Mihrab

Lebuh Aceh, Masjid Saudagar Aceh

Jika warga Aceh datang ke Pulau Pinang, Malaysia, hampir dipastikan pernah melihat Masjid Lebuh Aceh

Lebuh Aceh, Masjid Saudagar Aceh

Jika warga Aceh datang ke Pulau Pinang, Malaysia, hampir dipastikan pernah melihat Masjid Lebuh Aceh. Sebab sudah menjadi land mark Kampong Aceh (Lebuh Aceh) dari kawasan bagian Malaysia tersebut.

Penabalan nama Aceh terhadap Lebuh Aceh ada maknanya. Sebab nun tahun 1792, Lebuh tersebut didirikan oleh Teungku Syed Hussain Al-Aidid, saudagar kaya dari Aceh keturunan Hadramaut, dan kerabat kerajaan Aceh. Kawasan yang dibuka oleh Kapten Sir Francis Light di penghujung abad ke 18, oleh Syed Hussain, dijadikan perkampungan Islam.

Sang Teungku kemudian membangun masjid dan madrasah Alquran. Kini dikenal sebagai Masjid Lebuh Aceh (Masjid Acheen). Masjid di ujung selatan George Town ini, termasuk masuk destinasi religi yang terkenal yang dikunjungi wisatawan lokal da internasional.

Masjid Lebuh dibangun dengan gaya arsitektur Moorish (perpaduan antara arsitektur Mesir Kuno, Cina, dan India), corak yang juga muncul pada Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Namun, kubahnya tidak berbentuk setengah lingkaran, melainkan beratap meru (atap susun bergaya hindu). Gaya arsitektur China tampak dari butiran abstrak naga di puncak dan sudut-sudut atap.

Untuk fasilitas wudhuk ada dua model. Keran air, dan di teras samping kiri masjid ada kulah air yang posisinya sedikit lebih tinggi dari lantai. Sebagian orang memilih berwudhu kulah (bak air). Serupa modelnya dengan kulah di Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar.

Ruang salat utama berbentuk segi empat. Terdapat tiang-tiang yang melekat pada tiga sisi dinding, enam tiang sebesar pelukan orang dewasa. Jarak antar tiang sekitar empat meter. Fasad (eksterior) bangunan dan menara masjid masih asli.

Masjid Melayu Lebuh Acheh yang tertua di Pulau Pinang ini, dibangun tahun 1808. Di komplek masjid terdapat pula menara bersegi lapan, kamar kecil, sumur, anjung dan kawasan makam yang mencerminkan gabungan pengaruh seni Moorish, dan China.

Aturan di masjid ini sama seperti aturan kita, yaitu dilarang pakai alas kaki, dilarang tidur di dalam masjid.

Ketika pendiri Masjid Lebuh berpulang ke Rahmatullah, ia dimakamkan di sebelah masjid, termasuk pusara kaum kerabatnya.

Pada puncak kejayaan Kampong Aceh, hingga akhir abad 19 dan awal abad 20, masjid ini sangat terkenal. Kalau sedang di kawasan masjid berkapasitas 500 jamaah ini, dari kejauhan minaret (menara) tunggalnya yang menjulang, bagai diapit oleh dua bangunan toko. Baiklah, ingat-ingatlah Pulau Penang dengan Masjid Lebuh Aceh nya. (*/dbs)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved