Opini

Belajar dari Lombok dan Palu

HANYA selang empat bulan dua gempa dengan korban yang besar terjadi, 31 Juli 2018 melanda Lombok

Belajar dari Lombok dan Palu
Serambi Indonesia
Sembalun Bumbung, Titik Gempa Lombok yang Jarang Terekspos Media 

Oleh Teuku Dadek dan Muksin Umar

HANYA selang empat bulan dua gempa dengan korban yang besar terjadi, 31 Juli 2018 melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan 28 Sepetember 2018 terjadi pula di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, yang diikuti dengan tsunami. Di Indonesia ternyata dari satu bencana ke bencana berikutnya belum memberikan pelajaran optimal. Selalu saja menimbulkan banyak korban, apa yang berlaku di Gayo misalnya, seharusnya korban di Pidie Jaya tidak sebesar yang terjadi di Gayo.

Sepertinya setiap bencana di Indonesia punya romantika dan dramanya sendiri, korban selalu dalam jumlah yang fantastis, beda dengan di Jepang korban selalu bisa diminimalkan. Ingat! Gempa tidak membunuh, tetapi bangunan dan perilakulah yang membuat korban gempa terbunuh. Sedangkan tsunami, ketidak-tahuanlah yang membuat manusia terbunuh. Kata kuncinya adalah waspada dan keselamatan bukan sebuah kebetulan.

Peringatan dini
Apa pelajaran yang kita dapatkan dari kedua kejadian tersebut? Pertama, Sistem Peringatan Dini pada beberapa kasus bencana besar, terutama gempa menjadi crash, kacau atau tidak berfungsi, apalagi diikuti dengan tsunami. Pada kasus Palu dan Donggala pelajaran pertama adalah bagaimana terjadinya malpraktek Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam memberikan peringatan dini.

Tak kurang dari Anggota Komisi V DPR RI, Randy Lamadjido, menyebut banyak korban akibat tsunami juga terkait informasi yang disampaikan BMKG. Randy, yang merupakan putra asli Kota Palu, menuntut pertanggungjawaban pihak BMKG yang salah memberikan informasi kepada masyarakat, sehingga mengakibatkan puluhan orang tewas, terutama di daerah pesisir Kota Palu.

Randy menambahkan informasi itu ia dapatkan langsung dari sanak saudara yang tinggal di Kota Palu. Kata dia, awalnya masyarakat bersiap-siap menuju daerah aman di pegunungan, menyusul informasi akan terjadinya tsunami, setelah gempa reda. Namun, beberapa saat kemudian, pihak BMKG mencabut peringatan tersebut. Setelah 2-3 menit kemudian, ternyata tsunami benar-benar terjadi. Air laut naik menerjang masyarakat yang tinggal di daerah pesisir (Detik.com, 28/9/2018).

Dari situasi ini, kita dapat mengambil pelajaran pertama: Sebuah asas dalam evakuasi, jika terjadi gempa, Anda berada di dekat pantai dan gempa itu sangat terasa, jangan lagi menunggu peringatan dini dari BMKG atau siapa pun. Sebaiknya Anda harus menjauh dari pantai dan tidak perlu Anda mencari tahu sumber gempa tersebut di laut atau di darat. Sebaiknya Anda segera mencari tempat yang tinggi dan jauh dari laut.

Bupati Lombok Utara, Dr H Najmul Akhyar SH MH mengatakan kepada saya bahwa sebelum terjadinya gempa di Lombok pada 31 Juli 2018 lalu, sekelompok ahli gempa dari Jerman telah memasang sebuah alat di Lombok Utara. Alat tersebut akan berbunyi ketika gempa terjadi, konon katanya lima menit sebelum gempa. “Tapi kenyataannya saat gempa kemarin, alat tersebut tidak berfungsi,” kata beliau.

Dalam sistem peringatan gempa, sistem bunyi untuk memberikan peringatan kepada masyarakat terutama saat tidur juga sangat berguna. Namun, dalam hal gempa, masalah yang timbul pertama adalah banyak masyarakat di berbagai belahan Nusantara ini tidak mengetahui bahwa di tempat dia berpijak memiliki potensi gempa.

Ketidaktahuan itu dikarenakan mereka tidak mengalami gempa besar selama berpuluh tahun, sehingga mereka lupa akan sesar yang ada di kaki mereka. Akibatnya, mereka tidak menyadari bencana yang mengintai. Dalam menyikapi dan menghadapi bahaya gempa yang mengguncang, masyarakat setempat tidak memiliki tips dan dalam menjalankan roda kehidupan pun.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved