Kupi Beungoh
Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan?
Kupiah meukeutop dan nama besar Aceh bukan sekadar simbol, melainkan ujian akal dan amanah: dijaga nilainya atau justru diam-diam dikecilkan?
Oleh: M. Shabri Abd. Majid
Di Aceh tanah yang dibangun oleh syariat, tradisi, dan jejak kesultanan simbol tidak pernah hadir tanpa makna.
Namun hari ini, kita semakin mudah mengenakannya, tetapi semakin ringan memikul amanahnya. Kupiah meukeutop diletakkan di kepala di titik tempat niat lahir dan keputusan diambil.
Pada saat yang sama, nama-nama besar ulama, sultan, dan pejuang ditabalkan pada kampus ruang yang seharusnya membentuk cara berpikir dan arah tindakan. Keduanya tampak sebagai simbol, padahal keduanya adalah ukuran.
Kupiah itu diam tetapi menguji kejernihan akal yang memakainya. Nama besar itu tidak berbicara tetapi menuntut apakah nilainya benar-benar dihidupkan.
Maka pertanyaannya menjadi tajam: apakah kita sedang menjaga amanah itu, atau diam-diam mengerdilkannya?
Apakah nilai itu hidup dalam cara berpikir dan keputusan kita, atau hanya berhenti sebagai nama yang kita banggakan?
Dan ketika kita memakainya di kepala atau pada institusi apakah kita benar-benar melanjutkan warisan itu, atau sekadar meminjam maknanya?
Akal, Warna, dan Amanah di Bawah Kupiah
Teuku Umar (1854–1899), pahlawan nasional dari Aceh, tidak hanya besar karena keberanian, tetapi karena kecerdikan akalnya.
Ia bukan sekadar panglima, melainkan ahli siasat memimpin gerilya dengan disiplin, membaca keadaan, dan menahan diri pada saat yang tepat.
Strateginya yang paling mengguncang tampak sebagai menyerah ketika ia masuk ke barisan Belanda.
Di mata luar itu tunduk; di baliknya, akal bekerja: membangun kepercayaan, menghimpun senjata dan logistik, memetakan kekuatan lawan lalu berbalik melawan dengan apa yang ia ambil dari musuhnya sendiri. Karena itu ia dijuluki The Fox of Aceh (Rubah Aceh) bukan karena licik, tetapi karena kecerdasannya berpihak.
Ia menunjukkan bahwa kemenangan tidak selalu berawal dari keberanian yang tampak, melainkan dari akal yang terjaga.
Namun yang membuat kecerdikannya bernilai bukan sekadar keberhasilan strategi, melainkan arah penggunaannya. Akalnya tidak dipakai untuk menguatkan diri di hadapan kekuasaan, tetapi untuk membela rakyat dari penindasan.
Ia berani bukan untuk tampil gagah, tetapi untuk meluruskan yang batil; ia menahan diri bukan karena lemah, melainkan karena tahu kapan bergerak dan untuk siapa berpihak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)