Anak Krakatau Semakin Tinggi Membesar, Sedang Mengumpulkan Energi Baru untuk Meletus Kembali?
Hal ini mengkhawatirkan para ahli jikalau Anak Krakatau bakal mengikuti jejak mendiang orang tuanya, meletus hebat pada 27 Agustus 1883.
SERAMBINEWS.COM - Tsunami Banten/ Selat Sunda pada Sabtu (22/12) diduga karena longsornya material sedimen di sekitar Gunung Anak Krakatau di bawah laut.
BMKG juga mendeteksi anak Krakatau erupsi pada pukul 21.03 WIB dan mengakibatkan peralatan seismograf rusak.
Nyatanya, erupsi Anak Krakatau sudah terjadi saban hari sejak 29 Juni 2018.
Dikutip dari Geo Magz, Majalah Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau lahir pada 15 Januari 1929.
Ia lahir setelah 'orang tuanya' meletus pada tahun 1883 yang menewaskan 36 ribu jiwa.
Baca: Puisi Karya Sastrawan Taufiq Ismail Paling Banyak Diterjemahkan dalam Bahasa Asing
Baca: Suara Dentuman Misterius Meluas, Diduga Berasal dari Tengah Laut, BMKG Tak Bisa Pastikan Penyebabnya
Baca: BREAKING NEWS: Oknum TNI Penembak Letkol Dono Kuspriyanto Ternyata dalam Keadaan Mabuk
"Pada 20 Januari 1929, asap meniang keluar dari tumpukan material gunung api yang baru muncul di permukaan, yang mulai tumbuh dari kedalaman laut 180 m. Itulah gunung yang baru lahir yang diberi nama Gunung Anak Krakatau. Anak gunung api ini tumbuh 4 m per tahun dan mempesona banyak orang," demikian adalah pernyataan yang ditulis dalam majalah milik Kementerian ESDM itu.
Sejak muncul ke permukaan laut, kini pertumbuhan Anak Krakatau terbilang cepat.
Selama 80 tahun, pada 2010 saja tingginya sudah mencapau 320 meter dpl.
Estimasi pertumbuhannya mencapai 4 meter pertahun.
Hal ini mengkhawatirkan para ahli jikalau Anak Krakatau bakal mengikuti jejak mendiang orang tuanya, meletus hebat pada 27 Agustus 1883.
Baca: Dampak Longsor, Banyak Turis Batalkan Kunjungan ke Takengon
"Melihat pertumbuhan kerucut Gunung Anak Krakatau yang sangat cepat, semakin tinggi dan besar, maka bencana seperti yang pernah terjadi pada 1883 letusan dapat terulang kembali. Meskipun demikian, besarnya tubuh suatu gunung api bukan penentu besarnya ancaman bahaya yang akan terjadi. Ancaman itu meskipun masih jauh di depan mata, tetapi apabila hal tersebut benar-benar terjadi, maka bencana itu akan melanda kawasan Selat Sunda," demikian laporan yang tertulis dalam majalah tersebut.
Sedangkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho pada Agustus 2018 pernah menyebut gunung Anak Krakatau sedang dalam masa pertumbuhan.
Dengan kata lain Anak Krakatau masih terus aktif, tumbuh membesar dan erupsi.
Namun Sutopo menyebut letusan Anak Krakatau tak akan meletus sebesar orang tuanya pada 1883.
"Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan ibunya yaitu Gunung Krakatau pada 1883. Bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi tidak perlu dikhawatirkan," tegasnya saat itu.
Baca: 10 Bencana Alam Paling Banyak Menelan Korban Jiwa Sepanjang 2018, 2 dari Indonesia
Baca: Pemkab Bireuen Gelar Doa Bersama di Desa yang Hancur Total Akibat Diterjang Tsunami 14 Tahun Lalu
Baca: Prabowo Berdoa dan Ziarah Kuburan Massal di Siron Sebelum Hadiri Acara Haul Tsunami di Lampulo