Home »

Opini

Opini

Haji dan PKA

SAAT tombol pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7, ditekan oleh Presiden ke-7, Ahad (5/8/2018) malam

Haji dan PKA
ANADOLU AGENCY/EMRAH YORULMAZ
Calon jamaah haji Turki menunggu proses keberangkatan ke Arab Saudi, di Bandara Internasional Sabiha Gokcen di Istanbul, Turki, Rabu (18/7/2018). Ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. 

Oleh Muhammad Yakub Yahya

SAAT tombol pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7, ditekan oleh Presiden ke-7, Ahad (5/8/2018) malam, di Stadion Lhong Raya, Banda Aceh, dua kloter (kelompok terbang) Jamaah Calon Haji (JCH) Aceh, sudah berada di Makkah al-Mukarramah. Mereka telah duluan meninggalkan Asrama Haji Aceh, di kawasan Peurada, Banda Aceh. Hanya terpaut sekitar 500 meter di arah timur Taman Sri Ratu Safiatuddin, anjungan utama PKA, bekas pasi, tandon, atau tambak (neuheun) itu.

Sementara itu, pada malam pembukaan PKA, jamaah Kloter 3 yang menunaikan Rukun Islam kelima, sedang mengikuti upacara pelepasan di Asrama Haji Aceh. Saat yang sama, ketika jamaah terima gelang identitas, pengembalian biaya hidup (living cost) masing-masing jamaah sebesar 1.500 Riyal Saudi, biaya gantian pembuatan paspor, kartu Baitul Asyi, paspor bervisa, dan lainnya, di arena sana ceritanya, 1.100 penari sedang menari di Harapan Bangsa. Tarian massal multietnik di Aceh itu, dibawakan dan dilestarikan guna menjaga marwah tanoh pusaka (kata penyair), dan tanoh aulia (kata majelis zikir) yang mulia ini.

Subuhnya, saat penari dan penonton yang mungkin belum bangun, Dhuyufurrahman (Tamu Allah Yang Maha Pengasih), lagi boarding pass, dan Boeing 777, maskapai Garuda Indonesia (yang dicikal-bakalkan saudagar Aceh tempo doeloe itu) pun, take off menuju Bandara King Abdul Aziz Internationl Airport (KAAIA) Jeddah. Butuh sekitar tujuh jam, burung besi putih lintasi awan Asia Selatan, langit Samudera India, dan udara Asia Barat, baru kemudian ahli famili dan kerabat, biasanya bisa kembali terima kabar; jamaah sudah tiba di Negeri Nabi.

Setelah setengah hari lebih, pengantar tadi telah lelah lambaikan tangan tanda pamitan, dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, lalu bersua kembali, dalam jaringan (online), yang jamaahnya, yang diulang-ulang peusijuek bulan lalu, kini seakan ada di rumah sebelah. Kloter perdana, yang dilepaskan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, diisi oleh jamaah penghasil keureupuk mulieng, Pidie. Kloter kedua diisi jamaah Bireuen dan Kota Langsa, daerah keuripep pisang, serta kecap dan terasi.

Jamaah Aceh masuk gelombang kedua, yang ke Mekkah dulu sejak Zulkaidah ini, akan kembali dengan oleh-oleh (zam zam, manisan, kismis, kurma, buah tasbih, peci, cerek kuning, dan celak Arab), pada Muharram/September depan, dari Madinah. Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah, ialah tiga bulan haji. Butuh sekitar 40 hari, jamaah ibadah dan ziarah di Mekkah, lalu ke Madinah.

Saat Tahun Baru 1 Muharram 1440 H, baru 12 kloter Aceh ini, ziarah dan ibadah di Kota Nabi. Masa sekitar 10 hari di Madinah, dan sekitar 30 hari di Makkah itu, sungguh singkat sekali. Sekeras apa pun hati ini, rindu ingin kembali, dan berkali-kali. Indahnya jika bapak/ibu, selama di Mekkah, dan nanti setiba di Serambi Mekkah ini, juga layaknya orang berhaji: suci dan diteladani niatan, omongan, pakaian, pandangan, tontonan, makanan, lingkungan, dan kemurahannya.

Namun, memadailah 10 hari, untuk sebuah even piasan dan lakon budaya, sebab ada even sublevel, sublokal lainnya, yang bernuansa reusam dan budaya. Asalkan, masjid dekat arena PKA, seperti Masjid Oman/Masjid Al-Makmur, betul-betul makmur, bukan hanya “makmur” isi kamar mandi dan sampahnya. Pengunjung, belajarlah pada tetangga kita, yang dekat dengan masjid, yang kini mungkin menyesal, lantaran dekat kediaman dengan masjid, tapi malas berjamaah ke masjid.

PKA atawa “Peukan Reusam Aceh” (kata satu literatur budaya Aceh), beberapa kali sejadwal dengan musim haji, juga PKA ke-6 September 2013 (1434 H), itu saat Presiden SBY (periode kedua jabatannya) dan Gubernur Zaini Abdullah dan Wagub Muzakkir Manaf. Kata iseng kawan, di kantin Asrama Haji, memang jika PKA pas musim haji, ada keuntungan bagi keluarga jamaah haji; sambilan antar jamaah haji ke Kutaraja, bisa sekalian saksikan aneka piasan, baik di dekat Asrama Haji (Taman Ratu Safiatuddin), maupun di Blang Padang, Stadion Harapan Bangsa, Lapangan Tugu Kopelma, Krueng Lamnyong, dan lainnya.

Meskipun tidak sedikit duit terkuras untuk sekadar sambilan itu, hitung-hitung buat hiburan, bolehlah sesekali. Meski berutang pada tetangga. Jika haji, tradisi para nabi dulu, di poros bumi (Mekkah) itu, buat seumur hidup, bagi kita yang istitha’ah, PKA itu ada banyak kesempatan, ada lima tahun sekali, tak mesti ke Banda. Pokoknya bisa ke Banda, mengantar jamaah, padahal mau lihat PKA, itu pun mungkin dalih remaja kita. Berdiri pun boleh, asal sampai ke ibu kota. “Jak lom u Banda, dong pih jeuet,” sindir kawan yang duluan ke kota, saat ketahuan rekan sekampungnya sudah di kota, yang tak kantongi cukup uang, dan tak ada tempat bermalam, misalnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help