Opini

Mengapa Harus Imunisasi Difteri?

RENDAHNYA cakupan imunisasi di Aceh, menunjukkan upaya pencegahan penyakit menular berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah

Mengapa Harus Imunisasi Difteri?
PETUGAS medis melakukan imunisasi MR (campak dan rubella) pada seorang anak di Posyandu Desa Kuta Padang, Meulaboh, Aceh Barat, Senin (15/10). 

Oleh Iskandar Muda Ramli

RENDAHNYA cakupan imunisasi di Aceh, menunjukkan upaya pencegahan penyakit menular berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah dengan program imunisasi pemerintah, ternyata kurang mendapatkan perhatian serius dari sebagian masyarakat Aceh. Sejauh ini, cakupan imunisasi atau UCI (Universal Child Immunization) di Provinsi Aceh sebesar 67,6%. Jadi, tidak mengherankan kalau Aceh dinyatakan sebagai satu provinsi Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri. Padahal pemerintah sudah menjamin keamanan dan menggratiskan biaya imunisasi yang dapat diperoleh di puskesmas, posyandu, dan rumah sakit pemerintah.

Pemberian imunisasi sangat penting bagi anak, termasuk anak-anak Aceh, agar mereka terlindungi dan terhindar dari risiko ganasnya berbagai jenis penyakit menular yang berpotensi menyebabkan kecacatan ataupun kematian. Berbeda dengan beberapa provinsi di bagian timur Indonesia yang cakupan UCI-nya juga rendah, karena terkendala faktor akses dan fasilitas, cakupan UCI di Aceh malah terkendala karena masyarakat Aceh banyak yang ragu-ragu, menunda, atau bahkan menolak mengimunisasi anak-anak mereka hanya karena terpengaruh informasi hoax mengenai vaksin.

Bahayanya difteri
Perlu dicamkan bahwa penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) termasuk salah satunya difteri, merupakan penyakit sangat berbahaya, mudah menular, dan dapat menyebabkan kematian. Jadi bisa fatal kalau tidak melakukan imunisasi. Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh menyebutkan bahwa 112 masyarakat Aceh telah terjangkit penyakit difteri pada 2017 lalu dengan korban meninggal dunia sebanyak lima orang. Prevalensi tersebut menempatkan Aceh sebagai wilayah peringkat kedua terparah KLB Difteri di Indonesia.

Bahaya penyakit difteri dikarenakan Corynebacterium diphteriae (bakteri penyebab penyakit difteri) menghasilkan toxin yang highly toxic (sangat beracun) dan lethal (dapat mematikan). Hanya dalam hitungan beberapa hari, racun ini sudah dapat menyerang bagian-bagian tubuh yang sangat vital seperti saraf, saluran pernafasan, dan jantung. Sebagai contoh, racun yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae ini mampu menyebabkan peradangan berat pada saluran pernafasan atas yang dapat menyebabkan penderitanya mati lemas.

Selain itu, racun yang dilepaskan bakteri tersebut juga memicu terjadinya peradangan pada organ jantung yang dapat mengakibatkan detak jantung menjadi tidak normal, bahkan gagal jantung pada penderitanya. Hanya dalam hitungan hari, penyakit difteri berpotensi menyebabkan kematian pada tubuh yang terjangkit. Lalu, apakah orang tua masih ragu, menunda, bahkan menolak memberikan imunisasi kepada anak-anaknya, guna melindungi si anak dari terjangkit penyakit yang mematikan ini?

Meskipun mudah menular, berbahaya, dan dapat mengancam nyawa, difteri sebenarnya merupakan penyakit yang relatif mudah untuk dicegah. Pemberian imunisasi merupakan metode yang simpel, aman, gratis, dan tentunya paling efektif dalam memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit mematikan ini.

Perlu diketahui bahwa, penyelidikan dari Dinas Kesehatan Aceh mendapatkan fakta bahwa penduduk Aceh yang terjangkit penyakit difteri pada tahun 2017 ternyata disebabkan karena tidak pernah melakukan imunisasi atau tidak melakukan imunisasi difteri secara lengkap. Total 95 persen korban ternyata tidak pernah sama sekali melakukan imunisasi difteri. Adapun, lima persen sisanya disebabkan karena tidak melakukan imunsasi difteri secara lengkap.Berdasarkan penyelidikan tersebut terbukti bahwa tidak ada atau nol persen masyarakat yang diimunisasi secara lengkap terkena penyakit difteri.

Kementerian Kesehatan mengatur bahwa pemberian Imunisasi difteri wajib dilakukan sebanyak lima kali. Pertama, diberikan sejumlah tiga dosis imunisasi dasar pada bayi. Kedua, dilanjutkan dengan satu dosis imunisasi tambahan pada saat bayi berumur 18 bulan. Ketiga, diberikan satu dosis imunisasi lanjutan pada saat anak kelas 1 SD. Keempat, satu dosisimunisasi lanjutan diberikan pada saat anak kelas 2 SD. Kelima, satu dosis imunisasi lanjutan yang diberikan pada saat kelas 5 SD.

Melawan mikroba
Ketika mikroba masuk ke dalam tubuh, sel-sel limfosit meresponsnya dengan memproduksi banyak antibodi. Antibodi-antibodi ini bertugas melawan mikroba tersebut dan melindungi tubuh dari meluasnya infeksi yang disebabkan oleh serangan mikroba. Tubuh yang sehat bisa memproduksi miliaran antibodi dalam sehari sehingga mampu menghancurkan agen-agen penyakit dan menjaga tubuh tetap sehat.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved