Citizen Reporter

Memetik Hikmah dari Umrah

PERJALANAN suci saya kali ini menempuh rute BTJ-KL, transit semalam, kemudian esok harinya berangkat dari KL

Memetik Hikmah dari Umrah
MUTHMAINNAH MAg

OLEH MUTHMAINNAH MAg, warga Kota Lhokseumawe, jamaah umrah pada sebuah travel di Banda Aceh, melaporkan dari Mekkah, Saudi Arabia

PERJALANAN suci saya kali ini menempuh rute BTJ-KL, transit semalam, kemudian esok harinya berangkat dari KL menuju Madinah Munawwarah. Rute ini merupakan pertama kalinya bagi saya yang biasanya melakukan perjalanan dengan rute berbeda, yaitu Singapura-Jeddah.

Umrah atau yang biasa disebut “haji kecil” adalah sebuah kunjungan prosesi atau ritual ke Masjidil Haram di Mekkah, Saudi Arabia. Umrah diartikan secara etimologi adalah berkunjung. Sedangkan secara terminologi adalah mengunjungi Baitullah dengan amalan-amalan tertentu. Umrah dilaksanakan kapan saja, tidak terikat pada bulan tertentu.

Berbeda dengan haji yang merupakan prosesi ritual yang ketat dan sangat prosesual, maka umrah adalah “haji yang lebih longgar”. Setiap muslim berkewajiban melaksanakan ibadah haji sepanjang terpenuhi semua ketentuannya. Hal ini disinggung dalam firman Allah Swt dalam QS. Ali Imran: 97, “Mengerjakan haji adalah kewajiban terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan ke Baitullah.” Allah juga berfirman, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS.Al-Baqarah: 196).

Pengalaman umrah mengajarkan saya beberapa hal. Pertama, kita benar-benar merasa seperti tamu Allah di Tanah Suci. Saya melihat ribuan jamaah melantunkan doa sebanyak-banyaknya, termasuk mengucapkan doa yang dititipkan sanak saudara. Terasa sekali umrah merupakan ibadah dan ritual perjalanan suci. Setiap perbuatan baik dalam perjalanan umrah terhitung sebagai ibadah, bahkan sekadar membantu jamaah yang tersesat atau berbagai makanan atau minuman dengan sesama musafir.

Salah satu yang memotivasi jamaah berdoa adalah sebuah hadis yang menyebutkan bahwa umat Islam yang menunaikan haji dan umrah hadir sebagai tamu Allah. Sebutan “tamu” adalah sebagai sosok yang dihormati kehadirannya dan jika meminta sesuatu niscaya akan dikabulkan oleh tuan rumah. Lebih lengkapnya tertera dalam hadis riwayat Ibnu Majah, “Orang yang mengerjakan haji dan umrah adalah tamu Allah Azza wa jalla dan para pengunjung-Nya. Jika mereka meminta kepada-Nya niscaya diberi-Nya. Jika mereka memohon ampun niscaya Dia menerima doa mereka. Dan jika mereka meminta syafaat niscaya mereka diberi syafaat.”

Dalam ibadah umrah setiap jamaah melantunkan kalimat-kalimat talbiyah dan thayibah. Dengan demikian, lisan dan hati senantiasa ingat kepada Allah. Maka salah satu pertanda umrah seseorang diterima Allah adalah ketika seusai umrah ia mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Jika memiliki rezeki tak pelit berbagi dengan sesama manusia, jika ditimpa musibah jadi lebih sabar, dan memohon kepada Allah untuk dikuatkan batinnya.Saya dan jamaah lainnya memahami sekali bahwa umrah dan merupakan ritual yang tidak dilakukan setiap hari. Oleh karena itu, umrah merupakan momen paling tepat untuk introspeksi diri. Ketika melihat langsung Baitullah di depan mata, banyak jamaah yang menitikkan air mata. Saya dan teman-teman berbaur dengan jutaan manusia, dengan tujuan yang sama, yakni untuk memohon rida Ilahi Rabbi.

Baju ihram putih adalah simbol berserah diri sebagai makhluk-Nya. Tidak ada yang mengenakan pakaian berwarna meski jamaah umrah datang dari seluruh penjuru dunia. Semua sama perlakuannya dan tidak dibeda-bedakankan antara yang miskin dan yang kaya. Semua sebagai pengingat bahwa di hadapan Allah yang membedakan kita hanyalah iman dan takwa.

Perjalanan jauh yang harus ditempuh terkadang menjadi momen khusus untuk introspeksi kesalahan di masa lalu agar tidak mengulang dosa yang sama di kemudian hari. Saat sai, misalnya, akan terkenang perjuangan Hajar ketika mengupayakan air untuk si kecil Ismail, sementara kita mungkin tidak menghargai nikmat yang diberikan tanpa syarat.

Hikmah umrah lainnya adalah jalinan ukhuwah atau persaudaraan sesama Islam sangat terjaga. Berbagai mazhab hadir untuk satu ritual yang sama, tetapi hukum fikihnya mungkin sedikit berbeda. Namun, perbedaan yang demikian tidak menjadi sumber kericuhan dan sesama jamaah saling menghargai satu sama lain. Ketika shalat berjamaah mungkin banyak perbedaan terkait fikih gerakan shalat antara jamaah yang berbeda mazhab, tetapi semua patuh pada satu imam yang menjadi pemimpin shalat di Baitullah.

Tantangan dalam melakukan umrah ialah kita dilatih untuk bisa bersabar. Saat beribadah bersama jutaan muslim seluruh dunia maka harus membiasakan budaya antre agar selalu tertib dan tidak terjadi kericuhan. Jangan hanya karena berebut melempar jumrah atau mencium Hajar Aswad maka harus mengorbankan sesama jamaah dan menghalalkan segara cara. Sabar dan disiplin dibutuhkan untuk menghormati hak jamaha umrah yang lain. Di Tanah Suci, ketika umrah dan haji kesabaran seorang muslim benar-benar diuji.

Yang memberatkan bagi saya saat berumarah kali ini adalah cuaca di Mekkah yang cukup panas, suhunya mencapai 37 oC di waktu pagi, kemudian suhu berangsur-angsur meningkat hingga mendekati angka 50 oC. Akibatnya, kulit menjadi kering bersisik keputih-putihan, bibir kering, bahkan hampir mimisan. Tetapi hal ini dapat saya atasi dengan mengurangi berada di daerah luar yang langsung terpapar sengatan panas matahari. Selain itu, saya juga menyemprotkan air ke wajah menggunakan botol spray dengan tujuan untuk menyejukkan wajah.

Di samping itu, saya juga harus mengatur manajemen waktu. Saya berusaha agar dapat shalat berjamaah lima waktu di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram. Untuk mendapatkan posisi shalat di dalam masjid seluruh jamaah harus datang lebih awal dikarenakan jumlah jamaah yang berjuta-juta orang dari seluruh penjuru dunia. akibatnya waktu istirahat atau jam tidur hanya sekitar dua jam saja demi melakukan ibadah semaksimal mungkin.Tentu saja, semua tantangan ini bisa kita lalui jika kita ikhlas beribadah kepada Allah. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dinyatakan bahwa suatu umrah ke umrah lainnya mampu menghapuskan dosa antara keduanya. Haji yang mabrur dijanjikan ganjarannya adalah surga. Maka hikmah umrah terbesar adalah pengampunan dosa bagi yang sungguh-sungguh melaksanakan ritualnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved