Pojok Humam Hamid
MSAKA21: Indrapurwa, Bayangan Kota Tua di Hutan Aceh - Bagian X
Maka Indrapurwa bisa dibaca sebagai “permulaan kota Indra,” kota suci pertama dalam kosmos Hindu di tanah Aceh.
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
Sejarah sering menyisakan teka-teki.
Ada yang hadir megah, utuh, menantang kita dengan wujud fisiknya seperti Borobudur di Jawa Tengah atau Angkor di Kamboja.
Ada pula yang hadir samar, hanya sebagai bisikan nama, sepotong legenda, atau reruntuhan yang tak lagi berbicara dengan jelas.
Indrapurwa di Aceh adalah salah satunya.
Nama itu menyiratkan kemegahan.
Indra sang dewa hujan, perang, sekaligus penjaga surga, sementara purwa berarti permulaan atau yang asli.
Maka Indrapurwa bisa dibaca sebagai “permulaan kota Indra,” kota suci pertama dalam kosmos Hindu di tanah Aceh.
Tetapi ironinya, justru “permulaan” ini kini berada di titik paling samar, lebih banyak bernafas sebagai legenda ketimbang bukti arkeologis yang solid.
Berbeda dengan Indrapuri yang masih menyisakan masjid berdiri di atas fondasi candi, atau Indrapatra yang memiliki benteng kokoh di pesisir, Indrapurwa tidak memberi kita tubuh fisik yang jelas.
Memang ada sebuah mesjid di ujung Barat Sumatra, di Ujong Pancu, Aceh besar, yang dinamakan Mesjid Indrapurwa.
Nampak memang ada sisa-sisa ukiran dan bentuk mihrab mesjid yang berbau Hindu.
Tak ada cerita yang tersedia atau mitos tentang Mesjid itu kecuali namanya Indrapurwa.
Sebagian menyebutnya peninggalan itu sebagai sisa-sisa struktur di pedalaman Aceh Besar, dekat jalur lama menuju pegunungan sekalgus lautan lepas.
Sebagian lain menganggap Indrapurwa hanya sebuah nama dalam kronik, mungkin bagian dari mitos raja-raja Hindu yang mendahului masuknya Islam.
Baca juga: Dari Aceh Untuk Indonesia dan Dunia: Ajarkan Sejarah Aceh Dalam Muatan Lokal di Sekolah
| Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian |
|
|---|
| Posisi Strategis Selat Malaka dalam Integrasi Jalur Energi dan Perdagangan Global |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita? |
|
|---|
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ahmad-Humam-Hamid-perang-tarif.jpg)