PKA 7

Kitab Gempa dan Uji Baca Manuskrip Kuno

Puluhan pelajar dan mahasiswa mengikuti uji kemampuan membaca manuskrip kuno di Museum Aceh

Kitab Gempa dan Uji Baca Manuskrip Kuno
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid menyerahkan hadiah untuk peserta yang mampu membaca manuskrip kuno dengan baik. Meskipun datang dengan menggunakan kursi roda, salah satu peserta ini tetap semangat mengikuti lomba. 

BANDA ACEH - Puluhan pelajar dan mahasiswa mengikuti uji kemampuan membaca manuskrip kuno di Museum Aceh, Banda Aceh. Lomba diselenggarakan Rumoh Manuskrip Aceh bekerja sama dengan Bank Aceh Cabang Banda Aceh.

Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid atau disapa Cek Midi kepada Serambi mengatakan, manuskrip kuno yang dilombakan itu ditulis dengan Arab Melayu (Jawi), pesertanya berasal dari pelajar SMP, pelajar SMA, dan mahasiswa.

Untuk mahasiswa diuji membaca manuskrip berisi syair Hamzah Fansury, tingkat SMA membacakan Masailal Muhtadi, sedangkan tingkat SMP membaca naskah Bidayah.

Cek Midi mengatakan, lomba baca manuskrip kuno guna melestarikan kemampuan generasi muda membaca naskah bertuliskan Arab Melayu (Jawi). Karena saat ini semakin sedikit yang memiliki kemampuan membaca manuskrip kuno itu.

“Lomba ini untuk membangunkan kembali khasanah budaya Aceh, terutama bahasa yang sudah digunakan oleh leluhur Aceh dulu. Dulu Arab Melayu ini menjadi bahasa kesultanan, bahasa pengajian, dan bahasa diplomasi, tapi tahun 70-an penggunaanya mulai hilang karena tidak diajarkan lagi,” ujar Cek Midi.

Menurutnya, saat ini kebanyakan yang mampu membaca manuskrip atau kitab Arab Melayu adalah kalangan orang dewasa, sedangkan kalangan anak muda dan remaja sangat sedikit. Sehingga jika tidak diajarkan dan dilestarikan ke generasi selanjutnya, maka kedepan akan terputus generasi yang mampu membaca.

Dalam pameran sejarah itu, Rumoh Manuskrip Aceh memamerkan sejumlah manuskrip kuno, beberapa diantaranya merupakan karya ulama-ulama besar Aceh seperti Syeikh Abdul Rauf Al Singkili, Nurrudin Ar Raniry, dan Hamzah Al Fansury, termasuk ktab kuno Aceh abad 18 membahas tentang gempa.

Mengutip isi kitab, Cek Midi mengatakan, “Jika pada Bulan Dzulkaidah gempa ketika magrib alamat orang kaya banyak mati.” Maksud dari kalimat itu adalah, akan banyak orang yang meninggal akibat gempa.

Cek Midi juga membacakan gempa yang terjadi di waktu-waktu lainnya. Bahkan, gempa dengan disusul tsunami yang terjadi di Aceh pada Minggu 26 Desember 2004 silam dalam waktu dhuha (pagi) juga tertera di kitab tersebut.

“Jika pada bulan Dzulkaidah gempa, pada ketika subuh alamat segala buah-buahan menjadi dalam pohon itu. Jika pada ketika dhuha alamat bala akan datang kepadanya tsunami. Jika ketika zuhur alamat hujan sangat akan datang kepadanya. Jika ketika ashar alamat baik negeri itu padanya. Jika pada jika pada ketika magrib alamat orang kaya banyak mati. Jika pada isya alamat orang yang dari jauh akan datang ke negeri itu padanya,” jelas Tarmizi yang mengenakan kopiah warna merah.

Tarmizi A Hamid, mengatakan, Indonesia memang daerah yang rawan akan gempa. Semuanya tertera dalam kitab-kitab kuno miliknya. Kita tersebut ditengarai ditulis oleh ulama esuai dengan peristiwa yang terjadi.

“Jadi dengan adanya manuskrip gempa yang begitu lengkap, begitu detil, berarti negara kita ini dikepung oleh bencana atau rentan dengan bencana,” kata Tarmizi.(mun/fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help