Uighur Ditindas, Asean tak Berkutik

Direktur Amnesty International, Usman Hamid menyebutkan negara di Asia Tenggara (Asean) tidak berbuat banyak terhadap aksi penindasan

Uighur Ditindas, Asean tak Berkutik
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
Ratusan orang dari berbagai ormas Islam menggelar aksi solidaritas untuk muslim Uighur di Cina seusai shalat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh 

JAKARTA - Direktur Amnesty International, Usman Hamid menyebutkan negara di Asia Tenggara (Asean) tidak berbuat banyak terhadap aksi penindasan Cina terhadap etnis Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.

Dalam satu penjelasannya di Jakarta, dua hari lalu, Usman memaparkan beberapa alasan kenapa negara-negara Asen tidak aktif menyuarakan kecaman dan tidak bisa berbuat banyak terhadap penindasan yang dialami Muslim Uighur.

Menurut Usman, Cina adalah negara yang kuat secara ekonomi dan politik. Hal itu kemudian berpengaruh pada negara berkembang, khususnya di bagian Asia Tenggara. “Karena ekonomi politik Cina kuat, negara di Asia Tenggara tidak berdaya,” kata Usman Hamid sebagaimana dikutip dan dilansir IDN Times.

Dalam keterangannya, Usman memaparkan setidaknya lima alasan mengapa Asean tak bisa berkutik menghadapi aksi Cina terhadap bangsa Uighur.

Pertama, kata Usman, negara-negara di Asia Tenggara sering mendapat kemudahan ekonomi dari Cina. Akibatnya, dalam beberapa kasus mereka mengembalikan etnis Uighur yang mencari bantuan atau suaka di negara lain.

“Negara-negara di Asia Tenggara mau mengembalikan warga Uighur tanpa ada proses tertentu,” ucapnya.

Bentuk bantuan yang diberikan Cina ke negara Asia Tenggara bisa beragam. Seperti bantuan kapal selam, infrastruktur, dan lain-lain.

Berikutnya, lanjut Usman, Cina juga memberikan bantuan dalam bentuk uang untuk mengembalikan muslim Uighur, misalnya kepada Kamboja yang mengembalikan 20 orang Uighur ke Cina.

“Kamboja mendapat bantuan US$ 1,2 miliar untuk pembangunan dari pemerintah Cina,” ungkapnya.

Usman Hamid mempertanyakan bagaimana hubungan ekonomi Cina dan Indonesia. Ketika ditanyakan apakah pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan penindasan muslim Uighur di Cina merupakan masalah domestik berhubungan dengan ekonomi-politik Indonesia-Cina, Usman menjawab kemungkinan itu ada. Usman menunjuk pembangunan hidro dam di Batang Toru, Sumatera senilai US$ 1,6 miliar yang didukung oleh Bank of China.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved