Senin, 15 Juni 2026

Kupi Beungoh

Ketika Pernikahan Dini Dianggap Solusi

Di tengah perkembangan zaman yang serba digital, pernikahan dini terus terjadi. Sebagian besar dipicu karena masalah...

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
NAFILLA - Nafilla, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia USK. 

Oleh:

Nafilla, Mahasiswi Bahasa Indonesia USK

SERAMBINEWS.COM - Di tengah perkembangan zaman yang serba digital, pernikahan dini terus terjadi. Sebagian besar dipicu karena masalah ekonomi. Pernikahan usia dini rentan terjadi karena faktor usia, ekonomi, pergaulan, stigma masyarakat, media sosial, dan mental yang masih labil. Bahkan tidak sedikit yang orang tua yang mengulangi kesalahan serupa dengan menjodohkan anaknya demi harapan hidup yang lebih terjamin.

Pernikahan dini kerap terjadi pada keluarga menengah ke bawah, pola tersebut terus terjadi karena kurangnya edukasi dan pemahaman tentang dampak dari pernikahan dini. Akibatnya remaja akan putus sekolah, depresi, hingga ketidakstabilan ekonomi.

Orang yang menikah dini selalu beranggapan mereka akan keluar dari jeratan kemiskinan, nyatanya mereka hanya terlepas dari jeratan kemiskinan bersama orang tuanya. Ketika mereka menikah hal yang sama akan terus terjadi secara berulang.

Pada dasarnya pernikahan bukan hanya tentang menjadi raja dan ratu dalam sehari, ketika menikah seseorang harus memiliki rencana ke depannya, ekonomi yang stabil, kesiapan mental juga sangat dibutuhkan dari kedua belah pihak. Karena memilih peran sebagai istri atau suami bukanalah perkara yang gampang. Salah satu dampak dari pernikhan dini ialah banyaknya perceraian dan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), salah satu daerah dengan kasus percerain tertinggi adalah Pidie. 

Di Kabupaten Pidie, angka perceraian tidak ada tanda penurunan sejak tiga tahun terakhir. Dan yang paling banyak menggugat perceraian ialah pihak perempuan dengan alasan KDRT, judi online, hingga pegangguran.

Menurut Fatimah, seorang mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang berasal dari Pidie, ia merasa kecewa terhadap kawan-kawannya karena banyak dari mereka memilih untuk menikah di usia muda. Kebanyakan dari remaja seperti itu nikah dengan berpikir bahwa itu adalah jalan keluar dari ketidakstabilan ekonomi yang mereka rasakan. Padahal menikah dengan kondisi tersebut akan menambah masalah baru bagi hidup mereka. Belum lagi ada yang menikah dengan sebaya. 

Banyak remaja menikah dengan alasan ekonomi atau tekanan sosial, padahal pernikahan dalam kondisi yang belum matang justru menambah beban ekonomi, memperbesar risiko kekerasan dalam rumah tangga, dan menghentikan akses pendidikan anak, sehingga pola kemiskinan berlanjut dari generasi ke generasi.  

Meskipun di beberapa daerah pernikahan dini sudah dianggap sebagai tradisi, tapi hal ini tidak bisa ditoleransi begitu saja karena merupakan pelanggaran hak anak. Kendati secara umum angka pernikahan terus menurun, tren dispensasi kawin justru melambung tinggi. Padahal, kurangnya kesiapan mental dan fisik merupakan salah satu faktor utama terjadinya stunting, yang nantinya akan berimbas buruk bagi anak.

Pernikahan bukanlah pelarian dari masalah ekonomi, melainkan awal dari tanggung jawab besar yang membutuhkan kematangan.(*) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
VS
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved