Salam

Paket C, Bolehlah

Data dari Komisi Independen (KIP) memperlihatkan, dari 1.298 calon anggota (caleg) DPRA yang telah ditetapkan

Paket C, Bolehlah
TAUFIQ A RAHIM, Akademisi

Data dari Komisi Independen (KIP) memperlihatkan, dari 1.298 calon anggota (caleg) DPRA yang telah ditetapkan dalam daftar calon tetap (DCT), ternyata 705 adalah lulusan SMA/sederajat. Dan, dari 705 itu terbanyak adalah lulusan Paket C dan pesantren. Selain itu, 471 orang lulusan S1, 132 orang lulusan S2, dan lima orang penyandang gelar S3.

Paket C adalah bagian dari Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan, yaitu ujian yang diberikan kepada mereka yang nggak mengikuti pendidikan formal tapi ingin mendapatkan ijazah. Paket C, adalah untuk mereka yang ingin dapat ijazah setara SMA, paket B untuk pendidikan setara SMP, dan paket A untuk pendidikan setara SD.

Muhammad menjelaskan, banyaknya caleg Partai Aceh berijazah pesantren dan Paket C, karena partai pimpinan Muzakir Manaf alias Mualem itu mengajukan kuota penuh saat mendaftarkan calegnya, yaitu 120 persen di semua dapil. Sedangkan parlok lain tidak semua dapil ada calegnya.

Seorang Kimisioner KIP Aceh mengatakan, caleg berijazah Pket C dan Pesantren itu umumnya berasal dari Partai Aceh. “Karena, Partai Aceh merupakan peserta Pileg yang paling banyak mengajukan caleg. Mereka menggunakan kuota penuh,” katanya.

Terhadap fakta itu, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Aceh, Dr Taqwaddin Husein menyatakan bahwa kualitas pendidikan dengan kemampuan nalar memiliki hubungan yang cukup signifikan. Sebab, kualitas anggota DPR akan sangat mudah dilihat dari kualitas berpikirnya. “Semakin bagus kualitas pendidikan seseorang akan semakin andal daya nalar dan analisis orang tersebut untuk menyelesaikan permasalahan kehidupannya,” kata Taqwaddin.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh, Dr Taufiq A Rahim, mengatakan, bila pendidikan anggota dewan tidak jauh lebih baik dari seluruh rata-rata masyarakat, sangat dikhawatirkan akan banyak persoalan penting politik dan kebijakan kepentingan umum masyarakat tidak mampu diselesaikan dan diatasi dengan baik. “Saat ini, masyarakat sudah sangat memperhatikan pendidikan calon dalam menentukan pilihannya,” kata Taufiq.

Mendangar banyaknya caleg berijazah Paket C memang banyak kalangan yang menunjukkan sikap prihatin. Mereka yakin betul bahwa pemegang ijazah-ijazah lain lebih berkualitas dari para pemegang ijazah Paket C. Tidak salah beranggapan seperti itu, sebab dari banyak penelitian yang dilakukan oleh calon-calon sarjana S1 di sejumlah lembaga wakil rakyat tingkat kabupaten/kota, provinsi, bahkan DPR Pusat, memang telah menunjukkan ada pengaruh tingkat pendidikan dengan kinerja anggota dewan.

Pertanyaannya, apakah pengaruh itu seginifikan atau tidak? Inilah yang belum terjawab secara ilmiah. Cuma saja, -–ini bukan ingin “berdamai” dengan ketelanjuran-- kita ingin mengatakan bahwa sukses tidaknya seorang anggota lembaga legislatif tidak mutlak ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya, tapi kecerdasan emosional terkadang lebih menentukan perhatian seseorang terhadap kepentingan masyarakat. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved