Senin, 27 April 2026

Pojok Humam Hamid

Posisi Strategis Selat Malaka dalam Integrasi Jalur Energi dan Perdagangan Global

Perdagangan tidak pernah benar-benar bebas dari kekuasaan, dan jalur perdagangan paling vital hampir selalu menjadi instrumen politik. 

Editor: Subur Dani
for serambinews
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Ada kecenderungan dalam analisis geopolitik modern untuk memperlakukan laut sebagai ruang netral - sebuah “jalan raya biru” tempat kapal-kapal bergerak mengikuti hukum penawaran dan permintaan seolah-olah dunia ini digerakkan oleh gravitasi ekonomi semata. 

Cara pandang ini terasa sederhana, rapi, dan meyakinkan. Namun pada dasarnya, ia keliru.

Sejarah menunjukkan hal yang lebih tidak nyaman. 

Perdagangan tidak pernah benar-benar bebas dari kekuasaan, dan jalur perdagangan paling vital hampir selalu menjadi instrumen politik. 

Dalam logika ini, Selat Malaka bukan sekadar selat. 

Baca juga: Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah

Ia adalah titik tekanan dalam sistem global - semacam katup sempit tempat arus energi dunia dipaksa melewati ruang geografis yang terbatas, sehingga menjadi sangat penting sekaligus rentan terhadap gangguan.

Yang membuatnya strategis bukan hanya volumenya, tetapi fakta bahwa jalur ini nyaris tidak tergantikan.

Katup-Katup Vital Perdagangan Dunia

Sebagian besar perdagangan laut dunia bergerak melalui kawasan Indo-Pasifik, dan arus energi dari Timur Tengah ke Asia Timur sangat bergantung pada Selat Malaka

Ini bukan kebetulan geografis, melainkan hasil dari struktur ekonomi global yang terbentuk setelah Perang Dunia II: Timur Tengah sebagai pemasok energi dan Asia Timur sebagai pusat industri. 

Keduanya dihubungkan oleh satu jalur sempit yang harus menanggung beban besar.

Namun Selat Malaka tidak dapat dipahami secara terpisah. 

Baca juga: Strategi Leher Botol - Choke Point: Thermopylae, Gallipoli, Ukraina, dan Hormuz

Ia merupakan bagian dari sistem choke point - jalur sempit yang harus dilewati banyak kapal sehingga sangat penting tetapi juga mudah terganggu - global yang lebih besar, bersama Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. 

Jika dunia maritim diibaratkan sebagai sistem peredaran, maka ketiga titik ini berfungsi sebagai katup yang mengatur aliran. 

Gangguan di satu titik dapat menjalar ke seluruh sistem.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved