kecewa. Dulu, masa kampanye, kelangkaan air besih menjadi “senjata pamungkas” tim ini. Sekarang, dengan mudah tim Pak Amin mengatakan gali sumur sebagai sebuah solusi.
Untuk diketahui, tidak semua warga Kota Banda Aceh, meski sudah ber-KTP Banda Aceh bertahun-tahun, memiliki rumah dan tahan sendiri. Banyak masih warga Kota Banda Aceh berstatus sebagai pendatang yang tinggal di rumah-rumah sewa, sehingga untuk menggali sumur di tempat mereka tinggal harus ada persetujuan tuan rumah si pemilik tanah. Belum lagi mereka yang tinggal di pertokoan dengan status sewa. Tanah toko biasanya pas-pasan seukuran fondasi, sehingga tak ada lahan untuk menggali sumur. Demikian halnya bagi mereka yang tinggal di daerah tertentu yang air sumurnya tidak bagus, keruh, asin, dan bau. Ke mana mereka cari solusi air bersih selain berharap dari aliran pipa PDAM?
Oleh karena itu, tatkala ada warga mengeluh soal air bersih, mestinya bukan warga yang disalahkan, tetapi pihak PDAM yang harus bertanggung jawab karena belum mampu memberikan solusi konkret. Jangan-jangan Pak Amin tidak jadi menyalurkan Rp30 miliar untuk PDAM sesuai janji masa kampanye sehingga PDAM Tirta Daroy terus berulah sepanjang tahun? Jika dana sebesar itu sudah disalurkan tetapi pihak PDAM belum mampu memberikan kenyamanan kepada warga kota, sudah seharusnya pihak Pemerintah Kota Banda Aceh mencari solusi, mungkin dengan melelang jabatan dirut PDAM Tirta Daroy kepada siapa saja yang mampu memberikan solusi konkret.
Bukankah lelang jabatan sudah menjadi tren bagi Aceh sekarang ini? Gubernur Irwandi Yusuf sudah membuktikan bahwa siapa saja boleh menjadi kepala SKPA dengan mengikuti lelang jabatan, sehingga muncul nama-nama yang benar-benar dinggap mampu memberikan solusi pada SKPA yang akan dijabatnya. Tidak salah pula jika Pak Amin mengumumkan lelang jabatan bagi siapa pun yang mampu memberikan solusi nyata terhadap permasalahan air bersih di kota ini. Jika hasil lelang nantinya ternyata berpihak kepada dirut yang lama, tidak masalah. Siapa tahu lelang jabatan dengan indikator yang konkret, dirut lama mampu memberikan solusi terbaik di masa akan datang. Tentu ia harus siap bersaing dengan sejumlah nama lain dengan visi dan misi yang konkret pula.
Artinya, harus ada kebijakan dan kebijaksanaan yang nyata dari Amin-Zainal terhadap permasalahan air bersih, sehingga kota ini benar-benar kelak menjadi “Kota Gemilang”. Tak ada yang bisa membayangkan jika permasalahan air bersih ini terus berlanjut hingga selesai Ramadhan. Bayangkan pula jika malam hari raya nanti tiba-tiba air PDAM mati, karena pegawainya sedang libur? Tentunya, kekhawatiran ini sangat patut, mengingat jadwal mati air PDAM sudah seperti orang minum obat, sehari tiga kali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sistem-distribusi-air-pada-wali-kota-banda-aceh_20170711_081807.jpg)