Opini

Kurban Kaum Hipokrit

SECARA historis, kurban telah diproklamirkan sejak kenabian Adam as. Habil dan Qabil merupakan dua anak nabi Adam as

Kurban Kaum Hipokrit
IST
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Langsa saat penyerahan 87 ekor hewan kurban kepada 40 gampong 

Oleh Adnan

SECARA historis, kurban telah diproklamirkan sejak kenabian Adam as. Habil dan Qabil merupakan dua anak nabi Adam as yang menjadi proklamator kurban. Kurban merupakan solusi dan perintah mediasi Ilahi dalam kisah perebutan kekasih keduanya. Di mana saat itu syariat menikah dengan pola kawin silang, yakni Habil menikah dengan Iqlima (kembaran Qabil), dan Qabil menikah dengan Labuda (kembaran Habil). Tapi, Qabil bersikeras enggan menikahi Labuda, karena menurutnya Labuda tidak secantik dan semolek Iqlima. Alhasil perseteruan heroik itu tak berujung, hingga Allah Swt memerintahkan kepada mereka untuk melaksanakan kurban (QS. Al-Maidah: 27). Rumusnya adalah siapa yang kurbannya diterima ia akan menikahi Iqlima. Perintah itu pun mereka laksanakan.

Habil yang berprofesi sebagai pengembala, ia mengurbankan ternaknya. Sedangkan Qabil yang berprofesi sebagai pekebun, ia mengurbankan tumbuh-tumbuhan hasil kebunnya. Akan tetapi, Allah Swt hanya menerima kurban Habil, dan menolak kurban Qabil. Alasannya, Habil mempersembahkan kurban terbaik dan dilandasi keinginan luhur serta keikhlasan. Adapun Qabil hanya mempersembahkan kurban seadanya, alakadar, tanpa disertai keinginan luhur dan keikhlasan. Sehingga secara syariat Qabil harus menikahi Labuda. Namun Qabil tetap bersikeras hanya ingin menikahi Iqlima meski kurbannya ditolak. Hingga perseteruan ini diakhiri dengan peristiwa pembunuhan, yakni Qabil membunuh Habil (QS. al-Maidah: 28-29).

Perilaku hipokrit
Kisah di atas menunjukkan bahwa Qabil merupakan seorang hipokrit. Ia berkurban hanya seadanya dan sekedarnya, bukan mempersembahkan yang terbaik, dan tidak dilandasi dengan keikhlasan. Maka kurban kaum hipokrit tidak akan diterima oleh Allah Swt. Kurbannya hanya dipergunakan untuk kepentingan duniawi. Berkurban hanya untuk menarik simpatik rakyat di saat musim pemilu. Tujuan kurbannya hanya untuk mendongkrak elektabilitas, biar disebut dermawan, peduli, dan peka terhadap konstituen. Padahal, Allah Swt berpesan agar setiap kebaikan yang diperbuat hanya semata untuk berharap memperoleh ridha-Nya, bukan untuk kepentingan duniawi, koalisi, simpati, dan menyombongkan diri.

Artinya, kurban kaum hipokrit hanya berisi kemunafikan, kepura-puraan, dan kepalsuan. Kaum hipokrit tidak sadar bahwa Allah Swt mengetahui setiap isi hati makhluk-Nya (QS. al-Fathir: 38). Akibatnya, kurban yang penuh kepura-puraan itu ditolak mentah-mentah oleh Allah Swt seperti ditolaknya kurban Qabil. Bukan hanya itu, setiap ucapan dan tindakan kaum hipokrit seluruhnya berorientasi kepura-puraan dan kepalsuan. Perhatikan saja, mereka hanya datang menjenguk konstituen lima tahun sekali. Hanya mengandalkan sembako dan janji palsu, mereka datangi rumah-rumah fakir miskin. Hari itu seakan-akan mereka orang paling peduli dan peka terhadap nasib rakyat jelata. Padahal, semua itu hanya tindakan-tindakan yang penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan.

Sebab itu, kurban mengajarkan tentang keikhlasan, kejujuran, dan keluhuran. Bukan darah, dan bukan daging hewan kurban yang sampai kepada Allah Swt. Tapi yang sampai kepada Allah Swt hanyalah ketakwaan, keikhlasan, dan keluhuran, sebagaimana firman-Nya, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj: 37). Maka kurban kaum hipokrit akan ditolak oleh Allah Swt.

Di sisi lain, Nabi Ibrahim as merupakan teladan dalam berkurban dan berkehidupan. Ia telah meletakkan pondasi dalam berkehidupan, bahwa hidup bukan hanya untuk diri dan keluarga. Tapi, hidup juga untuk kepentingan bersama dan sesama. Nabi Ibrahim as telah menjadikan seluruh harta benda, kekayaan, dan tenaga untuk bermanfaat kepada orang lain. Sebab, Nabi Ibrahim as menyadari bahwa tahta, kekayaan, keturunan, merupakan anugerah dan nikmat yang diberikan Allah Swt kepadanya. Maka seluruh nikmat yang melekat pada dirinya dipersembahkan kepada Allah Swt semata, sehingga malaikat pun kagum melihat nabi bergelar Khalilullah ini.

Bahkan, Nabi Ibrahim as bukan hanya sekadar ikhlas mengurbankan ternaknya. Tapi, anak kesayangannya, bernama Ismail as, pun rela ia persembahkan kepada Allah Swt. Tatkala Ismail as sudah berusia remaja, datanglah perintah Allah Swt kepada ayahanda. Berkali-kali wahyu didatangkan oleh Allah Swt melalui mimpinya. Hingga Nabi Ibrahim as memastikan bahwa perintah itu datang dari Allah Swt, bukan dari setan. Lalu, ia memutuskan untuk mengurbakan Ismail as. Rencana yang tulus dan orientasi yang jelas itu pun mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt kepada keduanya, hingga Ismail as digantikan dengan seekor kibas yang besar sebagai sembelihan Nabi Ibrahim as (QS. ash-Shaffat: 99-111).

Kisah ini mengajarkan tentang ketaatan, kejujuran, dan keikhlasan akan mendatangkan kebaikan dan kemuliaan. Hipokrit selalu mendatangkan kemalangan, kekecewaan, dan malapetaka. Belum pernah tercatat dalam sejarah seseorang maju, berkembang, dan sukses dikarenakan hipokrit. Tapi, banyak orang tumbang dan hancur kariernya disebabkan perilaku hipokrit. Qabil, Qarun, Fir’aun, Namrudz, Abu Lahab, Abu Jahal, merupakan contoh kaum hipokrit yang dihinakan Allah Swt. Mereka hina disebabkan congkak, sombong, munafik, pura-pura, dan penuh dengan kepalsuan.

Pun, pejabat hipokrit tidak akan pernah ada di hati rakyat. Rakyat sudah lebih cerdas dalam memilah dan memilih antara siapa yang jujur dan hipokrit. Apakah membantu karena peduli atau membantu biar dipilih sebagai pejabat negara kembali. Maka teladan Nabi Ibrahim as hendaknya mampu mengubah seluruh elemen bangsa untuk terus melakukan pemajuan dan perbaikan bangsa, tanpa dikotori dengan perilaku hipokrit, berupa kemunafikan, kepura-puraan, dan kepalsuan. Mewabahnya korupsi di negeri ini disebabkan banyaknya para pejabat hipokrit yang mengurus negeri ini.

Agar tidak hipokrit
Maka kurban bukan sekadar ibadah ritual yang hanya bernilai sosiologis. Tapi, kurban ibadah yang bernilai teologis. Kurban diperintahkan bukan hanya untuk melatih simpati dan empati, namun kurban ingin mengangkat harkat dan martabat manusia agar tidak menjadi hipokrit. Karena hipokrit telah merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan beragama. Kadang beragama hanya di lisan, tapi hipokrit dalam tindakan. Pun, kadang beragama hanya secara simbolik, semisal memakai peci, sarung, baju koko, dan surban, namun penuh dengan kemunafikan, kepura-puraan, dan kepalsuan. Maka, banyak umat terdahulu di azab Allah Swt, semisal kaum ‘Aad, Tsamud, dan Sodom, disebabkan mereka kaum hipokrit.

Sebab itu, kurban merupakan momentum untuk melepaskan penyakit hipokrit pada diri setiap insan. Hipokrit bukan hanya menyebabkan ibadah ditolak oleh Allah Swt. Tapi, hipokrit telah menimbulkan kerusakan dalam kehidupan sosial, berbangsa, bernegara, dan beragama. Artinya, hipokrit sebuah perilaku yang dilaknat oleh penduduk langit dan dibenci oleh penduduk bumi. Kemunafikan, kepura-puraan, dan kepalsuan bukanlah karakter manusia sejati. Tapi, hipokrit merupakan perilaku setan yang diadopsi dalam kehidupan manusia. Jika hipokrit dapat dimusnahkan dalam diri pejabat negara, maka perbaikan dan pemajuan bangsa akan mudah digapai. Semoga!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved