Home »

Opini

Opini

Literasi Alquran

SYAHDAN, jauh sebelum orang mengenal literasi masa kini, seperti akses, baca, tulis, dan sebarkan

Literasi Alquran
Nuzulul Quran 

(Jalan Raya Menuju Karakter Generasi Islami)

Oleh Azwardi

SYAHDAN, jauh sebelum orang mengenal literasi masa kini, seperti akses, baca, tulis, dan sebarkan, baik dengan cara manual maupun pakai alat teknologi canggih, Islam telah terlebih dahulu mensyariatkannya, yaitu literasi Alquran bagi penganutnya. Paragraf pertama dengan topik perintah membaca, yaitu iqra (bacalah) merupakan bukti otentik bahwa dalam Islam persoalan literasi bukanlah hal yang baru dan sepele. Segala nash dalam beragama lengkap tersedia dalam Alquran. Dengan perkataan lain, boleh dikatakan bahwa Alquran merupakan undang-undang dasar-Nya Allah (qalamumullah) bagi manusia sebagai pedoman hidup menuju cita-cita mulia, yakni hidup sejahtera dalam keridaan, mati bahagia dalam memuliaan, dan bangkit sentosa dalam surga keabadian.

Mengingat akan urgennya fungsi dan makna Alquran, tidak tanggung-tanggung, Allah memberikan penghargaan yang luar biasa bagi orang-orang yang gemar berliterasi Alquran, seperti belajar membacanya (tafakur), membaca-bacanya (tadarus/mudarasah) mengkajinya (tadabur), dan mengamalkannya. Semua segmen proses yang kita lakukan terhadap Alquran dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda, apalagi bila hal itu kita lakukan dalam bulan Ramadan. Satu huruf saja kita membacanya, meskipun tidak mengetahui arti dan maknanya, Allah mengganjar dengan minimal sepuluh kebaikan, apalagi kalau berayat-ayat, berkalimat-kalimat, dan bersurat-surat secara berulang-ulang.

Sama seperti literasi pada umumnya, literasi Alquran juga merupakan literasi berbasis skil atau keterampilan, bukan hobi atau minat atau bakat. Untuk terampil membacanya dibutuhkan tekat yang kuat dan semangat yang tinggi. Latihan-latihan yang intensif secara kontinu atau pengajian-pengajian atau workshop khusus perlu digalakkan. Begitu juga untuk dapat memahaminya, sangat dibutuhkan ketekunan dan kesungguhan dalam menelaah atau mengkajinya melalui terjemahan dan tafsir-tafsirnya. Selain itu, demi mengamalkannya secara kafah dibutuhkan keyakinan dan kemauan yang kuat melalui penjelasan dan tuntunan para ulama.

Terampil membaca Alquran
Berkaitan dengan hal itu, ada empat kriteria indikator terampil dalam membaca Alquran, yaitu makhraj (makhrajal huruf), fasahah, qiraah, dan lagu atau irama. Makhraj berkaitan dengan kebenaran pengucapan, fasahah berhubungan dengan kefasihan pelafalan, qiraah berkenaan dengan cara atau teknik pembacaaan, dan lagu atau irama berkenaan dengan kebagusan pembacaan atau seni membacakan.

Yang sering menjadi persoalan adalah hal yang terkait dengan makhraj. Makhraj berkaitan dengan pengartikulasian secara benar bunyi-bunyi yang dicetuskan sesuai dengan tempat keluarnya suara (alat ucap). Dalam hal ini, bila tidak benar-benar terampil, banyak pembaca Alquran yang terjebak, dan ini sangat fatal. Memang membaca Alquran, apalagi hafal 30 juz tidak wajib ain, tetapi mampu membaca surat al-fatihah dengan benar adalah fardhu ain karena hal itu merupakan satu Rukun Shalat.

Dalam konteks Indonesia atau Aceh, pembaca Alquran sering mengabaikan fonem-fonem atau bunyi-bunyi yang berdekatan. Fonem-fonem atau bunyi-bunyi yang berdasarkan artikulatornya berbeda itu diartikulasikan atau direalisasikan sama. Hal seperti itu tidak ada masalah dalam bahasa Indonesia atau bahasa Aceh atau bahasa lainnya, tetapi merupakan hal yang fatal dalam lafal Arab. Misalnya, qalbi dan kalbi; bergeser sedikit fonem menyebabkan perubahan makna dari ‘hati’ menjadi ‘anjing’; qul dan kul; bergeser sedikit fonem menyebabkan perubahan makna dari ‘katakanlah’ menjadi ‘makanlah’.

Terkait dengan persoalan di atas, kini banyak generasi muda kita yang belum mampu membaca Alquran dengan benar. Bacaannya masih patah patèe alias amburadul, atau masih lagèe kameng jak ateuh batèe (seperti kambing berjalan di atas batu). Padahal dibandingkan dengan orang lain di dunia, karakter artikulator orang Aceh lebih tepat, fasih, dan merdu dalam mengartikulasikan lafal Alquran. Realitas ini sungguh ironis bagi generasi yang tumbuh di negeri syariat. Tak sanggup kita bayangkan apa yang terjadi dengan generasi beberapa tahun ke depan. Yang pasti mereka terus dikacaukan dan dikontaminasikan dengan berbagai pengaruh global yang kian sulit dibendung.

Untuk meluruskan semua yang bengkok-bengkok itu tidak ada cara lain selain mau terus belajar dan kontinu berlatih secara intensif. Tiada keterampilan tanpa latihan. Tiada jalan tanpa kemauan. Bila lidah kita mampu mengucapkan dengan benar dan fasih lafal bahasa Inggris setelah mengikuti worksop atau intensif bahasa Inggis, mengapa tidak kita juga mau melakukan hal yang sama untuk itu. Jika kita mau mengeluarkan biaya demi terampil ini itu, mengapa enggan untuk menghilang kelu membaca Alquran. Semua berpulang kepada keyakinan dan keimanan kita masing-masing.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help