Opini

Waled Husaini dan Belokan Konservatif

KOTA Jantho adalah ibu kota Kabupaten Aceh Besar, satu wilayah yang dulunya sangat gigih mempertahankan kedaulatan Kutaradja

Waled Husaini dan Belokan Konservatif
Capture video
Wakil Bupati Aceh Besar Tgk H Husaini A Wahab (Waled Husaini) meluapkan kekesalannya terhadap para pedagang di Pasar Kota Jantho, karen tidak menutup dagangannya saat azan Zuhur berkumandang, Kamis (8/11/2018) siang. 

Oleh Al Chaidar

KOTA Jantho adalah ibu kota Kabupaten Aceh Besar, satu wilayah yang dulunya sangat gigih mempertahankan kedaulatan Kutaradja, ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam. Kegigihan itu, kini masih terlihat lewat aksi-aksi dan tindakan berani para penghuni wilayah yang penuh berkah ini. Sebuah gebrakan dilakukan oleh Wakil Bupati Aceh Besar, Teungku Haji Husaini Abdul Wahab, pada Kamis (8/11/2018) siang, saat azan Zuhur berkumandang. Namun banyak penghuni kota satelit itu masih saja abai dan melanjutkan hajatannya yang paling mendesak; makan siang.

Melihat situasi tersebut, Teungku Haji Husaini atau akrab dipanggil Waled Husaini pun langsung turun ke warung-warung tempat para “pendosa” masih asyik menyuap makanan ke perutnya. Dia mendatangani sejumlah warung di Kota Jantho dan meminta semua aktivitas dihentikan sejenak ketika azan Zuhur berkumandang. Aksi solo yang dilakukan Waled Husaini itu sambil mengapit rokok di antara jemarinya, dilakukan dalam rangka penegakan syariat Islam di wilayah Aceh Besar. Rokok adalah simbol kemerdekaan sekaligus simbol komando yang otonom. “Hei, tutup, tampakkan ciri orang Islam sikit, jangan seperti orang kafir. Tutup, tutup!” perintah Waled Husaini dalam bahasa Aceh yang khas dan penuh wibawa.

Media sosial ramai menyiarkan rekaman aksi heroik Waled Husaini ini. Meski tampak agak gusar, namun Waled Husaini tidak kasar dan tetap memperlihatkan wibawa keulamaannya. Dia hanya memperingatkan secara tegas, tidak memukul orang, tidak berkata kotor dan tidak menghancurkan properti warung. Ia hanya mencambuk meja dengan rotan kecil yang dibawanya. Semua netizen sangat kagum dengan aksi heroik ini.

Pun demikian dengan saya yang telah menjadi bagian dari masyarakat Aceh sejak lahir; ada kebanggaan dan rasa sukacita menyaksikan aksi heroik Waled Husaini ini. Dalam hati saya, dan juga saya yakin di hati banyak netizen lainnya, merasa bahwa Aceh masih beruntung ada orang-orang alim yang masih punya secuil kuasa di tangan sebagai umara (birokrat) dan berani menggunakan kuasa itu untuk membela agama, membela kalam Ilahi dalam sayup-sayub suara azan.

‘Conservative turn’
Fenomena tindakan heroik Waled Husaini itu mungkin bisa dijelaskan melalui theoretical framework antropologi sebagai conservative turn (belokan konservatif). Kejadian di warung nasi pada siang hari kamis yang penuh berkah tersebut adalah situasi teranyar yang menggambarkan betapa kekerasan (verbal dan fisik) atas nama agama adalah fenomena yang mengglobal di berbagai belahan dunia. Martin van Bruinessen (2013: 4) menjelaskan bahwa pendulum ideologi moderat dan liberal Islam sedang bergerak ke arah konservatif, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia lainnya, termasuk di Aceh.

Arus konservatisme keagamaan di Indonesia merupakan fenomena momentual yang sesungguhnya diawali sejak era reformasi (Bruinessen, 2011). Gejala konservatisme adalah situasi yang terfasilitasi melalui berbagai kesempatan: di media massa, media sosial, rumah ibadah, sekolah, lingkungan perumahan, ketetanggaan, dan ruang publik lain yang kerap menjadi sarana untuk diseminasi ide-ide konservatif. Karenanya, jika akhir-akhir ini kita menemukan gejala yang semakin menguat, maka hal tersebut sesungguhnya bukanlah sesuatu yang betul-betul baru terjadi.

Misalnya, kecenderungan banyak perempuan dan mahasiswi yang bercadar di kampus-kampus atau fenomena kaum menengah perkotaan yang ikut gerakan-gerakan membela ulama baik dengan cara demo atau membuat dan menyebarkan meme di media sosial; semua ini adalah belokan konservatif. Tidak ada persoalan ekonomi yang mendera mereka. Kehidupannya sungguh harmonis.

Pilihannya tersebut murni karena insentif surga yang akan diterimanya kelak jika mereka “syahid”. Ini adalah kasus yang menunjukkan bahwa memang ada dorongan yang bersifat keagamaan dan atas alasan itulah mereka melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Conservative turn adalah fenomena yang kompleks; ia tak semata berhenti sebagai masalah ideologi saja, tapi lebih rumit dari itu, ia menggambarkan sebuah situasi di mana di dalamnya ada kelindan dengan masalah ketidakadilan ekonomi dan politik global.

Fenomena razia warung makan di saat azan oleh Waled Husaini ini menggambarkan situasi Aceh yang semakin hari semakin bergeser dari etos Islami selepas bencana tsunami 2004. Martin van Bruinessen (2013) menyimpulkan bahwa the conservative turn does not mean that the liberal and progressive voices of the past have suddenly been silenced. Suara-suara liberal dan progresif kelihatannya semakin mendominasi adat Aceh dan ketika banyak ulama --dan kemudian karena proses demokratisasi-- tiba-tiba memegang kendali pemerintahan eksekutif, maka mereka seperti Waled Husaini berbelok ke konservatisme dalam setting sosial Aceh yang semakin sekuler.

Ketika kaum liberal dan progresif di Aceh dikuasai oleh para mantan kombantan, banyak kalangan kesulitan untuk mengelola dinamika keagamaan di Aceh yang penuh tarik-menarik antara kaum Wahabi dan kaum salafiyah tradisional. Namun, they had lost the power to define the terms of debate and had to leave the initiative to the conservatives and fundamentalists (Bruinessen, 2011). Maka semua karut-marut dinamika sosial Aceh yang semakin mengarah kepada kekacauan, semuanya diserahkan ke kaum konservatif untuk meluruskannya. Fenomena kehilangan kekuasaan para mantan kombatan yang agak kurang beriman ini kemudian tergantikan oleh munculnya kaum konservatif, yang telah lama mengasuh umat dari dayah-dayah dan rangkang tradisional di kampung-kampung yang nun udik dan jauh dari kemajuan teknologi.

Strategi ganda
Pemerintahan Aceh --yang sekarang dikuasai oleh kaum konservatif tradisional-- semakin merebak secara ideologis dan administratif dan mereka membuat program-program konservatif yang populis yang tentu saja disenangi masyarakat konstituennya.

Sementara itu, sejumlah kalangan elite modern Aceh, dan juga mantan kombatan yang agak kurang beriman, mereka melakukan strategi ganda: Pertama, selain tentu saja memperketat regimentasi hukum melalui barikade kepolisian dan militer, dan; Kedua, penguatan kelompok moderat Islam adalah cara kultural yang terus ditempuh, karena memang elemen ini sokoguru utama keberislaman di Indonesia, termasuk juga di Aceh.

Perebutan masjid-masjid yang berlangsung di hampir semua mukim dan kecamatan di Aceh adalah ekspresi tegas atas menangnya kaum konservatif, melawan ideologi dan jamaah transnasional dari Timur Tengah, seperti Wahabi dan beberapa aliran yang lain. Kekuasaan formal dan aliran baru tidak selamanya mampu memengaruhi masyarakat, nilai-nilai luhur dan terkadang usang justru lebih mampu menguasai dan mendisiplinkan rakyat.

* Al Chaidar, Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Email: alchaidar@unimal.ac.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved